Showing posts with label Karir. Show all posts
Showing posts with label Karir. Show all posts

Saturday, April 11, 2015

Lowongan di Jaben Store


Satu lagi lowongan yang ada hubungannya dengan industri musik. Kali ini lowongan pekerjaannya dari ranah retail store perangkat audio. Toko Jaben cukup populer di kalangan penyuka audio sebagai tempat belanja perangkat audio terutama yang berhubungan dengan headphone atau earphone. Nggak sedikit penyanyi dan musisi profesional yang saya tau pernah jadi pelanggan di Jaben misalnya Astrid.

Pekerjaan ini cukup seru buat kamu yang gemar dunia audio dan suka bergaul. Berhubungan baik dengan pelanggan, mampu jadi teman diskusi mengenai audio hingga memberi solusi kebutuhan audio bagi pelanggan tampaknya akan sangat dibutuhkan dalam pekerjaan ini.

Monday, March 9, 2015

Interview Majalah "Mutiara Biru" (Blue Bird Group)


Hari ini bertepatan dengan Hari Musik Nasional tanggal 9 Maret, saya menerima satu eksemplar majalah Mutiara Biru yang merupakan majalah resmi perusahaan taksi terbesar di Indonesia, Blue Bird Group. Saya diwawancarai oleh jurnalisnya, mbak Johana beberapa minggu lalu.

Mengutip sedikit jawaban saya dalam wawancara tersebut rasanya pas untuk saya tekankan untuk Hari Musik Nasional.

"Jadi, tutupnya toko musik hanya puncak gunung es permasalahan. Semua pihak harus bahu-membahu melindungi industri kreatif. Indonesia adalah bangsa yang kreatif, sayang sekali kalau secara ekonomi tidak dapat terapresiasi".

Untuk lengkapnya bisa disimak lebih lanjut di majalah Mutiara Biru dalam armada taksi Blue Bird Group atau secara digital gratis di aplikasi Scoop dengan tautan berikut:
http://www.getscoop.com/magazines/mutiara-biru

Selamat Hari Musik Nasional!

Pekerjaan Baru (Di Tempat Lama)


Awal tahun 2015 ini saya mengambil keputusan untuk hijrah kembali ke tempat saya mengawali karir di dunia label rekaman. Per bulan Maret 2015 akhirnya saya kembali bergabung ke Universal Music Indonesia setelah 4 tahun berkarya di Sony Music Entertainment Indonesia. Ya, sebelum saya bergabung dengan Sony Music memang saya pernah bekerja di Universal Music Indonesia selama dua tahun sebagai staf promosi yang fokus pada media online termasuk media sosial. Posisi yang saya pegang sekarang adalah Senior Marketing Supervisor untuk produk-produk internasional khususnya dari negara-negara Eropa, Asia dan Australia. Sedikit lebih lebar dari posisi di perusahaan sebelumnya. Tentu akan lebih banyak tantangannya yang berarti juga akan dilimpahi ilmu serta pengalaman yang lebih mendalam.
Masa-masa bekerja di Sony Music
Saya ucapkan mohon maaf jika ada kesalahan selama di Sony Music terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua dukungan serta bantuan rekan kerja selama di Sony Music terutama dari departemen Marketing. Terima kasih yang lebih spesial untuk atasan saya, mas Fajar Indroharyo yang bisa disebut sebagai salah satu dari tak banyak dedengkot pemasar musik internasional di Indonesia dengan belasan tahun pengalaman. Hormat dan terima kasih luar biasa juga untuk Ken Isayama, VP International Marketing Sony Music Japan dan timnya yang dengan sangat bersahaja mempercayakan proyek musik Jepang serta memberi dukungan sangat besar untuk mengembangkan musik Jepang di Indonesia dan sebaliknya.

Hari ini sudah genap 1 minggu saya bergabung di Universal Music Indonesia. Rasanya tak canggung di tempat ini dengan kawan-kawan satu tim yang sudah saya kenal lama. Semoga saya bisa membawa kebaikan bagi semua anggota tim. Akhirnya saya akhiri tulisan ini dengan mengutip status di Blackberry Messenger atasan saya, om Peter Hendarmin, "..after all, MUSIC is UNIVERSAL"

Well said, boss..


Wednesday, July 2, 2014

Pengalaman Luar Biasa Dibalik Album "Ken's Bar III"


Ada cerita istimewa buat saya tentang album terbaru seri "Ken's Bar" dari Ken Hirai yaitu album "Ken's Bar III". Saya mendapat kesempatan berharga yaitu hadir dalam salah satu proses pembuatan album ini di Jepang. Saya waktu itu diundang ke Sony Music Studio di Nogizaka oleh teman kerja namanya URU yang juga merupakan produser salah satu track dalam album ini yaitu lagu "Virtual Insanity.

URU merupakan seorang produser dari Jepang yang mendirikan sebuah perusahaan produksi musik bernama SJ Factory yang berbasis di Tokyo. SJ Factory menaungi banyak produser dan pencipta lagu lintas bangsa terutama Jepang dan Korea. URU bukan orang baru di dunia musik, sempat menjajal karir juga sebagai personil sebuah grup R&B bernama IZ di tahun 90an hingga akhirnya memilih untuk menjadi produser, pencipta lagu dan remixer lepas. Di belakang layar, ia pernah bekerjasama dengan nama besar di negeri Sakura seperti Chemistry, Crystal Kay, JUJU, orange pekoe, Sowelu, Akina Nakamori, dan tentunya Ken Hirai. Saya mengawali perkenalan dengannya ketika mengerjakan proyek perilisan album orange pekoe di Indonesia. Sejak itu kami beberapa kali bekerjasama dan terutama yang paling intens adalah ketika URU menjadi Show/Music Director dalam event J-Music LAB selama sebulan penuh.

Kembali ke cerita mengenai album "Ken's Bar III", di dalamnya terdapat lagu "Virtual Insanity" yang pernah dipopulerkan oleh Jamiroquai dan kini dibawakan ulang oleh Ken Hirai dengan URU sebagai produsernya. Kabar ini sudah saya terima sejak sebelum keberangkatan ke Jepang bulan Februari lalu dalam rangka perjalanan bisnis. Kebetulan sekali, URU menawarkan untuk menunjukkan Sony Music Studio ketika saya disana. Tentunya tawaran ini tidak saya sia-siakan. Kapan lagi bisa melihat salah satu studio rekaman terbaik di Asia, apalagi dinaungi nama besar Sony di tanah airnya sendiri. Jadilah ia mengatur jadwal di suatu hari agar saya sempat merasakan proses kreatif di  studio tersebut, kebetulan ia sedang menggarap proses mixing dari track "Virtual Insanity". Saya datang dan dibuat terpana dengan studio ini yang terletak di kawasan legendaris Sony Music yaitu Nogizaka. Gedungnya begitu besar dan mewah, studio terdapat di bagian bawah tanah dengan dinding tebal yang tentunya dari segi akustik sangat mendukung. Di dalam gedung ada beberapa studio yang berbeda-beda ukuran, kebetulan studio yang kali ini digunakan adalah yang terbesar. Sungguh bikin terpana.




Masuk kedalam ruangan studio, ada ruangan artis, gudang alat rekam analog dan instrumen-instrumen yang pastinya begitu bersejarah. Sebuah keyboard Rhodes berdiri di salah satu sudutnya. Ada ruangan besar sebagai ruang rekam utama yang dikelilingi bilik berdinding dan pintu kaca sebagai vocal booth, dan tempat rekaman untuk intrumen spesifik lainnya. Berhubung kali ini hanya akan ada pengerjaan mixing jadi kita kembali ke ruang konsol. Disitu saya mengamati pengerjaan mixing lagu yang digarap jadi bergaya swing dan jazz dengan iringan big band yang kaya intstrumen. Ada 3 orang yang aktif bekerja, URU, seorang sound engineer (saya lupa namanya) dan seorang asisten produksi dari pihak Sony Music Studio.





Ditengah-tengah pengerjaan, datanglah sang bintang, Ken Hirai! Ia masuk ke studio dengan santai, lalu URU-san mengenalkan saya ke dia, what an honor! Sayangnya tidak bisa berfoto ria karena artis Jepang cukup ketat mengenai jeprat-jepret foto. Meskipun begitu, bertemu bintangnya di studio sembari mengamati produser dan engineer top Jepang mengerjakan sebuah track di salah satu studio terbaik di Asia, tentunya pengalaman itu sudah sangat istimewa bagi saya.

Pengalaman seperti ini yang tak ternilai buat saya. Terima kasih untuk mentor-mentor saya, Isayama-san (Sony Music Japan) dan URU-san yang memberikan serta mempercayakan banyak kesempatan juga pengetahuan tentang industri musik Jepang. 

Sekarang album "Ken's Bar III" sudah kami rilis di Indonesia dan 1 copy ada diatas meja saya. Album ini tentunya akan selalu membawa saya ke memori tentang sebuah pencapaian.


Monday, December 16, 2013

Sebuah Renungan tentang Etos Kerja

Minggu ini, sebuah berita sedih membuat was-was banyak orang. Kejadian itu adalah kisah meninggalnya Mita Diran, seorang copywriter sebuah agensi periklanan yang diduga karena terlalu lama bekerja tanpa istirahat yang cukup ditambah konsumsi minuman energi yang berlebihan. Melalui media sosial, screenshot dari postingan keluarganya mengundang banyak reaksi. Saya yakin, reaksi itu karena banyak sekali diantara kita yang memiliki pola kerja serupa. Apalagi di lingkungan industri kreatif, bukan keanehan kalau harus menginap di kantor karena deadline, penyelenggaraan event, ataupun pentas/pameran/syuting/ dll. Begitu pun di dunia kerja yang saya jalani, industri musik.

Jujur, saya pun pernah bekerja sampai sekian hari tanpa tidur yang cukup serta asupan makanan dengan gizi baik. Bahkan bisa dibilang sepanjang saya masuk ke dunia kerja, mayoritas jam kerja diatas 9-10 jam. Sakit karena kecapean bukan 1-2 kali tapi hampir setiap tahun pasti beberapa kali. Saya sudah pernah tifus, kalau hanya flu, radang tenggorokan sih nggak bisa saya hitung lagi dengan jari. Yang terbaru mungkin beberapa minggu lalu ketika saya radang kandung empedu hingga harus dilarikan ke UGD. Dokter selalu mengatakan hal yang sama, semua selalu akibat terlalu capek bekerja dan pola makan yang tidak benar. Istri saya lah yang selalu jadi malaikat penyelamat karena terus mengingatkan bahwa saya harus selalu ingat batasan diri.

Pesan istri setelah mendapat berita tentang musibah Mita Diran.

Berkaca pada pengalaman saya sendiri, saya pun melihat sekeliling saya dan memang hampir semua yang pekerjaannya sejenis pernah sakit karena kecapekan. Tifus, sakit kuning, liver, empedu, ginjal, serangan jantung, stroke, itu banyak sekali terjadi. Lihat saja pemberitaan tentang artis-artis berjadwal padat yang tumbang karena sakit. Bayangkan orang-orang dibelakangnya yang tidak terekspos media.

Apa yang salah? Kenapa sampai sebuah karir begitu beresiko terhadap kesehatan kita? Kenapa pelaku industri kreatif banyak yang terjebak di kondisi kesehatan buruk semacam ini?

Mari kita kembalikan ke diri sendiri untuk menjawab pertanyaan ini.

Saya memilih pekerjaan ini karena saya mencintai bidangnya. Sebagian besar pekerja kreatif mungkin akan menjawab hal yang sama jika ditanya mengenai bidang yang mereka jalankan. Banyak sekali kalimat motivasi yang mengajak kita mencintai pekerjaan kita. Itulah yang dijalani banyak orang di industri ini. Saya merasakan satu kekurangan dari hal ini. Karena saking mencintai bidang ini, saya tidak merasa pekerjaan saya berat. Padahal fisik saya mungkin sudah tidak sanggup lagi.

Istri saya juga selalu bilang saya angkuh terutama pada diri saya sendiri. Saya selalu berpikiran, kalau orang lain bisa kenapa saya tidak. Ternyata hal ini juga bisa jadi bumerang kalau kita tidak paham batas kita.

Beban pekerjaan pun memang di saat puncak bisa begitu banyak hingga dirasa tidak cukup 24 jam dalam sehari untuk menyelesaikannya. Bayangkan jika sedang menggelar event atau mengatur kegiatan artis internasional. Pekerjaan bisa dimulai jam 6 pagi dan selesai jam 11 malam, dilanjutkan persiapan esok hari bisa hingga jam 2 pagi. Hanya punya 2-5 jam tidur selama beberapa hari, dengan kondisi jam makan yang tak tentu. Karena memang begitu kondisinya selama ini. Alhamdulillah di akhir rangkaian pekerjaan semacam itu saya selalu mendapat libur yang bisa melegakan sedikit.

Libur? Ini pun rancu, karena sebagai seorang ayah dan kepala keluarga, waktu libur itu bukannya bisa istirahat tapi harus melakukan pekerjaan rumah tangga porsi seorang kepala keluarga. Mengantar anak imunisasi, belanja bulanan, benerin mobil, melakukan perbaikan-perbaikan kecil di rumah, menjaga hubungan sosial dengan keluarga besar, dll. Belum lagi kalau ada musibah-musibah lain yang menguras tenaga dan pikiran. Semua tentu dialokasikan waktunya saat libur.

Perjalanan dari dan ke tempat kerja juga begitu meletihkan. Lokasi tempat tinggal saya kurang bersahabat dengan lokasi kantor. Untuk pulang pergi dengan mobil saya harus menghabiskan 2-4 jam di jalan, dengan  Metro Mini + Transjakarta 3-4 jam, dengan kendaran pribadi + Transjakarta 2 jam. Sayangnya kalau harus naik kereta kurang nyaman karena harus naik Metro Mini, kemudian harus berganti stasiun. Untuk tinggal di tempat yang lebih dekat dengan kantor juga butuh biaya yang besar kalau mau tempat yang nyaman, aman dan bersih. Apalagi saya punya anak yang masih belum genap 1 tahun.

Jadi kapan istirahatnya?

Istirahat bisa benar-benar saya rasakan hanya saat libur panjang lebaran, libur panjang karena cuti bersama atau cuti diatas 2 hari. Karena biasanya dua hari libur hanya akan habis untuk urusan pekerjaan sebagai kepala rumah tangga. di hari ketiga, baru saya bisa istirahat fisik dan pikiran.

Siapa dan apa yang perlu diperbaiki agar tidak terjadi lagi musibah semacam ini?
Apakah secara pribadi, cara, mental dan aktualisasi kerja saya kurang tepat sehingga harus menghabiskan waktu dan energi yang luar biasa untuk menyelesaikan segala pekerjaan?

Apakah beban pekerjaan yang ditugaskan melebihi kapasitas kemampuan saya?
Apakah ada yang salah dengan sistem kerja di industri kreatif?
Apakah kalimat motivasional yang dipropagandakan harus ditinjau ulang?
Apakah harus ada perubahan kultur kerja oleh semua pelaku industri ini?
Apakah orang-orang yang "maju terus pantang mundur" ini perlu konseling mengenai etos kerjanya yang berlebihan? (saya pun kini merasa perlu konsultasi psikis kalau etos kerja saya sudah membahayakan kesehatan)

Mari kita jawab bersama sambil terus menjaga kesehatan diri sendiri dan ingatkan teman-teman kita. Musibah yang terjadi pada Mita Diran membuka mata saya. Beri masukan pada atasan-atasan kita kalau melihat rekan kerja yang sudah terlihat lemah. Paksa rekan kita untuk istirahat/libur/berobat/dll kalau kita sudah melihat gejala kelelahan. Karena seperti yang saya alami, ketika kelelahan, saya tetap tidak akan mengakui dan terus "pushing myself to the limit".

Lewat pesan dari istri, saya kini semakin sadar bahwa pencapaian karir itu tak seberapa dibanding pengalaman membesarkan anak kami. Prestasi dunia kerja akan terasa begitu kerdil dibanding melihat anak saya mengangkat piala pertamanya. Betapa indahnya kalau rekan-rekan kerja kita pun bisa menikmati hal serupa di masa depan mereka.

Life is not about money. Life is not about fame. Life is about who and what you love, and loves you.

Akhir kata, tulisan ini bukan obituari untuk Mita Diran seorang, tapi untuk semua yang pernah tumbang, kesakitan bahkan meninggal karena dedikasinya.

Saya pribadi menjadikan tulisan ini sebagai monumen untuk mengingatkan bahwa saya berjanji untuk kerja dengan sehat, demi orang-orang yang saya cintai.