Showing posts with label hifi. Show all posts
Showing posts with label hifi. Show all posts

Thursday, February 5, 2015

Audio Resolusi Tinggi: Mainan Baru Industri Musik dan Teknologi


Apakah kamu orang yang rewel dengan kualitas audio dari musik yang kamu dengarkan? Kalau iya, sudah saat nya kamu cari tahu lebih banyak tentang Audio Resolusi Tinggi / Hi-Res Audio. Perihal mengenai signifikan-tidaknya sebuah file audio dalam kualitas hi-res sebenarnya masih menjadi perdebatan di kalangan audiophile. Banyak anggapan bahwa penilaian lebih bagus atau tidaknya kualitas audio adalah sugesti saja karena pada akhirnya kemampuan pendengaran manusia ada batasnya. Mengesampingkan perdebatan itu, nyatanya teknologi kualitas audio terus saja dikembangkan dan kini banyak yang berlomba merebut pasar tersebut.

Istilah Hi-Res Audio biasa digunakan untuk file rekaman suara diatas spesifikasi sampling standar CD audio yang selama ini digunakan yaitu 16-bit/44.1kHz. Biasanya sampling yang banyak digunakan yaitu 24-bit/96kHz. Beberapa format file yang popular adalah WAV, AIFF, FLAC, ALAC dan beberapa format lain. Peningkatan spesifikasi tentunya berpengaruh ke ukuran file menjadi lebih besar. Namun bagi penikmat musik, terkadang kualitas audio memang perlu dipertimbangkan.


Di luar perusahaan yang memang fokus ke dunia audio, teknologi Hi-Res Audio kini begitu diminati produsen gadget terkemuka seperti Sony dan Microsoft. Layanan penyedia musik juga mulai menarik minat konsumen dan investor. Apakah ini akan menjadi ruang gerak baru dalam perkembangan bisnis musik?

Secara pribadi, saya cukup rewel dengan kualitas audio karena dibiasakan mengenali dan melakukan pengaturan perangkat audio dengan baik sejak kecil oleh bapak saya. Minat saya pun makin besar pada bidang audio apalagi saya bekerja di bidang musik. Mengikuti perkembangan teknologi audio jadi wajib hukumnya bagi para “audiophile” alias penggila audio yang mengejar kualitas terbaik dalam mendengarkan musik. Salah satu yang banyak jadi pembicaraan ada mengenai format sumber musik, misalnya CD, piringan hitam atau file digital yang diputar menggunakan peranti portable sejenis iPod atau multimedia player. Perangkat lainnya seperti Amplifier, speaker, DAC (Digital-Audio Converter), hingga kabel juga jadi pertimbangan. Berbagai elemen inilah yang akhirnya membuka peluang-peluang baru seiring datangnya era Hi-Res Audio.

Sony Walkman NW-ZX2
Sony tahun ini merilis perangkat Walkman seri NW-ZX2 seharga 1200 Dollar AS. Sebelumnya Sony sudah mengembangkan perangkat untuk Hi-Res Audio lewat berbagai produk seperti amplifier portable, DAC, Amplifier, Speaker, Headphone, Earphone terbarunya. Namun kehadiran NW-ZX2 yang menjadi sorotan karena bandrol harga yang fantastis tersebut cukup berani di tengah pasar pemutar musik yang rentang harganya begitu lebar. Untuk membeli pemutar musik berspesifikasi rendah dengan merk yang juga tak jelas, kita cukup merogoh kocek sekitar Rp.100.000. Bayangkan sebuah pemutar musik seharga lebih dari Rp. 12 juta! Sony melihat cukup luas lewat pengembangan Hi-Res Audio ini.

Merujuk website Sony (Asia), mereka mengarahkan pengguna perangkat Hi-Res Audio untuk membeli musik ke beberapa layanan yaitu 2L (https://shop.klicktrack.com/2l), Naim Label (http://www.naimlabel.com/), Linn Records (http://www.linnrecords.com/), HifiTrack (http://www.hifitrack.com/en) dan beberapa nama lain. Kemitraan dengan penyedia layanan musik berkualitas Hi-Res Audio harus dilakukan. Bayangkan jika pembeli perangkat mahal ini akhirnya sulit mendapatkan konten untuk dimainkan, mubazir kan?

Nokia N1
Bergeser ke nama besar lain, Microsoft juga tampaknya melirik kepopuleran Hi-Res Audio. Gabriel Aul dari Windows Insider mengunggah sebuah screen-capture dari sistem operasi Windows 10 yang menunjukkan kompatibilitas dengan format musik FLAC. Berita ini menjadi perbincangan para audiophile karena memutar file FLAC akan menjadi semakin mudah. Nokia (yang juga sudah diakusisi oleh Microsoft) tampaknya juga memperhatikan kebutuhan audio yang baik. Tablet Nokia N1 menggunakan Wolfson WM895 sebagai chip DAC. Chip ini punya reputasi tinggi di kalangan audiophile karena mampu menghasilkan kualitas audio yang lebih baik.


Kini mari melihat perkembangan di sisi layanan penyedia musiknya. Nama yang sudah lebih popular di dunia Hi-Res Audio adalah HDTracks. Di tengah keriuhan penetrasi pasar ini, HDTracks belum terlihat melakukan manuver signifikan. Pengembangan bisnis terkini dari perusahaan asal New York ini salah satunya dengan melebarkan sayap lewat dibukanya kantor HDTracks di Inggris dan Jerman bulan September 2014 lalu.

PonoPlayer
Selebriti juga mulai melirik ranah bisnis Hi-Res Audio. Neil Young terjun ke dunia Hi-Res Audio lewat perusahaannya, PonoMusic. Perusahaan ini menjalankan bisnis layanan unduhan musik dalam format Hi-Res Audio dan juga memproduksi pemutar musik portable. Jay Z baru saja membeli Aspiro, perusahaan Swedia pemilik layanan WiMP dan Tidal. Tidal adalah layanan streaming musik dalam format Hi-Res. Saat ini layanan streaming musik sedang menjadi primadona baru lewat kesuksesan Spotify memperoleh pasar yang signifikan. Tidal bisa jadi jawaban untuk mereka yang nyaman dengan layanan streaming musik namun menginginkan kualitas audio yang maksimal.

Segala perkembangan dalam dunia Hi-Res Audio tentu menghadapi hambatan juga. Ukuran file yang lebih besar membutuhkan koneksi dan kuota internet yang lebih baik. Tantangan tentu jadi lebih besar untuk layanan streaming karena koneksi harus benar-benar kencang dan stabil. Menikmati Hi-Res Audio membutuhkan keseluruhan sistem perangkat yang mumpuni untuk benar-benar memaksimalkan kualitas suara. Mulai dari headphone/earphone, speakers, amplifier, DAP (Digital Audio Player), DAC (Digital-Analog Converter), hingga kabel-kabelnya bisa mempengaruhi. Perangkat yang masuk kategori High Fidelity (Hi-Fi) tentunya tidak murah. Tanpa perangkat yang mendukung, file Hi-Res akan terdengar sama saja dibanding file Mp3 biasa. Hal terakhir yang menjadi tantangan adalah meyakinkan pasar bahwa Hi-Res Audio itu perlu dan layak dikonsumsi. Kenapa jadi tantangan? Karena tak semua orang mampu membedakan kualitas audio.

Salah satu kunci dari akan sukses tidaknya format Hi-Res Audio menjadi primadona baru bisnis musik akan bergantung pada keberhasilan memasarkan ide bahwa Hi-Res Audio adalah sesuatu yang keren dan trendi di masa depan. Didukung infrastruktur layanan data internet yang kencang dan stabil, trend tersebut bukan tak mungkin terwujud. Terlihat dari minat berbagai sisi industri yang mulai melirik, tampaknya format High Resolution Audio sedang menjalani masa percobaan untuk menjadi mainan baru industri musik. Dari mainan akhirnya menjadi senjata utama, bisa jadi.



Thursday, November 6, 2014

Peluncuran B&W Experience Center


Sekitar sebulan lalu, saya bertemu dengan Pitta, kawan di industri musik. Ia memberitahu kini bekerja di The Expert Group, perusahaan yang menaungi brand Bowers&Wilkins. Merk ini mungkin belum begitu dikenal secara luas, namun bagi para audiophile nama B&W merupakan salah satu brand yang cukup dihormati. Singkat cerita kami banyak diskusi tentang dunia premium audio system dari pasar hingga pemasarannya. Kebetulan kantor tempat saya bekerja menggunakan beberapa speaker B&W yang juga pernah saya jajal. Akhirnya Pitta cerita kalau B&W akan membuka showroom pertamanya yang disebut "Experience Center" dan janji akan mengundang saat upacara pembukaannya.



Akhirnya undangan pun tiba dan saya sangat antusias untuk hadir, karena sebagai pecinta dunia audio, kesempatan ini sangat menarik buat saya. Selain itu dari segi pekerjaan juga tak ada salahnya membangun network dengan para pelaku industri high fidelity audio. Setibanya di lokasi yang terletak di Central Park (di kawasan ruko) acara sudah pada prosesi sambutan-sambitan termasuk dari perwakilan Kedutaan Besar Inggris sebagai penegas bahwa Bowers&Wilkins adalah aset penting negara tersebut.

Kemudian tiba saatnya para undangan bis merasakan pengalaman menikmati berbagai produk B&W di 3 jenis setup yang berbeda. Lantai pertama lebih bersifat showroom dengan produk portable (Headphones, earphones portable speakers, computer speakers). Saya cuma sempat mencoba 2 headphone yaitu P5 dan P7. Selain itu ada P3 dan IEM bertipe C5 Series 3. Keseluruhan headphone mengambil posisi sebagai portable headphone meakipun P7 agak terlalu bulky untuk jadi portable setup dengan model over ear. P7 adalah seri tertinggi dengan kualitas material yg sangat baik. Bahan kulit terasa mewah, jahitannya sangat rapi earpad juga cukup nyaman. Mengenai sound signature saya tak bisa komentar banyak karena kondisi audisi yang tidak ideal. Seri P5 jadi favorit saya karena tidak terlalu bulky dan masih nyaman untuk dilipat dan dibawa sebagai portable setup. Namun yang ini tipe on-ear, bukan over ear. Seri P3 lebih variatif dengan pilihan warna terang selain hitam.


Masuk ke sesi berikut yaitu ranah speaker. Meskipun di lantai dasar terpajang speaker legendaris Nautilus yang berharga lebih dari 1 miliar Rupiah namun sayangnya kita tak berkesempatan mencicipi suaranya. Namun di lantai berikutnya kita disuguhi ruang pamer speaker yang mayoritas diisi tipe 600series baik versi bookshelf, center hingga floorstand.


Di lantai ini ada juga ruang pengalaman yang menghadirkan varian-varian tertinggi line up 800 Diamond series yang memiliki kelebihan adanya unsur berlian di tweeter-nya. Fungsi berlian yang digunakan adalah untuk membuat cone tweeter yang lebih kuat sehingga rentang frekuensinya lebih tinggi. Dari penjelasannya, tweeter ini sanggup mereproduksi suara hingga 50kHz. Sebenarnya telinga manusia hanya sanggup mendengar sampai dengan 20kHz tapi buat pecinta audio, frequency range jadi indikator penting dari kemampuan sebuah speaker set. Seri speaker ini juga digunakan di studio rekaman legendaris Abbey Road. Dari audisi yang disuguhkan selama kurang lebih 5 menit dengan menggunakan adegan pertempuran di film Iron Man terbaru, memang kelas speaker ini cukup luar biasa. Seluruh frekuensi terdengar akurat rasa sonic yang juga bagus. Tapi harganya pun tak bohong, untuk satu pasang speaker floorstand front kita harus merogoh kocek lebih dari 250 juta Rupiah. Kemewahan ada harganya bung!


Di lantai teratas, suasana ruangan dibuat seperti sebuah rumah dengan ruang tidur dan dapur. B&W coba menawarkan sistem audio yang aplikatif untuk sehari-hari tanpa kebutuhan ruang home theater. Seri wireless Zeppelin Air yang diletakkan dirak dapur bisa dikontrol melalui fitur Apple Airplay. Suaranya sih seperti layaknya speaker wireless premium, cukup untuk kebutuhan harian. Di sisi lain ada ruang tidur yang dipasangkan dua jenis sepaker yaitu Mini Theater yang terdiri speaker satelit berukuran kecil serta Subwoofer serta tipe Panorama 2 yang berupa soundbar. Kriteria ini pas buat entry level yang tak mau repot dengan setup yang ribet. Tapi saingan B&W pun banyak sekali di ranah ini. Bose menawarkan sistem home theater yang lebih variatif dan soundbar kini banyak dirilis oleh produsen elektronik lain dengan kualitas audio yang beda tipis. 



Di lantai yang sama kita masuk ke area uji 600 Series. Disini jelas sekali kalau 800 Series memang superior karena setup terbaik 600 series saja nggak sanggup menyaingi setup yang sebelumnya kita uji lebih dulu. Di 600 Series masih terasa frekuensi yang terdengar tak nyaman terutama di frekuensi tinggi. Sonic-nya juga kalah telak, mungkin karena box speaker yang lebih sederhana sehingga lebih terasa boxy dan nggak se-full suara yang dihasilkan 800 Series. Untuk entry-level seri ini cukup menarik. Speaker bookshelf bya yang terkecil bisa dibeli dengan beberapa belas juta saja untuk sepasangnya.

Bowers&Wilkins sepertinya mulai serius masuk pasar Indonesia. Nama dan reputasi mereka yang sudah cukup populer tetap perlu dipasarkan dengan gencar karena saingan mereka telah memulai jauh lebih awal. Bose dan Bang&Olufsen mungkin jadi kometitor utama. Tak sulit menemukan dua brand ini. Bahkan Bose sudah sangat meluas ibaratnya brand premium yang telah jadi generik. B&O masih cukup terjaga namanya lewat showroom di mall-mall mewah. B&W harus hadir dengan strategi yang jitu kalau mau menyalip mereka. Awalnya sudah baik dengan dibukanya "Experience Center" ini yang digembar-gemborkan sebagai showroom B&W terbesar se-Asia Tenggara. Staff yang ada juga harus dilatih untuk paham bahasa audio, karena orang yang berani membeli speaker ratusan juta pasti akan pertimbangkan spesifikasinya juga. Jadi buat Pitta, congrats for the opening of B&W showroom and you've got a lot of work to do now..