Hari ini saya bersyukur karena mendapat kesempatan yang sangat terhormat untuk hadir pada jamuan makan siang bersama duta besar Perancis, Yang Terhormat Corinne Breuzé di kediamannya yang biasa disebut Résidence de France. Pembahasan pertemuan ini adalah mengenai "Jazz dan Industri Musik" bersama pihak perwakilan Perancis terutama tim atase kebudayaan. Disitu jugalah betapa saya menyadari bahwa Perancis merupakan stake holder besar di industri musik global. Saya dan atasan saya mewakili Universal Music Group yang merupakan milik raksasa media Vivendi dan berbasis di Perancis. Hadir juga perwakilan Daily Motion, sebuah platfor video streaming yang 90% sahamnya dimiliki Vivendi. Dari ranah musik streaming ada perwakilan salah satu streaming service terbesar di dunia, Deezer yang juga perusahaan Perancis. Perwakilan Believe Digital, sebuah perusahaan penyedia layanan musik digital besar yang banyak bermain di segmen indie juga ada diantara tamu undangan. Believe Digital juga perusahaan asal Perancis. Semua kekuatan yang cukup besar kan?
Selain membahas industri musik, jamuan makan siang yang mengundang pelaku industri musik dari berbagai sektor ini juga untuk menyambut dan mengenalkan musisi asal Perancis, Vincent Peirani dan Emile Parisien. Keduanya adalah peraih penghargaan musik tertinggi di Perancis, La Victoire Du Jazz 2015. Mereka menggelar pertunjukan di Institut Français d'Indonésie (IFI) malam ini.
Usaha semacam ini menjadi menarik, karena berhubung saya berkutat di bidang musik internasional, sudah beberapa kali mendapat undangan serupa dari pihak kedutaan lain. Pertanyaan besar yang muncul di benak saya adalah apakah kedutaan Indonesia juga melakukan hal serupa di luar negeri? Apakah musisi jazz asal Indonesia yang sering malang melintang di festival internasional mendapat kesempatan semacam ini? Berdiskusi dengan pelaku industri musik di negara lain dengan difasilitasi KBRI. Saya rasa jika berkaitan dengan elemen musik tradisional, hal ini bukan sesuatu yang baru. Namun diplomasi untuk menembus pasar musik di luar negeri harus diperhatikan. Banyak hal yang saya pelajari dari berinteraksi dengan pelaku industri musik di luar negeri. Dari hal sesederhana etos serta sistem kerja hingga model bisnis, penanaman modal dan peran pemerintah. Betapa bagusnya jika duta musik tanah air yang keluar negeri bisa menimba ilmu dari diskusi semacam itu. Bayangkan artis seperti Burgerkill yang dielu-elukan penggemar musik cadas di Eropa bisa menulari berbagai jagoan genre lain. Indonesia tak kalah dari segi kreatifitas dan kualitas karya. Sungguh mereka punya tempat di pasar global.
Saya memang tak punya dasar ilmu hubungan internasional dan tak paham betul mengenai istilah-istilah diplomasi. Saya hanya pelaku industri musik yang sepenuhnya yakin bahwa musik kita tak kalah dengan negara lain. Bantuan fasilitasi diskusi industri musik bisa jadi pintu pertama kita. Karena itulah lewat tulisan ini saya ketuk para juru kunci di KBRI untuk bukakan pintu. Betapa bangganya kan jika suatu hari poster White Shoes & The Couples Company, Bara Suara, Shaggy Dog terpasang di dinding-dinding kamar di berbagai benua.
Selain Amerika Serikat dan Inggris, Korea Selatan juga sukses besar dalam mengekspor musik, begitu juga Perancis, Australia, Jepang, Jamaika dan Swedia. Apakah negara tersebut memberikan tempat bagi musik dalam kegiatan diplomasinya? Bisa jadi.
Jika ada staf Kemenlu yang membaca tulisan ini, anggaplah ini sebagai usul.