Friday, December 6, 2013

#AquariusMahakamMemories



Bagi orang yang pernah merasakan era kejayaan musik dalam bentuk kaset dan CD pasti akrab dengan toko Aquarius. Mereka mempunyai beberapa cabang yang semuanya legendaris yaitu Surabaya, Dago (Bandung), Mahakam (JKT) dan Pondok Indah.

Seperti sudah diprediksi di seluruh dunia, toko produk fisik musik akan semakin tertekan karena tsunami produk digital. Di luar negeri, toko sekelas Virgin, HMV, dll pun tak kuat untuk melanjutkan hidupnya. Kini Aquarius pun mengalami hal serupa. Setelah Surabaya, Dago dan Pondok Indah, kini toko terakhir mereka di Mahakam harus bersiap diri untuk menghabiskan stok dan berhenti beroperasi.

Begitu mendengar kabar ini, saya tersentuh karena di era 90-an ketika saya remaja, toko musik Aquarius jadi salah satu tempat yang penting. Lokasinya di pusat tongkrongan Jakarta Selatan, inventory musiknya sangat lengkap dan atmosfer tokonya benar-benar pas. Bahkan pegawainya pun tidak banyak perubahan. Sebuah toko yang dibangun karena hati (dan bisnis tentunya). Tapi bisnis yang melibatkan hati itu pasti terasa lebih hangat, long lasting dan meninggalkan memori bagi para pelanggannya.

Dua hari lalu saya menyempatkan diri datang kesana setelah berjibaku dengan lalu lintas pasca hujan deras dari arah kantor di Menteng. Saya cuma punya waktu 10 menit dan toko itu sudah harus tutup karena waktu menunjukkan pukul 9 malam. Akhirnya keesokan harinya, tim sales kami berencana ke Aquarius untuk berbincang dengan koh Alyaw, salah satu petinggi toko Aquarius Mahakam. Saya akhirnya ikut serta karena ingin mendengar lebih banyak tentang apa yang terjadi dan apa rencana yang disiapkan pihak Aquarius.

Perbincangan dengan koh Alyaw di restoran Bakmi Permata di sebelah toko Aquarius Mahakam ini berjalan santai. Banyak hal yang dibicarakan. Pertama mengenai rencana penutupan, kapan tepatnya. Menurutnya clearance sale yang sedang berjalan ini untuk menghabiskan stok yang ia harapkan bisa habis di bulan Desember sehingga bisa menutup buku dan operasional pas di akhir tahun. Tapi tidak tertutup kemungkinan diperpanjang sampai sekitar Maret 2014. Memang tidak mudah katanya untuk mengimbangi biaya operasional dari gedung sendiri, pegawai, dll jika hanya mengandalkan penjualan CD yang semakin lama semakin surut. Ia bercerita tentang pergeseran gaya hidup. Saya berpikir tentu hadirnya mall-mall besar akan mematikan individual stores semacam ini, apalagi kawasan Blok M juga sudah tidak identik sebagai kawasan nongkrong yang "hits".

Sebenarnya mereka punya aset media luar ruang berupa baliho di depan toko yang sebenarnya jika dikomersilkan bisa meraup tambahan pemasukan yang signifikan. Tapi disinilah perbedaan Aquarius, karena pembesarnya begitu idealis, titik baliho ini hanya diizinkan untuk materi promosi musik dengan biaya yang sangat terjangkau. Alasannya adalah, "Kasihan orang-orang musik, dimana lagi bisa promosi (luar ruang)". Gila! Sebuah langkah yang menyeramkan dari segi bisnis tapi menyegarkan bagi pelaku bisnis musik.

Koh Alyaw juga bercerita tentang pentingnya membangun pasar indie yang nyatanya punya angka penjualan yang bagus. Ia menyebut beberapa nama seperti Payung Teduh dan Tiga Pagi yang saat ini punya angka penjualan bagus. Memang Aquarius ini menjadi salah satu "penyelamat" musisi indie dalam hal penjualan album fisik, karena sebagai toko musik yang sudah mapan, mereka menerima berbagai produk indie untuk dijual. Selain itu juga pentingnya membangun komunitas-komunitas musik untuk memperkuat fondasi bisnis ini..

Banyak sekali kisah customer yang diceritakan oleh koh Alyaw mengenai memori di Aquarius Mahakam. Ada sepasang pelanggannya yang bertemu di toko sampai akhirnya menikah. Mereka kini sudah punya anak usia kuliah dan masih kerap datang berbelanja di toko itu. Sebuah tipikal cerita cinta chiclit yang nyata terjadi di toko ini. Ada lagi momen ketika tokonya diserbu pembeli album perdana Maliq & D'Essentials yang dikiranya ada serangan demonstrasi.

Mengenai rencana kedepan, mereka memang memiliki toko online yang masih berjalan. Diluar itu sepertinya saya tidak bisa cerita lebih banyak karena takutnya mengganggu rencana mereka.


Setelah mengakhiri pembicaran, kami kembali ke toko dan tentunya saya belanja beberapa CD. Kemudian juga kami berfoto di depan toko legendaris ini. Sebuah momen terakhir yang menutup keakraban saya dengan sebuah toko musik. Setelah kami mengunggah foto-foto itu ke social media, sedikit-demi sedikit makin banyak yang membahas sampai pada hari ini media liputan6.com memberitakan bahwa toko ini tutup yang padahal baru AKAN tutup. Berbarengan dengan berita duka RIP Nelson Mandela, muncul juga post RIP Aquarius Mahakam. Sedikit meluruskan bahwa toko ini belum tutup, dan saat ini masih melakukan clearance sale sampai dengan 50% potongan harga.

Jadi untuk anda yang punya kenangan khusus dengan toko CD/kaset legendaris Aquarius Mahakam, segeralah singgah untuk berbelanja atau sekedar nostalgia. Bawalah anak-anak anda untuk mengingatkan bahwa ada toko semacam ini dimasa ayah-ibunya muda.

Bersama tim Sony Music Entertainment Indonesia setelah bincang-bincang dengan koh Alyaw. Sayangnya tidak sempat foto sama beliau. ki-ka: Kana Jaya (sales division), saya, Heny Suryanti (sales division), Fajar Indroharyo (Senior Marketing Manager - International)

#AquariusMahakamMemories

16 comments:

  1. Terimakasih cerita-ceritanya pondraaaa...
    Seneng bacanya....
    Tapi juga ikut prihatin....

    ReplyDelete
  2. Terima kasih kembali mbak Jeci,
    Bisnis musik sedang bergulir..

    ReplyDelete
  3. Ah, saya kok hampir nangis ya bacanya? Ditemani lagu2 Adhitia Sofyan as backsound, rasanya sedih sekali :( Walaupun saya tak akrab dengan toko Aquarius, karena jaman 90an saya masih berseragam SD dan saya pun tinggal di kota lain, tapi saya pun punya memori tentang album fisik. Saat saya dengan girang ke toko kaset kecil di kota saya untuk membeli album Westlife - Coast to Coast...

    Time flies and everything has changed...
    Mendoakan yang terbaik untuk Aquarius, semoga rencana kedepannya sukses :)

    P.S: cerita cintanya somehow mengingatkan saya sama film You've Got Mail hehehe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya begitulah, sama seperti toko kelontong yang sekarang semakin kalah bersaing dengan mini market waralaba.

      Dulu kalau belanja di toko kelontong bisa ada interaksi personal dengan penjualnya. Jadi ada faktor kehangatan di toko-toko seperti ini.

      Anyway,
      Cerita cinta picisan yang riil kaya di tulisan gue itu, mungkin tidak akan pernah bisa terjadi di ranah iTunes.

      Delete
  4. Sedih banget bacanya, mas. Saya adalah salah satu dari sekian banyak pecinta musik yang menikmati musik lewat berbagai sisi, termasuk packaging fisik albumnya. Semoga kedepannya tidak ada lagi store-store CD atau kaset yang memutuskan berhenti beroperasi. Semoga tiap-tiap individu yang pernah dan sedang berjuang dan mendukung Aquarius sampai titik ini selalu diberkati olehNya. Sukses selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas. Tapi sayangnya untuk Aquarius sepertinya sudah sulit untuk melanjutkan. Ada beberapa toko dan agen juga yang baru-baru ini tutup tapi karena tidak terlalu terkenal jadi tidak terekspos.

      Biar bagaimana pun pengalaman yang dihadirkan dari produk fisik musik itu lebih dari hanya sekedar mendengarkan saja.

      Delete
  5. Ke Aquarius bukan hanya membeli CD, tapi juga menemukan musik-musik yang bukan mainstream. Terus didengar bareng bersama pegawainya dan berbincang memberikan komen. Pegawainya memang sudah mengerti benar dengan musik jadi obrolannya nyambung.Tidak mungkin terjadi di itunes.

    I shall miss Aquarius so much. And our children will never know rasanya menabung uang jajan, terus hari sabtu beli CD dan dimainkan berulang-ulang hingga jebol. It's not about listening to songs, but anticipating and experiencing the music. Peace out.


    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas komentarnya. Benar sekali, di era musik fisik ada lebih banyak experience. Buat yang sempat mengalami, pasti itu berarti sekali. Semoga ada langkah bisnis revolusioner yang akan membuat Aquarius bisa bangkit lagi Dan toko CD lainnya juga tetap bertahan.

      Delete
  6. Walaupun saya bukan generasi yang menikmati susahnya nabung buat beli CD, tapi entah kenapa saya juga ikut sedih kalau Aquarius bakal ditutup. Mungkin karena mama dan tante saya pernah bercerita tentang serunya main ke Aquarius waktu mereka sma and it makes me jealous because I don't know how it feels. Padahal sekolah deket situ, tapi ga pernah mampir. Hari Senin kayanya bakal kesana, sebelum tutup dan nyesel ga pernah ke Aquarius. I want Aquarius be part of my 'sma' life, though today's already digital era so I don't have to be jelly with my mom and my aunty. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul EF, pengalaman beli koleksi musik dalam bentuk fisik itu bisa sangat memorable karena dibaliknya ada romantisme, rekreasi, emosi, dll. Pengalaman dan perasaan2 humanis inilah yg dirindukan banyak orang. Meskipun keberadaan toko musik masih banyak tapi tidak banyak yg memiliki atmosfer seperti itu.

      Delete
  7. Izin share di kaskus ya pon tulisannya..

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Di era modern yang serba digital seperti ini, persoalan merana ternyata bukan hanya monopoli toko kelonthong, rumah makan atau pasar tradisional bahkan pijat tradisonal. Sebuah Toko kaset yang begitu legendaris dan sangat berjaya dimasa Ali Topan anak jalanan yang bernama Aquarius Mahakam ternyata tidak mampu juga menghadapi dpmonasi modernisasi di era digital ini. Menyedihkan memang terutama bagi pelanggan-pelanggannya yang dulu begitu istiqomah selalu menghabiskan waktu luangnya di Aquarius Mahakam, entah untuk belanja kaset, sekedar melihat-lihat perkembangan musik terbaru atau bahkan yang sengaja belanja kaset sambil Ngeceng di Bulungan yang legendaris. Yah itulah kehidupan, semua ada masanya, termasuk penggemar musik di Aquarius yang nota bene anak-anak muda dimasanya dulu, semuanya mengukir sejarah dengan kelucuan, kehebohan dan kekonyolannya khas anak muda. Demi mengenang masa lalu, malam ini saya niatkan untuk mengunjungi Aquarius berbelanja CD, berharap semoga nanti menemukan CD yang mampu menggugah memori masa lalu....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih komentarnya, memang tidak semuanya bisa lestari. Ini jadi peringatan bagi pelaku bisnis untuk jeli lihat pasar dan antisipasi dengan strategi pemasaran jangka panjang.

      Delete