Monday, December 16, 2013

Sebuah Renungan tentang Etos Kerja

Minggu ini, sebuah berita sedih membuat was-was banyak orang. Kejadian itu adalah kisah meninggalnya Mita Diran, seorang copywriter sebuah agensi periklanan yang diduga karena terlalu lama bekerja tanpa istirahat yang cukup ditambah konsumsi minuman energi yang berlebihan. Melalui media sosial, screenshot dari postingan keluarganya mengundang banyak reaksi. Saya yakin, reaksi itu karena banyak sekali diantara kita yang memiliki pola kerja serupa. Apalagi di lingkungan industri kreatif, bukan keanehan kalau harus menginap di kantor karena deadline, penyelenggaraan event, ataupun pentas/pameran/syuting/ dll. Begitu pun di dunia kerja yang saya jalani, industri musik.

Jujur, saya pun pernah bekerja sampai sekian hari tanpa tidur yang cukup serta asupan makanan dengan gizi baik. Bahkan bisa dibilang sepanjang saya masuk ke dunia kerja, mayoritas jam kerja diatas 9-10 jam. Sakit karena kecapean bukan 1-2 kali tapi hampir setiap tahun pasti beberapa kali. Saya sudah pernah tifus, kalau hanya flu, radang tenggorokan sih nggak bisa saya hitung lagi dengan jari. Yang terbaru mungkin beberapa minggu lalu ketika saya radang kandung empedu hingga harus dilarikan ke UGD. Dokter selalu mengatakan hal yang sama, semua selalu akibat terlalu capek bekerja dan pola makan yang tidak benar. Istri saya lah yang selalu jadi malaikat penyelamat karena terus mengingatkan bahwa saya harus selalu ingat batasan diri.

Pesan istri setelah mendapat berita tentang musibah Mita Diran.

Berkaca pada pengalaman saya sendiri, saya pun melihat sekeliling saya dan memang hampir semua yang pekerjaannya sejenis pernah sakit karena kecapekan. Tifus, sakit kuning, liver, empedu, ginjal, serangan jantung, stroke, itu banyak sekali terjadi. Lihat saja pemberitaan tentang artis-artis berjadwal padat yang tumbang karena sakit. Bayangkan orang-orang dibelakangnya yang tidak terekspos media.

Apa yang salah? Kenapa sampai sebuah karir begitu beresiko terhadap kesehatan kita? Kenapa pelaku industri kreatif banyak yang terjebak di kondisi kesehatan buruk semacam ini?

Mari kita kembalikan ke diri sendiri untuk menjawab pertanyaan ini.

Saya memilih pekerjaan ini karena saya mencintai bidangnya. Sebagian besar pekerja kreatif mungkin akan menjawab hal yang sama jika ditanya mengenai bidang yang mereka jalankan. Banyak sekali kalimat motivasi yang mengajak kita mencintai pekerjaan kita. Itulah yang dijalani banyak orang di industri ini. Saya merasakan satu kekurangan dari hal ini. Karena saking mencintai bidang ini, saya tidak merasa pekerjaan saya berat. Padahal fisik saya mungkin sudah tidak sanggup lagi.

Istri saya juga selalu bilang saya angkuh terutama pada diri saya sendiri. Saya selalu berpikiran, kalau orang lain bisa kenapa saya tidak. Ternyata hal ini juga bisa jadi bumerang kalau kita tidak paham batas kita.

Beban pekerjaan pun memang di saat puncak bisa begitu banyak hingga dirasa tidak cukup 24 jam dalam sehari untuk menyelesaikannya. Bayangkan jika sedang menggelar event atau mengatur kegiatan artis internasional. Pekerjaan bisa dimulai jam 6 pagi dan selesai jam 11 malam, dilanjutkan persiapan esok hari bisa hingga jam 2 pagi. Hanya punya 2-5 jam tidur selama beberapa hari, dengan kondisi jam makan yang tak tentu. Karena memang begitu kondisinya selama ini. Alhamdulillah di akhir rangkaian pekerjaan semacam itu saya selalu mendapat libur yang bisa melegakan sedikit.

Libur? Ini pun rancu, karena sebagai seorang ayah dan kepala keluarga, waktu libur itu bukannya bisa istirahat tapi harus melakukan pekerjaan rumah tangga porsi seorang kepala keluarga. Mengantar anak imunisasi, belanja bulanan, benerin mobil, melakukan perbaikan-perbaikan kecil di rumah, menjaga hubungan sosial dengan keluarga besar, dll. Belum lagi kalau ada musibah-musibah lain yang menguras tenaga dan pikiran. Semua tentu dialokasikan waktunya saat libur.

Perjalanan dari dan ke tempat kerja juga begitu meletihkan. Lokasi tempat tinggal saya kurang bersahabat dengan lokasi kantor. Untuk pulang pergi dengan mobil saya harus menghabiskan 2-4 jam di jalan, dengan  Metro Mini + Transjakarta 3-4 jam, dengan kendaran pribadi + Transjakarta 2 jam. Sayangnya kalau harus naik kereta kurang nyaman karena harus naik Metro Mini, kemudian harus berganti stasiun. Untuk tinggal di tempat yang lebih dekat dengan kantor juga butuh biaya yang besar kalau mau tempat yang nyaman, aman dan bersih. Apalagi saya punya anak yang masih belum genap 1 tahun.

Jadi kapan istirahatnya?

Istirahat bisa benar-benar saya rasakan hanya saat libur panjang lebaran, libur panjang karena cuti bersama atau cuti diatas 2 hari. Karena biasanya dua hari libur hanya akan habis untuk urusan pekerjaan sebagai kepala rumah tangga. di hari ketiga, baru saya bisa istirahat fisik dan pikiran.

Siapa dan apa yang perlu diperbaiki agar tidak terjadi lagi musibah semacam ini?
Apakah secara pribadi, cara, mental dan aktualisasi kerja saya kurang tepat sehingga harus menghabiskan waktu dan energi yang luar biasa untuk menyelesaikan segala pekerjaan?

Apakah beban pekerjaan yang ditugaskan melebihi kapasitas kemampuan saya?
Apakah ada yang salah dengan sistem kerja di industri kreatif?
Apakah kalimat motivasional yang dipropagandakan harus ditinjau ulang?
Apakah harus ada perubahan kultur kerja oleh semua pelaku industri ini?
Apakah orang-orang yang "maju terus pantang mundur" ini perlu konseling mengenai etos kerjanya yang berlebihan? (saya pun kini merasa perlu konsultasi psikis kalau etos kerja saya sudah membahayakan kesehatan)

Mari kita jawab bersama sambil terus menjaga kesehatan diri sendiri dan ingatkan teman-teman kita. Musibah yang terjadi pada Mita Diran membuka mata saya. Beri masukan pada atasan-atasan kita kalau melihat rekan kerja yang sudah terlihat lemah. Paksa rekan kita untuk istirahat/libur/berobat/dll kalau kita sudah melihat gejala kelelahan. Karena seperti yang saya alami, ketika kelelahan, saya tetap tidak akan mengakui dan terus "pushing myself to the limit".

Lewat pesan dari istri, saya kini semakin sadar bahwa pencapaian karir itu tak seberapa dibanding pengalaman membesarkan anak kami. Prestasi dunia kerja akan terasa begitu kerdil dibanding melihat anak saya mengangkat piala pertamanya. Betapa indahnya kalau rekan-rekan kerja kita pun bisa menikmati hal serupa di masa depan mereka.

Life is not about money. Life is not about fame. Life is about who and what you love, and loves you.

Akhir kata, tulisan ini bukan obituari untuk Mita Diran seorang, tapi untuk semua yang pernah tumbang, kesakitan bahkan meninggal karena dedikasinya.

Saya pribadi menjadikan tulisan ini sebagai monumen untuk mengingatkan bahwa saya berjanji untuk kerja dengan sehat, demi orang-orang yang saya cintai.



2 comments:

  1. Yup.....nice piece sir. Family time is extremely important. Really like this words Ganbatte!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih komentarnya. Iya betul, keluarga kita butuh kita sehat dan jangan sampai justru kesehatan kita direnggut oleh pekerjaan.

      Delete