Kesempatan terbuka lagi untuk kalian yang ingin kerja di industri musik. Kali ini saya mendapat informasi lowongan pekerjaan dari kawan-kawan di Marygops Studios yang merupakan salah satu promotor konser paling aktif di Indonesia. Beberapa konser yang pernah mereka garap misalnya dari artis besar dunia seperti Justin Bieber, Westlife, L'Arc-en-Ciel, Bruno Mars, Avril Lavigne dan banyak lagi. Selain konser tunggal, mereka juga pernah menggarap festival musik seperti Anime Festival Asia Indonesia.
Posisi yang ditawarkan adalah bagian akuntansi dan keuangan. Ini nih saatnya kamu yang berlatar belakang accounting dan finance bisa masuk industri musik. Tertarik?
Seperti biasa tiap pagi saya browsing berita industri musik global, tapi hari ini saya tercengang dengan berita tentang Tidal yang saya baca di Billboard. Langsung saya buka website Tidal dan muncullah video dari acara peluncuran layanan streaming musik format lossless (High Resolution) ini.
Everyone in streaming business better watch out! Gila asli ini konsepnya. Alicia Keys yang jadi juru bicaranya menjelaskan konsepnya, "The first ever artist owned global music entertainment platform, our goal is simple, we want to create a better service, better experience for both fans and artist, and that's our promise to the world. Our mission goal is beyond commerce, it goes beyond technology, our intent is to preserve music's important in our life"
Well said.. Ini beneran bisa hype kayanya. Artis yang hadir dan ikut tanda tangan sebagai owner di panggung ada Daft Punk, Kanye West, Nicki Minaj, Chris Martin, Madonna, Deadmau5, Rihanna, Beyonce, Usher, Jason Aldean, Arcade Fire, dll.
Namun tentu ada pro-kontra. Banyak fans yang merasa harga yang ditawarkan terlalu mahal. Hal ini bisa memunculkan gambaran tentang artis yang dianggap terus mengeruk uang dari fans. Sebenarnya saya melihat ada contoh sejenis yang mengandalkan "star power". Headphone Beats di kalangan pecinta audio diolok-olok sebagai produk over-priced yang tak sebanding antara harga dan kualitas. Tapi kenyataannya Beats mampu merebut pasar dari merk-merk audio lain yang justru sudah memulai jauh lebih lama seperti Koss, Sennheiser, Bose, Audio Technica, AKG dan banyak lagi. Pada akhirnya strategi marketing Beats yang mengandalkan kekuatan para bintang dari dunia musik hingga olahraga. Coba saja cek bagaimana sepak terjang pemasaran mereka yang sekarang banyak meniru Beats. Bose masuk ke NFL, AKG menggandeng Tiesto, Sennheiser di pasar lokal bahkan sempat menggaet Raisa.
Pertanyaan besarnya, apakah kali ini "Star Power" mampu merevolusi layanan musik streaming dari bersifat fans oriented menjadi artist oriented.
Hari ini bertepatan dengan Hari Musik Nasional tanggal 9 Maret, saya menerima satu eksemplar majalah Mutiara Biru yang merupakan majalah resmi perusahaan taksi terbesar di Indonesia, Blue Bird Group. Saya diwawancarai oleh jurnalisnya, mbak Johana beberapa minggu lalu. Mengutip sedikit jawaban saya dalam wawancara tersebut rasanya pas untuk saya tekankan untuk Hari Musik Nasional. "Jadi, tutupnya toko musik hanya puncak gunung es permasalahan. Semua pihak harus bahu-membahu melindungi industri kreatif. Indonesia adalah bangsa yang kreatif, sayang sekali kalau secara ekonomi tidak dapat terapresiasi". Untuk lengkapnya bisa disimak lebih lanjut di majalah Mutiara Biru dalam armada taksi Blue Bird Group atau secara digital gratis di aplikasi Scoop dengan tautan berikut: http://www.getscoop.com/magazines/mutiara-biru Selamat Hari Musik Nasional!
Awal tahun 2015 ini saya mengambil keputusan untuk hijrah kembali ke tempat saya mengawali karir di dunia label rekaman. Per bulan Maret 2015 akhirnya saya kembali bergabung ke Universal Music Indonesia setelah 4 tahun berkarya di Sony Music Entertainment Indonesia. Ya, sebelum saya bergabung dengan Sony Music memang saya pernah bekerja di Universal Music Indonesia selama dua tahun sebagai staf promosi yang fokus pada media online termasuk media sosial. Posisi yang saya pegang sekarang adalah Senior Marketing Supervisor untuk produk-produk internasional khususnya dari negara-negara Eropa, Asia dan Australia. Sedikit lebih lebar dari posisi di perusahaan sebelumnya. Tentu akan lebih banyak tantangannya yang berarti juga akan dilimpahi ilmu serta pengalaman yang lebih mendalam.
Masa-masa bekerja di Sony Music
Saya ucapkan mohon maaf jika ada kesalahan selama di Sony Music terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua dukungan serta bantuan rekan kerja selama di Sony Music terutama dari departemen Marketing. Terima kasih yang lebih spesial untuk atasan saya, mas Fajar Indroharyo yang bisa disebut sebagai salah satu dari tak banyak dedengkot pemasar musik internasional di Indonesia dengan belasan tahun pengalaman. Hormat dan terima kasih luar biasa juga untuk Ken Isayama, VP International Marketing Sony Music Japan dan timnya yang dengan sangat bersahaja mempercayakan proyek musik Jepang serta memberi dukungan sangat besar untuk mengembangkan musik Jepang di Indonesia dan sebaliknya.
Hari ini sudah genap 1 minggu saya bergabung di Universal Music Indonesia. Rasanya tak canggung di tempat ini dengan kawan-kawan satu tim yang sudah saya kenal lama. Semoga saya bisa membawa kebaikan bagi semua anggota tim. Akhirnya saya akhiri tulisan ini dengan mengutip status di Blackberry Messenger atasan saya, om Peter Hendarmin, "..after all, MUSIC is UNIVERSAL"
Mau kerja di perusahaan rekaman International? Tertarik kerja di lingkungan industri musik yang kreatif dan dinamis.
Ini ada lowongan di Sony Music Entertainment Indonesia. Diambil dari postingan rekan saya Nabil, Senior Manager - Local Repertoire, Sony Music Entertainment Indonesia.
Ini bisa jadi awalan karir yang bagus buat belajar tentang industri musik.
Pagi ini banyak penikmat
musik dan pelaku industri musik memantau ajang Grammy Awards ke-57.
Salah satu hal yang paling mengejutkan dan jadi perbincangan adalah
pada kategori bergengsi, Album of The Year yang dinobatkan pada album
“Morning Phase” dari Beck.
Saya tertarik untuk
membahas kemenangan Beck bukan dari sisi apa yang ditawarkan
albumnya, karena itu hanya akan menjadi sebuah album review. Namun
perbincangan di media sosial adalah mengenai anak muda dan remaja
yang mungkin tak tahu siapa Beck. Publikasi yang kurang juga seakan
menghalanginya untuk jadi pemenang Album of The Year. Sebenarnya
kalau melihat sejarah Beck di ajang Grammy, tak mengejutkan jika ia
meraihnya tahun ini.
Beck mendapat nominasi
Grammy pertamanya tahun 1995 untuk kategori Best
Male Rock Vocal Performance lewat lagu “Loser”. Bayangkan,
itu terjadi 20 tahun lalu! Saat itu ia bersaing dengan Peter Gabriel,
Van Morrison, Bruce Springsteen dan Neil Young. Ia dikalahkan Bruce
Springsteen denga “Street of Philadelphia” yang membahana di
seluruh dunia lewat film “Philadelphia”.
Dua tahun kemudian, di
tahun 1997 Beck kembali lagi masuk jajaran nominator. Tidak
tanggung-tanggung kategorinya Album of The Year untuk albumnya yang
berjudul “Odelay”. Dua nominasi lainnya adalah Best
Male Rock Vocal Performance lewat lagu "Where
It's At" dan Best Alternative Music
Performance lewat album “Odelay” yang keduanya berhasil ia
menangkan.
Tahun 2000 Beck kembali
meraih kemenangan Grammy lewat album “Mutations”. Kategori yang
ia menangkan adalah Best Alternative Music
Performance. Album ini bersaing album-album dari Fatboy Slim, Tori
Amos, Moby dan Nine Inch Nails. Setahun kemudian, tahun 2001 Beck
kembali meraih nominasi Album of The Year lewat album “Midnite
Vultures”. Bersaing dengan “Kid A” Radiohead, “Marshall
Mathers LP” Eminem, “You're The One” Paul Simon, “Two Against
Nature” Steely dan, Beck masih harus mengakui keunggulan Steely Dan
saat itu. Di kategori Best Alternative Music Album, ia dikalahkan
oleh Radiohead yang di tahun tersebut punya album “Kid A” yang
sangat kuat.
Tahun
2003 ia mendapat nominasi lagi untuk kategori Best Alternative Music
Album. Kali ini untuk album “Sea Change”. Sayangnya ia tidak
memenangkannya. Lanjut ke tahun 2006, Beck kembali mendapat nominasi
di kategori yang sama lewat albumnya yang bertitel “Guero”. Tahun
2007 lewat lagu “nausea” Beck dinominasikan pada ajang Grammy
untuk kategori Best Solo Rock Vocal Performance. Nominasi untuk
kategori yang sama didapatkannya lagi di tahun 2008 lewat lagu
“Timebomb”. Album “Modern Guilt” membawa Beck ke ajang Grammy
tahun 2009 dengan nominasi Best Alternative Music Album. Danger Mouse
yang menjadi produser album ini juga mendapat nominasi untuk kategori
Producer Of The Year, Non-Classical.
6
tahun kemudian, tahun 2015, Beck muncul sebagai musisi yang cukup
senior dibanding pesaingnya. Ia pun menjadi penampil bersama Chris
Martin menyanyikan lagu dari album “Morning Phase” berjudul
“Heart Is A Drum”. Total nominasi yang ia (termasuk karya dan
timnya) raih juga tak sedikit, 5 kategori. Dua nominasi yang tak
dimenangkannya adalah Best Rock Performance yang dimenangkan
“Lazaretto”-nya Jack White dan Best Rock Song yang dimenangkan
“Ain't It Fun” dari Paramore. Mari kita bahas tiga kategori yang
dimenangkannya tahun ini.
Grammy
pertama, adalah untuk kategori Best Engineered Album, Non-Classical
yang dimenangkan “Morning Phase” memang bukan ditujukan untuk
Beck pribadi namun lebih ke tim sound engineer yang mengerjakan
album. Tercatat nama Tom Elmhirst, David
Greenbaum, Florian Lagatta, Cole Marsden, Greif Neill, Robbie Nelson,
Darrell Thorp, Cassidy Turbin & Joe Visciano sebagai engineers
dan Bob Ludwig sebagai mastering engineer.
Kategori
kedua yang dimenangkannya adalah Best Rock Album. Ia tahun ini
mengalahkan nama legendaris U2 dengan album “Songs of Innocence”
yang menjadi berita besar lewat langkah memberi cuma-cuma ke pengguna
iTunes di seluruh dunia. Selain itu nama lain yang dikalahkannya.
Selain itu ada album ke-14 dari Ryan Adams yang diberi judul namanya
sendiri; album “Hypnotic Eye” dari band lawas Tom
Petty and the Heartbreakers yang
untuk pertama kalinya album mereka menduduki posisi puncak Billboard
200 saat debut; serta album “Turn Blue” dari The Black Keys yang
juga debut di posisi puncak Billboard 200.
Kategori
terakhir dan yang paling bergengsi tentunya Album of The Year.
Pencapaiannya ini bahkan membuat banyak orang bingung. Kanye West
bahkan hampir menginterupsi proses penyerahan piala tersebut.
Bayangkan Beck bertarung melawan album-album raksasa yang sukses luar
biasa dan mendapat pujian dari kalangan kritikus. Mengutip pada
website Grammy Awards, pertimbangan besar dari sebuah penghargaan
Grammy adalah sebagai berikut
“The
GRAMMYs are the only peer-presented award to honor artistic
achievement, technical proficiency and overall excellence in the
recording industry, without regard to album sales or chart position.”
(http://www.grammy.org/recording-academy)
Jika
melihat penjelasan itu, tentunya ini bukan masalah popularitas
semata. Tangga lagu dan catatan penjualan juga tak serta-merta jadi
penentunya. Faktor estetika, kualitas, teknis pengerjaan, dan banyak
faktor lain bisa menjadi penilaian. Pada akhirnya memang Beck lah
juara kategori Album of The Year, dan bukan hal aneh jika melihat
bahwa ia sudah punya sejarah panjang ketika kita bicara Grammy
dibanding nominator lain. Salut untuk Beck!
Apakah kamu orang yang
rewel dengan kualitas audio dari musik yang kamu dengarkan? Kalau
iya, sudah saat nya kamu cari tahu lebih banyak tentang Audio
Resolusi Tinggi / Hi-Res Audio. Perihal mengenai signifikan-tidaknya
sebuah file audio dalam kualitas hi-res sebenarnya masih menjadi
perdebatan di kalangan audiophile. Banyak anggapan bahwa penilaian
lebih bagus atau tidaknya kualitas audio adalah sugesti saja karena
pada akhirnya kemampuan pendengaran manusia ada batasnya.
Mengesampingkan perdebatan itu, nyatanya teknologi kualitas audio
terus saja dikembangkan dan kini banyak yang berlomba merebut pasar
tersebut.
Istilah Hi-Res Audio
biasa digunakan untuk file rekaman suara diatas spesifikasi sampling
standar CD audio yang selama ini digunakan yaitu 16-bit/44.1kHz.
Biasanya sampling yang banyak digunakan yaitu 24-bit/96kHz. Beberapa
format file yang popular adalah WAV, AIFF, FLAC, ALAC dan beberapa
format lain. Peningkatan spesifikasi tentunya berpengaruh ke ukuran
file menjadi lebih besar. Namun bagi penikmat musik, terkadang
kualitas audio memang perlu dipertimbangkan.
Di luar perusahaan yang
memang fokus ke dunia audio, teknologi Hi-Res Audio kini begitu
diminati produsen gadget terkemuka seperti Sony dan Microsoft.
Layanan penyedia musik juga mulai menarik minat konsumen dan
investor. Apakah ini akan menjadi ruang gerak baru dalam perkembangan
bisnis musik?
Secara pribadi, saya
cukup rewel dengan kualitas audio karena dibiasakan mengenali dan
melakukan pengaturan perangkat audio dengan baik sejak kecil oleh
bapak saya. Minat saya pun makin besar pada bidang audio apalagi saya
bekerja di bidang musik. Mengikuti perkembangan teknologi audio jadi
wajib hukumnya bagi para “audiophile” alias penggila audio yang
mengejar kualitas terbaik dalam mendengarkan musik. Salah satu yang
banyak jadi pembicaraan ada mengenai format sumber musik, misalnya
CD, piringan hitam atau file digital yang diputar menggunakan peranti
portable sejenis iPod atau multimedia player. Perangkat lainnya
seperti Amplifier, speaker, DAC (Digital-Audio Converter), hingga
kabel juga jadi pertimbangan. Berbagai elemen inilah yang akhirnya
membuka peluang-peluang baru seiring datangnya era Hi-Res Audio.
Sony Walkman NW-ZX2
Sony tahun ini merilis
perangkat Walkman seri NW-ZX2 seharga 1200 Dollar AS. Sebelumnya Sony
sudah mengembangkan perangkat untuk Hi-Res Audio lewat berbagai
produk seperti amplifier portable, DAC, Amplifier, Speaker,
Headphone, Earphone terbarunya. Namun kehadiran NW-ZX2 yang menjadi
sorotan karena bandrol harga yang fantastis tersebut cukup berani di
tengah pasar pemutar musik yang rentang harganya begitu lebar. Untuk
membeli pemutar musik berspesifikasi rendah dengan merk yang juga tak
jelas, kita cukup merogoh kocek sekitar Rp.100.000. Bayangkan sebuah
pemutar musik seharga lebih dari Rp. 12 juta! Sony melihat cukup luas
lewat pengembangan Hi-Res Audio ini.
Merujuk website Sony (Asia), mereka
mengarahkan pengguna perangkat Hi-Res Audio untuk membeli musik ke
beberapa layanan yaitu 2L (https://shop.klicktrack.com/2l),
Naim Label (http://www.naimlabel.com/), Linn Records (http://www.linnrecords.com/), HifiTrack (http://www.hifitrack.com/en)
dan beberapa nama lain. Kemitraan dengan penyedia layanan musik
berkualitas Hi-Res Audio harus dilakukan. Bayangkan jika pembeli
perangkat mahal ini akhirnya sulit mendapatkan konten untuk
dimainkan, mubazir kan?
Nokia N1
Bergeser ke nama besar
lain, Microsoft juga tampaknya melirik kepopuleran Hi-Res Audio.
Gabriel Aul dari Windows Insider mengunggah sebuah screen-capture
dari sistem operasi Windows 10 yang menunjukkan kompatibilitas dengan
format musik FLAC. Berita ini menjadi perbincangan para audiophile
karena memutar file FLAC akan menjadi semakin mudah. Nokia (yang juga
sudah diakusisi oleh Microsoft) tampaknya juga memperhatikan
kebutuhan audio yang baik. Tablet Nokia N1 menggunakan Wolfson WM895
sebagai chip DAC. Chip ini punya reputasi tinggi di kalangan
audiophile karena mampu menghasilkan kualitas audio yang lebih baik.
Kini mari melihat
perkembangan di sisi layanan penyedia musiknya. Nama yang sudah lebih
popular di dunia Hi-Res Audio adalah HDTracks. Di tengah keriuhan
penetrasi pasar ini, HDTracks belum terlihat melakukan manuver
signifikan. Pengembangan bisnis terkini dari perusahaan asal New York
ini salah satunya dengan melebarkan sayap lewat dibukanya kantor
HDTracks di Inggris dan Jerman bulan September 2014 lalu.
PonoPlayer
Selebriti juga mulai
melirik ranah bisnis Hi-Res Audio. Neil Young terjun ke dunia Hi-Res
Audio lewat perusahaannya, PonoMusic. Perusahaan ini menjalankan
bisnis layanan unduhan musik dalam format Hi-Res Audio dan juga
memproduksi pemutar musik portable. Jay Z baru saja membeli Aspiro,
perusahaan Swedia pemilik layanan WiMP dan Tidal. Tidal adalah
layanan streaming musik dalam format Hi-Res. Saat ini layanan
streaming musik sedang menjadi primadona baru lewat kesuksesan
Spotify memperoleh pasar yang signifikan. Tidal bisa jadi jawaban
untuk mereka yang nyaman dengan layanan streaming musik namun
menginginkan kualitas audio yang maksimal.
Segala perkembangan dalam
dunia Hi-Res Audio tentu menghadapi hambatan juga. Ukuran file yang
lebih besar membutuhkan koneksi dan kuota internet yang lebih baik.
Tantangan tentu jadi lebih besar untuk layanan streaming karena
koneksi harus benar-benar kencang dan stabil. Menikmati Hi-Res Audio
membutuhkan keseluruhan sistem perangkat yang mumpuni untuk
benar-benar memaksimalkan kualitas suara. Mulai dari
headphone/earphone, speakers, amplifier, DAP (Digital Audio Player),
DAC (Digital-Analog Converter), hingga kabel-kabelnya bisa
mempengaruhi. Perangkat yang masuk kategori High Fidelity (Hi-Fi)
tentunya tidak murah. Tanpa perangkat yang mendukung, file Hi-Res
akan terdengar sama saja dibanding file Mp3 biasa. Hal terakhir yang
menjadi tantangan adalah meyakinkan pasar bahwa Hi-Res Audio itu
perlu dan layak dikonsumsi. Kenapa jadi tantangan? Karena tak semua
orang mampu membedakan kualitas audio.
Salah satu kunci dari
akan sukses tidaknya format Hi-Res Audio menjadi primadona baru
bisnis musik akan bergantung pada keberhasilan memasarkan ide bahwa
Hi-Res Audio adalah sesuatu yang keren dan trendi di masa depan.
Didukung infrastruktur layanan data internet yang kencang dan stabil,
trend tersebut bukan tak mungkin terwujud. Terlihat dari minat
berbagai sisi industri yang mulai melirik, tampaknya format High
Resolution Audio sedang menjalani masa percobaan untuk menjadi mainan
baru industri musik. Dari mainan akhirnya menjadi senjata utama, bisa
jadi.