Thursday, February 12, 2015

Lowongan di Sony Music

Mau kerja di perusahaan rekaman International? Tertarik kerja di lingkungan industri musik yang kreatif dan dinamis.

Ini ada lowongan di Sony Music Entertainment Indonesia. Diambil dari postingan rekan saya Nabil, Senior Manager - Local Repertoire, Sony Music Entertainment Indonesia.

Ini bisa jadi awalan karir yang bagus buat belajar tentang industri musik.

Selamat mencoba dan good luck! 

Monday, February 9, 2015

Sejarah Panjang Beck dan Grammy

(Credit: https://www.facebook.com/Beck)

Pagi ini banyak penikmat musik dan pelaku industri musik memantau ajang Grammy Awards ke-57. Salah satu hal yang paling mengejutkan dan jadi perbincangan adalah pada kategori bergengsi, Album of The Year yang dinobatkan pada album “Morning Phase” dari Beck.

Nama Beck memang tidak menghiasi berita dan media sosial sepanjang tahun 2014. Ia merilis album “Morning Phase” bulan Februari tahun 2014 dan menduduki posisi #3 di Billboard 200 saat debutnya. Publikasi atas album ini memang kalah jauh dibanding album lain yang jadi nominasi Grammy kategori Album of The Year. Album “Beyoncé” dari Beyoncé jadi buah bibir di akhir tahun 2013 lewat rilisan mengagetkan dan tanpa proses promosi pra-rilis. “X” dari Ed Sheeran juga masuk jajaran album terlaris 2014, Sam Smith dengan “In The Lonely Hour” mungkin memiliki lagu-lagu balada terkuat tahun ini, “G I R L” dari Pharrell Williams memuat lagu “Happy” yang bukan cuma jadi hits tapi mampu membangun sebuah gerakan global. Sementara Beck Hansen tak mendapat popularitas serupa.

(Credit: https://www.facebook.com/Beck)
Saya tertarik untuk membahas kemenangan Beck bukan dari sisi apa yang ditawarkan albumnya, karena itu hanya akan menjadi sebuah album review. Namun perbincangan di media sosial adalah mengenai anak muda dan remaja yang mungkin tak tahu siapa Beck. Publikasi yang kurang juga seakan menghalanginya untuk jadi pemenang Album of The Year. Sebenarnya kalau melihat sejarah Beck di ajang Grammy, tak mengejutkan jika ia meraihnya tahun ini.

Beck mendapat nominasi Grammy pertamanya tahun 1995 untuk kategori Best Male Rock Vocal Performance lewat lagu “Loser”. Bayangkan, itu terjadi 20 tahun lalu! Saat itu ia bersaing dengan Peter Gabriel, Van Morrison, Bruce Springsteen dan Neil Young. Ia dikalahkan Bruce Springsteen denga “Street of Philadelphia” yang membahana di seluruh dunia lewat film “Philadelphia”.


Dua tahun kemudian, di tahun 1997 Beck kembali lagi masuk jajaran nominator. Tidak tanggung-tanggung kategorinya Album of The Year untuk albumnya yang berjudul “Odelay”. Dua nominasi lainnya adalah Best Male Rock Vocal Performance lewat lagu "Where It's At" dan Best Alternative Music Performance lewat album “Odelay” yang keduanya berhasil ia menangkan.

Tahun 2000 Beck kembali meraih kemenangan Grammy lewat album “Mutations”. Kategori yang ia menangkan adalah Best Alternative Music Performance. Album ini bersaing album-album dari Fatboy Slim, Tori Amos, Moby dan Nine Inch Nails. Setahun kemudian, tahun 2001 Beck kembali meraih nominasi Album of The Year lewat album “Midnite Vultures”. Bersaing dengan “Kid A” Radiohead, “Marshall Mathers LP” Eminem, “You're The One” Paul Simon, “Two Against Nature” Steely dan, Beck masih harus mengakui keunggulan Steely Dan saat itu. Di kategori Best Alternative Music Album, ia dikalahkan oleh Radiohead yang di tahun tersebut punya album “Kid A” yang sangat kuat.

Tahun 2003 ia mendapat nominasi lagi untuk kategori Best Alternative Music Album. Kali ini untuk album “Sea Change”. Sayangnya ia tidak memenangkannya. Lanjut ke tahun 2006, Beck kembali mendapat nominasi di kategori yang sama lewat albumnya yang bertitel “Guero”. Tahun 2007 lewat lagu “nausea” Beck dinominasikan pada ajang Grammy untuk kategori Best Solo Rock Vocal Performance. Nominasi untuk kategori yang sama didapatkannya lagi di tahun 2008 lewat lagu “Timebomb”. Album “Modern Guilt” membawa Beck ke ajang Grammy tahun 2009 dengan nominasi Best Alternative Music Album. Danger Mouse yang menjadi produser album ini juga mendapat nominasi untuk kategori Producer Of The Year, Non-Classical.

6 tahun kemudian, tahun 2015, Beck muncul sebagai musisi yang cukup senior dibanding pesaingnya. Ia pun menjadi penampil bersama Chris Martin menyanyikan lagu dari album “Morning Phase” berjudul “Heart Is A Drum”. Total nominasi yang ia (termasuk karya dan timnya) raih juga tak sedikit, 5 kategori. Dua nominasi yang tak dimenangkannya adalah Best Rock Performance yang dimenangkan “Lazaretto”-nya Jack White dan Best Rock Song yang dimenangkan “Ain't It Fun” dari Paramore. Mari kita bahas tiga kategori yang dimenangkannya tahun ini.

Grammy pertama, adalah untuk kategori Best Engineered Album, Non-Classical yang dimenangkan “Morning Phase” memang bukan ditujukan untuk Beck pribadi namun lebih ke tim sound engineer yang mengerjakan album. Tercatat nama Tom Elmhirst, David Greenbaum, Florian Lagatta, Cole Marsden, Greif Neill, Robbie Nelson, Darrell Thorp, Cassidy Turbin & Joe Visciano sebagai engineers dan Bob Ludwig sebagai mastering engineer.

Kategori kedua yang dimenangkannya adalah Best Rock Album. Ia tahun ini mengalahkan nama legendaris U2 dengan album “Songs of Innocence” yang menjadi berita besar lewat langkah memberi cuma-cuma ke pengguna iTunes di seluruh dunia. Selain itu nama lain yang dikalahkannya. Selain itu ada album ke-14 dari Ryan Adams yang diberi judul namanya sendiri; album “Hypnotic Eye” dari band lawas Tom Petty and the Heartbreakers yang untuk pertama kalinya album mereka menduduki posisi puncak Billboard 200 saat debut; serta album “Turn Blue” dari The Black Keys yang juga debut di posisi puncak Billboard 200.

Kategori terakhir dan yang paling bergengsi tentunya Album of The Year. Pencapaiannya ini bahkan membuat banyak orang bingung. Kanye West bahkan hampir menginterupsi proses penyerahan piala tersebut. Bayangkan Beck bertarung melawan album-album raksasa yang sukses luar biasa dan mendapat pujian dari kalangan kritikus. Mengutip pada website Grammy Awards, pertimbangan besar dari sebuah penghargaan Grammy adalah sebagai berikut

The GRAMMYs are the only peer-presented award to honor artistic achievement, technical proficiency and overall excellence in the recording industry, without regard to album sales or chart position.” (http://www.grammy.org/recording-academy)


Jika melihat penjelasan itu, tentunya ini bukan masalah popularitas semata. Tangga lagu dan catatan penjualan juga tak serta-merta jadi penentunya. Faktor estetika, kualitas, teknis pengerjaan, dan banyak faktor lain bisa menjadi penilaian. Pada akhirnya memang Beck lah juara kategori Album of The Year, dan bukan hal aneh jika melihat bahwa ia sudah punya sejarah panjang ketika kita bicara Grammy dibanding nominator lain. Salut untuk Beck!


Thursday, February 5, 2015

Audio Resolusi Tinggi: Mainan Baru Industri Musik dan Teknologi


Apakah kamu orang yang rewel dengan kualitas audio dari musik yang kamu dengarkan? Kalau iya, sudah saat nya kamu cari tahu lebih banyak tentang Audio Resolusi Tinggi / Hi-Res Audio. Perihal mengenai signifikan-tidaknya sebuah file audio dalam kualitas hi-res sebenarnya masih menjadi perdebatan di kalangan audiophile. Banyak anggapan bahwa penilaian lebih bagus atau tidaknya kualitas audio adalah sugesti saja karena pada akhirnya kemampuan pendengaran manusia ada batasnya. Mengesampingkan perdebatan itu, nyatanya teknologi kualitas audio terus saja dikembangkan dan kini banyak yang berlomba merebut pasar tersebut.

Istilah Hi-Res Audio biasa digunakan untuk file rekaman suara diatas spesifikasi sampling standar CD audio yang selama ini digunakan yaitu 16-bit/44.1kHz. Biasanya sampling yang banyak digunakan yaitu 24-bit/96kHz. Beberapa format file yang popular adalah WAV, AIFF, FLAC, ALAC dan beberapa format lain. Peningkatan spesifikasi tentunya berpengaruh ke ukuran file menjadi lebih besar. Namun bagi penikmat musik, terkadang kualitas audio memang perlu dipertimbangkan.


Di luar perusahaan yang memang fokus ke dunia audio, teknologi Hi-Res Audio kini begitu diminati produsen gadget terkemuka seperti Sony dan Microsoft. Layanan penyedia musik juga mulai menarik minat konsumen dan investor. Apakah ini akan menjadi ruang gerak baru dalam perkembangan bisnis musik?

Secara pribadi, saya cukup rewel dengan kualitas audio karena dibiasakan mengenali dan melakukan pengaturan perangkat audio dengan baik sejak kecil oleh bapak saya. Minat saya pun makin besar pada bidang audio apalagi saya bekerja di bidang musik. Mengikuti perkembangan teknologi audio jadi wajib hukumnya bagi para “audiophile” alias penggila audio yang mengejar kualitas terbaik dalam mendengarkan musik. Salah satu yang banyak jadi pembicaraan ada mengenai format sumber musik, misalnya CD, piringan hitam atau file digital yang diputar menggunakan peranti portable sejenis iPod atau multimedia player. Perangkat lainnya seperti Amplifier, speaker, DAC (Digital-Audio Converter), hingga kabel juga jadi pertimbangan. Berbagai elemen inilah yang akhirnya membuka peluang-peluang baru seiring datangnya era Hi-Res Audio.

Sony Walkman NW-ZX2
Sony tahun ini merilis perangkat Walkman seri NW-ZX2 seharga 1200 Dollar AS. Sebelumnya Sony sudah mengembangkan perangkat untuk Hi-Res Audio lewat berbagai produk seperti amplifier portable, DAC, Amplifier, Speaker, Headphone, Earphone terbarunya. Namun kehadiran NW-ZX2 yang menjadi sorotan karena bandrol harga yang fantastis tersebut cukup berani di tengah pasar pemutar musik yang rentang harganya begitu lebar. Untuk membeli pemutar musik berspesifikasi rendah dengan merk yang juga tak jelas, kita cukup merogoh kocek sekitar Rp.100.000. Bayangkan sebuah pemutar musik seharga lebih dari Rp. 12 juta! Sony melihat cukup luas lewat pengembangan Hi-Res Audio ini.

Merujuk website Sony (Asia), mereka mengarahkan pengguna perangkat Hi-Res Audio untuk membeli musik ke beberapa layanan yaitu 2L (https://shop.klicktrack.com/2l), Naim Label (http://www.naimlabel.com/), Linn Records (http://www.linnrecords.com/), HifiTrack (http://www.hifitrack.com/en) dan beberapa nama lain. Kemitraan dengan penyedia layanan musik berkualitas Hi-Res Audio harus dilakukan. Bayangkan jika pembeli perangkat mahal ini akhirnya sulit mendapatkan konten untuk dimainkan, mubazir kan?

Nokia N1
Bergeser ke nama besar lain, Microsoft juga tampaknya melirik kepopuleran Hi-Res Audio. Gabriel Aul dari Windows Insider mengunggah sebuah screen-capture dari sistem operasi Windows 10 yang menunjukkan kompatibilitas dengan format musik FLAC. Berita ini menjadi perbincangan para audiophile karena memutar file FLAC akan menjadi semakin mudah. Nokia (yang juga sudah diakusisi oleh Microsoft) tampaknya juga memperhatikan kebutuhan audio yang baik. Tablet Nokia N1 menggunakan Wolfson WM895 sebagai chip DAC. Chip ini punya reputasi tinggi di kalangan audiophile karena mampu menghasilkan kualitas audio yang lebih baik.


Kini mari melihat perkembangan di sisi layanan penyedia musiknya. Nama yang sudah lebih popular di dunia Hi-Res Audio adalah HDTracks. Di tengah keriuhan penetrasi pasar ini, HDTracks belum terlihat melakukan manuver signifikan. Pengembangan bisnis terkini dari perusahaan asal New York ini salah satunya dengan melebarkan sayap lewat dibukanya kantor HDTracks di Inggris dan Jerman bulan September 2014 lalu.

PonoPlayer
Selebriti juga mulai melirik ranah bisnis Hi-Res Audio. Neil Young terjun ke dunia Hi-Res Audio lewat perusahaannya, PonoMusic. Perusahaan ini menjalankan bisnis layanan unduhan musik dalam format Hi-Res Audio dan juga memproduksi pemutar musik portable. Jay Z baru saja membeli Aspiro, perusahaan Swedia pemilik layanan WiMP dan Tidal. Tidal adalah layanan streaming musik dalam format Hi-Res. Saat ini layanan streaming musik sedang menjadi primadona baru lewat kesuksesan Spotify memperoleh pasar yang signifikan. Tidal bisa jadi jawaban untuk mereka yang nyaman dengan layanan streaming musik namun menginginkan kualitas audio yang maksimal.

Segala perkembangan dalam dunia Hi-Res Audio tentu menghadapi hambatan juga. Ukuran file yang lebih besar membutuhkan koneksi dan kuota internet yang lebih baik. Tantangan tentu jadi lebih besar untuk layanan streaming karena koneksi harus benar-benar kencang dan stabil. Menikmati Hi-Res Audio membutuhkan keseluruhan sistem perangkat yang mumpuni untuk benar-benar memaksimalkan kualitas suara. Mulai dari headphone/earphone, speakers, amplifier, DAP (Digital Audio Player), DAC (Digital-Analog Converter), hingga kabel-kabelnya bisa mempengaruhi. Perangkat yang masuk kategori High Fidelity (Hi-Fi) tentunya tidak murah. Tanpa perangkat yang mendukung, file Hi-Res akan terdengar sama saja dibanding file Mp3 biasa. Hal terakhir yang menjadi tantangan adalah meyakinkan pasar bahwa Hi-Res Audio itu perlu dan layak dikonsumsi. Kenapa jadi tantangan? Karena tak semua orang mampu membedakan kualitas audio.

Salah satu kunci dari akan sukses tidaknya format Hi-Res Audio menjadi primadona baru bisnis musik akan bergantung pada keberhasilan memasarkan ide bahwa Hi-Res Audio adalah sesuatu yang keren dan trendi di masa depan. Didukung infrastruktur layanan data internet yang kencang dan stabil, trend tersebut bukan tak mungkin terwujud. Terlihat dari minat berbagai sisi industri yang mulai melirik, tampaknya format High Resolution Audio sedang menjalani masa percobaan untuk menjadi mainan baru industri musik. Dari mainan akhirnya menjadi senjata utama, bisa jadi.