Tuesday, July 12, 2016

Ganteng Ganteng Sadis - Membahas Tulisan Pandji

Malam tadi saya membaca tulisan yang di share oleh Widiasmoro di Facebook (http://pandji.com/ganteng-ganteng-sombong/). Tulisan dari Pandji Pragiwaksono tersebut membahas mengenai lagu GGS (Ganteng Ganteng Swag) dari rapper Young Lexx bersama para Youtubers. Berhubung saya juga suka hiphop jadi tertarik untuk membahas lebih jauh.

Dalam tulisan tersebut Pandji mengetengahkan bahasan mengenai realita mengapa lagu tersebut booming meskipun ada pro kontra baik bagi orang awam dan juga bagi para musisi hingga para pegiat hiphop. Penggunaan kata-kata kotor dan pernyataan-pernyataan dalam lagu juga jadi bahasan. 

Ketika Young Lexx mulai ramai videonya di Youtube, saya melihat inilah wajah baru hiphop Indonesia. Suka tidak suka, mau tidak mau, semua harus mulai mengakui kalau memang dia berhasil tembus pasar luas melalui cara yang (dulu) nggak mainstream. Dia hadir dalam bahasa yang juga (dulu) nggak mainstream. Saya setuju statement Ice Cube yang dikutip Panji, "Our art is a reflection of our society". Mungkin memang inilah cerminan masyarakat saat ini, bukan artisnya yang membentuk, mereka hanya mengamplifikasi dalam bentuk karya dan publikasi media.

Mengenai statement "Youtube lebih dari TV" saya sangat setuju dengan penjelasan Panji. Bahkan saya bertahun-tahun tidak menggunakan layanan siaran TV, dan baru mulai berlangganan sejak anak saya sudah paham acara-acara Disney Channel Junior. Kita harus ingat bahwa generasi sekarang berbeda dengan generasi kelahiran 70-80an (termasuk saya). Kita tumbuh di era media yang terkontrol oleh rating dan sensor. Youtube dan media sosial hadir menjadi corong media baru yang juga sangat kuat. Media berbasis online, citizen journalism, User Generated Content dan on-demand content jadi hal yang lumrah bagi para millenials dan angkatan selanjutnya. Merekalah digital natives yang secara alami tumbuh kembang sejak bayi ditengah teknologi internet. Kita layaknya pendatang di wilayah itu yang belajar memaksimalkan, para lansia bahkan hanya jadi pengunjung yang masuk wilayah digital untuk "bertemu" keluarga, kawan lama atau sekedar membaca berita. Jangan heran kalau generasi yang lebih muda dari kita mampu menciptakan konten-konten yang secara alami lebih diterima para digital natives karena itu memang habitat aslinya.

Mengenai penggunaan explicit language, menurut saya ya itu cerminan masyarakat. Saya juga orang yang sering menggunakan kata kotor dalam obrolan informal. Kata-kata seperti t*i, ngen***, dll kadang terselip ditengah pembicaraan. Di ranah hiphop lokal, 8Ball pernah publikasikan lagu yang jauh lebih kasar dan spesifik ditujukan ke satu pihak yang riil. Nggak munafik lah. Itu bahasa sehari-sehari. Apalagi di jalanan. Orang asing berbahasa Inggris juga umum menyelipkan F dan S words dalam obrolan, bahkan saat meeting formal pun sering dipakai untuk menekankan sebuah statement. Di ranah hiphop lokal pun, pada battle-battle rap bawah tanah, gila-gilaan kata makian disemprot spontan dalam jajaran lirik cerdas. Kita khawatir sebagai orang tua boleh saja, karena itu tugas dan tanggung jawab pilihan kita. Saya tidak masalah dengan itu asal ada pada tempatnya. Sering loh tempat umum bahkan radio kecolongan memutar lagu berbahasa Inggris yang explicit version. Padahal itu harusnya dikurasi dan diawasi.

Pandji juga membandingkan Young Lexx dkk. dengan NWA sebagai grup yang menggambarkan cerminan masyarakat. Menurut saya agak kurang pas. NWA lebih cocok diperbandingkan dengan Homicide. Sedangkan Young Lexx lebih kearah Soulja Boy dan squad-nya mungkin seperti Odd Future. Dua generasi yang berbeda, dua pendekatan yang berbeda, dua gaya yang berbeda. NWA & Homicide adalah gambaran para pionir dan kritik sosialnya frontal. Sedangkan Young Lexx dengan adopsi nilai swag lebih pas ke hiphop ala Soulja Boy. Di AS Soulja Boy juga habis dikiritisi oleh dedengkot hiphop, tapi toh untuk generasinya dia sukses mempopulerkan gaya baru hiphop dan nilai-nilai baru yang mungkin tidak relevan di tahun 90-an. Salah? Menirit saya tidak, itulah perkembangan nilai budaya dan sosial. Young Lexx juga mengadopsi bentuk hiphop collective dengan mengajak para Youtubers. Langkah cermat yang menurut saya berjalan alamiah. Di AS, hiphop collective sudah berjalan panjang sejak era Wu Tang Clan hingga muncul squad-squad era terkini seperti A$AP mob, Odd Future, Pro Era. Nama-nama baru itu juga memiliki habitat digital. "Beef" (perseteruan) terjadi via media sosial, dulu terjadinya di club malam atau jalanan. Lagu diss beredar dengan supercepat melalui kanal digital, dulu lagu-lagu disshanya bisa didengar saat live di club atau saat diedarkan dalam mixtape.

Sebagian sari dari tulisan saya, sepertinya Young Lexx dan gerombolan GGS memang cerminan masyarakat. Anak kecil yang terekspos lagu ini dan meniru juga memang kenyataan adanya. Semua generasi punya pengalaman ini, dinilai negatif karena progresif yang kadang behkan disebut menyimpang. Padahal itulah proses pergeseran nilai yang nyata dan terjadi di depan mata kita. Selamat menikmati jadi orang dewasa yang dijejali tanggung jawab finansial, kultural dan sosial. Saya pun akan kembali bekerja seperti hari-hari biasanya dengan para kawanan GGS, Ganteng Ganteng Sibuk.

Sementara radio memutar lagu si GGS, Afgan. Ganteng Ganteng Sadis

Lol.

Cheers!

Monday, July 11, 2016

It's Been A While - Selamat Idul Fitri


Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin dari saya sekeluarga dan KAWAIIKU, brand istri saya yang baru saja diluncurkan bulan lalu.

Lama tak menulis di blog ini. Banyak sekali yang terjadi di beberapa bulan terakhir. Kesibukan juga terus bertambah. Banyak perkembangan dari kehidupan saya yang penuh cerita namun waktu dan gairah menulis sedang tidak berpihak ke diri saya.

Saya akan coba meniti lagi satu demi satu tulisan baik tentang kehidupan saya maupun yang berkaitan dengan industri musik. Semoga segala gairah menulis akan kembali.