Pekerjaan ini cukup seru buat kamu yang gemar dunia audio dan suka bergaul. Berhubungan baik dengan pelanggan, mampu jadi teman diskusi mengenai audio hingga memberi solusi kebutuhan audio bagi pelanggan tampaknya akan sangat dibutuhkan dalam pekerjaan ini.
Saturday, April 11, 2015
Lowongan di Jaben Store
Satu lagi lowongan yang ada hubungannya dengan industri musik. Kali ini lowongan pekerjaannya dari ranah retail store perangkat audio. Toko Jaben cukup populer di kalangan penyuka audio sebagai tempat belanja perangkat audio terutama yang berhubungan dengan headphone atau earphone. Nggak sedikit penyanyi dan musisi profesional yang saya tau pernah jadi pelanggan di Jaben misalnya Astrid.
Labels:
audiophile,
earphone,
headphone,
Industri Musik,
jaben,
job,
Karir,
loker,
Lowongan,
Lowongan kerja,
toko
Friday, April 10, 2015
Lowongan di Marygops Studios
Kesempatan terbuka lagi untuk kalian yang ingin kerja di industri musik. Kali ini saya mendapat informasi lowongan pekerjaan dari kawan-kawan di Marygops Studios yang merupakan salah satu promotor konser paling aktif di Indonesia. Beberapa konser yang pernah mereka garap misalnya dari artis besar dunia seperti Justin Bieber, Westlife, L'Arc-en-Ciel, Bruno Mars, Avril Lavigne dan banyak lagi. Selain konser tunggal, mereka juga pernah menggarap festival musik seperti Anime Festival Asia Indonesia.
Posisi yang ditawarkan adalah bagian akuntansi dan keuangan. Ini nih saatnya kamu yang berlatar belakang accounting dan finance bisa masuk industri musik. Tertarik?
http://www.marygops.com
Tuesday, March 31, 2015
Tidal, Revolusi Artis Dunia di Ranah Streaming
G.I.L.A
Seperti biasa tiap pagi saya browsing berita industri musik global, tapi hari ini saya tercengang dengan berita tentang Tidal yang saya baca di Billboard. Langsung saya buka website Tidal dan muncullah video dari acara peluncuran layanan streaming musik format lossless (High Resolution) ini.
Everyone in streaming business better watch out! Gila asli ini konsepnya. Alicia Keys yang jadi juru bicaranya menjelaskan konsepnya, "The first ever artist owned global music entertainment platform, our goal is simple, we want to create a better service, better experience for both fans and artist, and that's our promise to the world. Our mission goal is beyond commerce, it goes beyond technology, our intent is to preserve music's important in our life"
Well said.. Ini beneran bisa hype kayanya. Artis yang hadir dan ikut tanda tangan sebagai owner di panggung ada Daft Punk, Kanye West, Nicki Minaj, Chris Martin, Madonna, Deadmau5, Rihanna, Beyonce, Usher, Jason Aldean, Arcade Fire, dll.
Namun tentu ada pro-kontra. Banyak fans yang merasa harga yang ditawarkan terlalu mahal. Hal ini bisa memunculkan gambaran tentang artis yang dianggap terus mengeruk uang dari fans. Sebenarnya saya melihat ada contoh sejenis yang mengandalkan "star power". Headphone Beats di kalangan pecinta audio diolok-olok sebagai produk over-priced yang tak sebanding antara harga dan kualitas. Tapi kenyataannya Beats mampu merebut pasar dari merk-merk audio lain yang justru sudah memulai jauh lebih lama seperti Koss, Sennheiser, Bose, Audio Technica, AKG dan banyak lagi. Pada akhirnya strategi marketing Beats yang mengandalkan kekuatan para bintang dari dunia musik hingga olahraga. Coba saja cek bagaimana sepak terjang pemasaran mereka yang sekarang banyak meniru Beats. Bose masuk ke NFL, AKG menggandeng Tiesto, Sennheiser di pasar lokal bahkan sempat menggaet Raisa.
Pertanyaan besarnya, apakah kali ini "Star Power" mampu merevolusi layanan musik streaming dari bersifat fans oriented menjadi artist oriented.
Gila ini sih..
www.tidal.com
Monday, March 9, 2015
Interview Majalah "Mutiara Biru" (Blue Bird Group)
Hari ini bertepatan dengan Hari Musik Nasional tanggal 9 Maret, saya menerima satu eksemplar majalah Mutiara Biru yang merupakan majalah resmi perusahaan taksi terbesar di Indonesia, Blue Bird Group. Saya diwawancarai oleh jurnalisnya, mbak Johana beberapa minggu lalu.
Mengutip sedikit jawaban saya dalam wawancara tersebut rasanya pas untuk saya tekankan untuk Hari Musik Nasional.
"Jadi, tutupnya toko musik hanya puncak gunung es permasalahan. Semua pihak harus bahu-membahu melindungi industri kreatif. Indonesia adalah bangsa yang kreatif, sayang sekali kalau secara ekonomi tidak dapat terapresiasi".
Untuk lengkapnya bisa disimak lebih lanjut di majalah Mutiara Biru dalam armada taksi Blue Bird Group atau secara digital gratis di aplikasi Scoop dengan tautan berikut:
http://www.getscoop.com/magazines/mutiara-biru
Selamat Hari Musik Nasional!
Mengutip sedikit jawaban saya dalam wawancara tersebut rasanya pas untuk saya tekankan untuk Hari Musik Nasional.
"Jadi, tutupnya toko musik hanya puncak gunung es permasalahan. Semua pihak harus bahu-membahu melindungi industri kreatif. Indonesia adalah bangsa yang kreatif, sayang sekali kalau secara ekonomi tidak dapat terapresiasi".
Untuk lengkapnya bisa disimak lebih lanjut di majalah Mutiara Biru dalam armada taksi Blue Bird Group atau secara digital gratis di aplikasi Scoop dengan tautan berikut:
http://www.getscoop.com/magazines/mutiara-biru
Selamat Hari Musik Nasional!
Pekerjaan Baru (Di Tempat Lama)
Awal tahun 2015 ini saya mengambil keputusan untuk hijrah kembali ke tempat saya mengawali karir di dunia label rekaman. Per bulan Maret 2015 akhirnya saya kembali bergabung ke Universal Music Indonesia setelah 4 tahun berkarya di Sony Music Entertainment Indonesia. Ya, sebelum saya bergabung dengan Sony Music memang saya pernah bekerja di Universal Music Indonesia selama dua tahun sebagai staf promosi yang fokus pada media online termasuk media sosial. Posisi yang saya pegang sekarang adalah Senior Marketing Supervisor untuk produk-produk internasional khususnya dari negara-negara Eropa, Asia dan Australia. Sedikit lebih lebar dari posisi di perusahaan sebelumnya. Tentu akan lebih banyak tantangannya yang berarti juga akan dilimpahi ilmu serta pengalaman yang lebih mendalam.
![]() |
| Masa-masa bekerja di Sony Music |
Saya ucapkan mohon maaf jika ada kesalahan selama di Sony Music terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua dukungan serta bantuan rekan kerja selama di Sony Music terutama dari departemen Marketing. Terima kasih yang lebih spesial untuk atasan saya, mas Fajar Indroharyo yang bisa disebut sebagai salah satu dari tak banyak dedengkot pemasar musik internasional di Indonesia dengan belasan tahun pengalaman. Hormat dan terima kasih luar biasa juga untuk Ken Isayama, VP International Marketing Sony Music Japan dan timnya yang dengan sangat bersahaja mempercayakan proyek musik Jepang serta memberi dukungan sangat besar untuk mengembangkan musik Jepang di Indonesia dan sebaliknya.
Hari ini sudah genap 1 minggu saya bergabung di Universal Music Indonesia. Rasanya tak canggung di tempat ini dengan kawan-kawan satu tim yang sudah saya kenal lama. Semoga saya bisa membawa kebaikan bagi semua anggota tim. Akhirnya saya akhiri tulisan ini dengan mengutip status di Blackberry Messenger atasan saya, om Peter Hendarmin, "..after all, MUSIC is UNIVERSAL"
Well said, boss..
Thursday, February 12, 2015
Lowongan di Sony Music
Mau kerja di perusahaan rekaman International? Tertarik kerja di lingkungan industri musik yang kreatif dan dinamis.
Ini ada lowongan di Sony Music Entertainment Indonesia. Diambil dari postingan rekan saya Nabil, Senior Manager - Local Repertoire, Sony Music Entertainment Indonesia.

Ini bisa jadi awalan karir yang bagus buat belajar tentang industri musik.
Selamat mencoba dan good luck!
Monday, February 9, 2015
Sejarah Panjang Beck dan Grammy
![]() |
| (Credit: https://www.facebook.com/Beck) |
Pagi ini banyak penikmat musik dan pelaku industri musik memantau ajang Grammy Awards ke-57. Salah satu hal yang paling mengejutkan dan jadi perbincangan adalah pada kategori bergengsi, Album of The Year yang dinobatkan pada album “Morning Phase” dari Beck.
Nama Beck memang tidak
menghiasi berita dan media sosial sepanjang tahun 2014. Ia merilis
album “Morning Phase” bulan Februari tahun 2014 dan menduduki
posisi #3 di Billboard 200 saat debutnya. Publikasi atas album ini
memang kalah jauh dibanding album lain yang jadi nominasi Grammy
kategori Album of The Year. Album “BeyoncĂ©” dari BeyoncĂ© jadi
buah bibir di akhir tahun 2013 lewat rilisan mengagetkan dan tanpa
proses promosi pra-rilis. “X” dari Ed Sheeran juga masuk jajaran
album terlaris 2014, Sam Smith dengan “In The Lonely Hour”
mungkin memiliki lagu-lagu balada terkuat tahun ini, “G I R L”
dari Pharrell Williams memuat lagu “Happy” yang bukan cuma jadi
hits tapi mampu membangun sebuah gerakan global. Sementara Beck
Hansen tak mendapat popularitas serupa.
Saya tertarik untuk
membahas kemenangan Beck bukan dari sisi apa yang ditawarkan
albumnya, karena itu hanya akan menjadi sebuah album review. Namun
perbincangan di media sosial adalah mengenai anak muda dan remaja
yang mungkin tak tahu siapa Beck. Publikasi yang kurang juga seakan
menghalanginya untuk jadi pemenang Album of The Year. Sebenarnya
kalau melihat sejarah Beck di ajang Grammy, tak mengejutkan jika ia
meraihnya tahun ini.
Beck mendapat nominasi
Grammy pertamanya tahun 1995 untuk kategori Best
Male Rock Vocal Performance lewat lagu “Loser”. Bayangkan,
itu terjadi 20 tahun lalu! Saat itu ia bersaing dengan Peter Gabriel,
Van Morrison, Bruce Springsteen dan Neil Young. Ia dikalahkan Bruce
Springsteen denga “Street of Philadelphia” yang membahana di
seluruh dunia lewat film “Philadelphia”.
Dua tahun kemudian, di tahun 1997 Beck kembali lagi masuk jajaran nominator. Tidak tanggung-tanggung kategorinya Album of The Year untuk albumnya yang berjudul “Odelay”. Dua nominasi lainnya adalah Best Male Rock Vocal Performance lewat lagu "Where It's At" dan Best Alternative Music Performance lewat album “Odelay” yang keduanya berhasil ia menangkan.
Tahun 2000 Beck kembali
meraih kemenangan Grammy lewat album “Mutations”. Kategori yang
ia menangkan adalah Best Alternative Music
Performance. Album ini bersaing album-album dari Fatboy Slim, Tori
Amos, Moby dan Nine Inch Nails. Setahun kemudian, tahun 2001 Beck
kembali meraih nominasi Album of The Year lewat album “Midnite
Vultures”. Bersaing dengan “Kid A” Radiohead, “Marshall
Mathers LP” Eminem, “You're The One” Paul Simon, “Two Against
Nature” Steely dan, Beck masih harus mengakui keunggulan Steely Dan
saat itu. Di kategori Best Alternative Music Album, ia dikalahkan
oleh Radiohead yang di tahun tersebut punya album “Kid A” yang
sangat kuat.
Tahun
2003 ia mendapat nominasi lagi untuk kategori Best Alternative Music
Album. Kali ini untuk album “Sea Change”. Sayangnya ia tidak
memenangkannya. Lanjut ke tahun 2006, Beck kembali mendapat nominasi
di kategori yang sama lewat albumnya yang bertitel “Guero”. Tahun
2007 lewat lagu “nausea” Beck dinominasikan pada ajang Grammy
untuk kategori Best Solo Rock Vocal Performance. Nominasi untuk
kategori yang sama didapatkannya lagi di tahun 2008 lewat lagu
“Timebomb”. Album “Modern Guilt” membawa Beck ke ajang Grammy
tahun 2009 dengan nominasi Best Alternative Music Album. Danger Mouse
yang menjadi produser album ini juga mendapat nominasi untuk kategori
Producer Of The Year, Non-Classical.
6
tahun kemudian, tahun 2015, Beck muncul sebagai musisi yang cukup
senior dibanding pesaingnya. Ia pun menjadi penampil bersama Chris
Martin menyanyikan lagu dari album “Morning Phase” berjudul
“Heart Is A Drum”. Total nominasi yang ia (termasuk karya dan
timnya) raih juga tak sedikit, 5 kategori. Dua nominasi yang tak
dimenangkannya adalah Best Rock Performance yang dimenangkan
“Lazaretto”-nya Jack White dan Best Rock Song yang dimenangkan
“Ain't It Fun” dari Paramore. Mari kita bahas tiga kategori yang
dimenangkannya tahun ini.
Grammy
pertama, adalah untuk kategori Best Engineered Album, Non-Classical
yang dimenangkan “Morning Phase” memang bukan ditujukan untuk
Beck pribadi namun lebih ke tim sound engineer yang mengerjakan
album. Tercatat nama Tom Elmhirst, David
Greenbaum, Florian Lagatta, Cole Marsden, Greif Neill, Robbie Nelson,
Darrell Thorp, Cassidy Turbin & Joe Visciano sebagai engineers
dan Bob Ludwig sebagai mastering engineer.
Kategori
kedua yang dimenangkannya adalah Best Rock Album. Ia tahun ini
mengalahkan nama legendaris U2 dengan album “Songs of Innocence”
yang menjadi berita besar lewat langkah memberi cuma-cuma ke pengguna
iTunes di seluruh dunia. Selain itu nama lain yang dikalahkannya.
Selain itu ada album ke-14 dari Ryan Adams yang diberi judul namanya
sendiri; album “Hypnotic Eye” dari band lawas Tom
Petty and the Heartbreakers yang
untuk pertama kalinya album mereka menduduki posisi puncak Billboard
200 saat debut; serta album “Turn Blue” dari The Black Keys yang
juga debut di posisi puncak Billboard 200.
Kategori
terakhir dan yang paling bergengsi tentunya Album of The Year.
Pencapaiannya ini bahkan membuat banyak orang bingung. Kanye West
bahkan hampir menginterupsi proses penyerahan piala tersebut.
Bayangkan Beck bertarung melawan album-album raksasa yang sukses luar
biasa dan mendapat pujian dari kalangan kritikus. Mengutip pada
website Grammy Awards, pertimbangan besar dari sebuah penghargaan
Grammy adalah sebagai berikut
“The
GRAMMYs are the only peer-presented award to honor artistic
achievement, technical proficiency and overall excellence in the
recording industry, without regard to album sales or chart position.”
(http://www.grammy.org/recording-academy)
Jika
melihat penjelasan itu, tentunya ini bukan masalah popularitas
semata. Tangga lagu dan catatan penjualan juga tak serta-merta jadi
penentunya. Faktor estetika, kualitas, teknis pengerjaan, dan banyak
faktor lain bisa menjadi penilaian. Pada akhirnya memang Beck lah
juara kategori Album of The Year, dan bukan hal aneh jika melihat
bahwa ia sudah punya sejarah panjang ketika kita bicara Grammy
dibanding nominator lain. Salut untuk Beck!
Subscribe to:
Posts (Atom)








