Monday, December 16, 2013

Sebuah Renungan tentang Etos Kerja

Minggu ini, sebuah berita sedih membuat was-was banyak orang. Kejadian itu adalah kisah meninggalnya Mita Diran, seorang copywriter sebuah agensi periklanan yang diduga karena terlalu lama bekerja tanpa istirahat yang cukup ditambah konsumsi minuman energi yang berlebihan. Melalui media sosial, screenshot dari postingan keluarganya mengundang banyak reaksi. Saya yakin, reaksi itu karena banyak sekali diantara kita yang memiliki pola kerja serupa. Apalagi di lingkungan industri kreatif, bukan keanehan kalau harus menginap di kantor karena deadline, penyelenggaraan event, ataupun pentas/pameran/syuting/ dll. Begitu pun di dunia kerja yang saya jalani, industri musik.

Jujur, saya pun pernah bekerja sampai sekian hari tanpa tidur yang cukup serta asupan makanan dengan gizi baik. Bahkan bisa dibilang sepanjang saya masuk ke dunia kerja, mayoritas jam kerja diatas 9-10 jam. Sakit karena kecapean bukan 1-2 kali tapi hampir setiap tahun pasti beberapa kali. Saya sudah pernah tifus, kalau hanya flu, radang tenggorokan sih nggak bisa saya hitung lagi dengan jari. Yang terbaru mungkin beberapa minggu lalu ketika saya radang kandung empedu hingga harus dilarikan ke UGD. Dokter selalu mengatakan hal yang sama, semua selalu akibat terlalu capek bekerja dan pola makan yang tidak benar. Istri saya lah yang selalu jadi malaikat penyelamat karena terus mengingatkan bahwa saya harus selalu ingat batasan diri.

Pesan istri setelah mendapat berita tentang musibah Mita Diran.

Berkaca pada pengalaman saya sendiri, saya pun melihat sekeliling saya dan memang hampir semua yang pekerjaannya sejenis pernah sakit karena kecapekan. Tifus, sakit kuning, liver, empedu, ginjal, serangan jantung, stroke, itu banyak sekali terjadi. Lihat saja pemberitaan tentang artis-artis berjadwal padat yang tumbang karena sakit. Bayangkan orang-orang dibelakangnya yang tidak terekspos media.

Apa yang salah? Kenapa sampai sebuah karir begitu beresiko terhadap kesehatan kita? Kenapa pelaku industri kreatif banyak yang terjebak di kondisi kesehatan buruk semacam ini?

Mari kita kembalikan ke diri sendiri untuk menjawab pertanyaan ini.

Saya memilih pekerjaan ini karena saya mencintai bidangnya. Sebagian besar pekerja kreatif mungkin akan menjawab hal yang sama jika ditanya mengenai bidang yang mereka jalankan. Banyak sekali kalimat motivasi yang mengajak kita mencintai pekerjaan kita. Itulah yang dijalani banyak orang di industri ini. Saya merasakan satu kekurangan dari hal ini. Karena saking mencintai bidang ini, saya tidak merasa pekerjaan saya berat. Padahal fisik saya mungkin sudah tidak sanggup lagi.

Istri saya juga selalu bilang saya angkuh terutama pada diri saya sendiri. Saya selalu berpikiran, kalau orang lain bisa kenapa saya tidak. Ternyata hal ini juga bisa jadi bumerang kalau kita tidak paham batas kita.

Beban pekerjaan pun memang di saat puncak bisa begitu banyak hingga dirasa tidak cukup 24 jam dalam sehari untuk menyelesaikannya. Bayangkan jika sedang menggelar event atau mengatur kegiatan artis internasional. Pekerjaan bisa dimulai jam 6 pagi dan selesai jam 11 malam, dilanjutkan persiapan esok hari bisa hingga jam 2 pagi. Hanya punya 2-5 jam tidur selama beberapa hari, dengan kondisi jam makan yang tak tentu. Karena memang begitu kondisinya selama ini. Alhamdulillah di akhir rangkaian pekerjaan semacam itu saya selalu mendapat libur yang bisa melegakan sedikit.

Libur? Ini pun rancu, karena sebagai seorang ayah dan kepala keluarga, waktu libur itu bukannya bisa istirahat tapi harus melakukan pekerjaan rumah tangga porsi seorang kepala keluarga. Mengantar anak imunisasi, belanja bulanan, benerin mobil, melakukan perbaikan-perbaikan kecil di rumah, menjaga hubungan sosial dengan keluarga besar, dll. Belum lagi kalau ada musibah-musibah lain yang menguras tenaga dan pikiran. Semua tentu dialokasikan waktunya saat libur.

Perjalanan dari dan ke tempat kerja juga begitu meletihkan. Lokasi tempat tinggal saya kurang bersahabat dengan lokasi kantor. Untuk pulang pergi dengan mobil saya harus menghabiskan 2-4 jam di jalan, dengan  Metro Mini + Transjakarta 3-4 jam, dengan kendaran pribadi + Transjakarta 2 jam. Sayangnya kalau harus naik kereta kurang nyaman karena harus naik Metro Mini, kemudian harus berganti stasiun. Untuk tinggal di tempat yang lebih dekat dengan kantor juga butuh biaya yang besar kalau mau tempat yang nyaman, aman dan bersih. Apalagi saya punya anak yang masih belum genap 1 tahun.

Jadi kapan istirahatnya?

Istirahat bisa benar-benar saya rasakan hanya saat libur panjang lebaran, libur panjang karena cuti bersama atau cuti diatas 2 hari. Karena biasanya dua hari libur hanya akan habis untuk urusan pekerjaan sebagai kepala rumah tangga. di hari ketiga, baru saya bisa istirahat fisik dan pikiran.

Siapa dan apa yang perlu diperbaiki agar tidak terjadi lagi musibah semacam ini?
Apakah secara pribadi, cara, mental dan aktualisasi kerja saya kurang tepat sehingga harus menghabiskan waktu dan energi yang luar biasa untuk menyelesaikan segala pekerjaan?

Apakah beban pekerjaan yang ditugaskan melebihi kapasitas kemampuan saya?
Apakah ada yang salah dengan sistem kerja di industri kreatif?
Apakah kalimat motivasional yang dipropagandakan harus ditinjau ulang?
Apakah harus ada perubahan kultur kerja oleh semua pelaku industri ini?
Apakah orang-orang yang "maju terus pantang mundur" ini perlu konseling mengenai etos kerjanya yang berlebihan? (saya pun kini merasa perlu konsultasi psikis kalau etos kerja saya sudah membahayakan kesehatan)

Mari kita jawab bersama sambil terus menjaga kesehatan diri sendiri dan ingatkan teman-teman kita. Musibah yang terjadi pada Mita Diran membuka mata saya. Beri masukan pada atasan-atasan kita kalau melihat rekan kerja yang sudah terlihat lemah. Paksa rekan kita untuk istirahat/libur/berobat/dll kalau kita sudah melihat gejala kelelahan. Karena seperti yang saya alami, ketika kelelahan, saya tetap tidak akan mengakui dan terus "pushing myself to the limit".

Lewat pesan dari istri, saya kini semakin sadar bahwa pencapaian karir itu tak seberapa dibanding pengalaman membesarkan anak kami. Prestasi dunia kerja akan terasa begitu kerdil dibanding melihat anak saya mengangkat piala pertamanya. Betapa indahnya kalau rekan-rekan kerja kita pun bisa menikmati hal serupa di masa depan mereka.

Life is not about money. Life is not about fame. Life is about who and what you love, and loves you.

Akhir kata, tulisan ini bukan obituari untuk Mita Diran seorang, tapi untuk semua yang pernah tumbang, kesakitan bahkan meninggal karena dedikasinya.

Saya pribadi menjadikan tulisan ini sebagai monumen untuk mengingatkan bahwa saya berjanji untuk kerja dengan sehat, demi orang-orang yang saya cintai.



Friday, December 13, 2013

P!nk's Billboard Woman Of The Year Acceptance Speech

Kalau harus menyebut penyanyi pop solo perempuan yang paling saya kagumi, salah satu nama yang akan tersebut adalah P!nk. Aksi panggung, kualitas vokal, kualitas artistik pertunjukan, dan banyak elemen lain yang membuatnya bagaikan penyanyi pop yang berani dan tidak murahan. Tahun ini majalah Billboard mengukuhkannya sebagai Woman of the Year. Salah satu kutipan yang paling saya sukai dari pidatonya di malam pengukuhan adalah sebagai berikut:

"I will tell anyone that will listen to how a smartass from Doylestown, Pennsylvania, told everyone she was gonna be a star and then Billboard fucking magazine made me their Woman of the Year."

-P!nk-

Kata-kata diatas bagaikan sebuah pembuktian yang tegas bahwa ia dulu bukan siapa-siapa namun percaya bahwa suatu hari ia bisa meraih apa yang diimpikannya. And she fuckin nailed it!



Berikut ini artikel lengkapnya dari situs Billboard.com
http://www.billboard.com/articles/news/5820020/pink-billboard-woman-of-the-year-acceptance-speech-video-andy-cohen

Sunday, December 8, 2013

Akankah Studio Foto Punah?

Saya bersama kakak di halaman rumah
Bertumbangannya toko CD/kaset tidak bisa dipandang sebelah mata. Ini bisa jadi peringatan untuk industri kreatif yang berbasis analog untuk mulai memikirkan inovasi agar tetap lestari.

Salah satu bisnis yang menurut saya harus berbenah adalah studio foto. Di tahun 80-an keberadaan studio foto begitu menjamur. Saat itu kamera bukan lagi produk eksklusif, tapi sudah begitu massal. Di kota besar bahkan populasi kamera foto di masyarakat kelas menengah hampir dimiliki oleh setiap rumah tangga. Kamera semakin murah dan mudah digunakan. Satu hal yang tak lepas dari keberadaan kamera foto adalah rol film. Pemain besarnya saat itu adalah Fuji Film, Kodak dan Konica.

Fotografi analog tidak bisa diproses cetak dengan mudahnya oleh siapa saja. Film tidak boleh terekspos cahaya dan harus diproses dengan zat kimia. Disinilah muncul peluang bisnis besar, studio pemrosesan foto. Biasanya studio-studio foto ini juga menawarkan jasa fotografi seperti foto keluarga, foto profil, pas foto, dll. Cukup populer juga jasa pas foto langsung jadi yang menyiasati kebutuhan pas foto yang bersifat urgent. Studio foto seperti Champion Foto, SS Foto, Fuji Image Plaza, dll sering disebut tempat cuci-cetak foto atau kebanyakan orangtua masih menyebut dengan tempat afdruk foto.

Seiring perkembangan fotografi digital, usaha-usaha ini juga memperbarui mesin cetaknya dengan pencetak foto digital. Namun alat cetak digital kini tak lagi sulit dimiliki oleh rumah tangga. Printer meja yang harganya tidak sampai Rp.1juta saja bisa mencetak dengan resolusi tinggi. Studio foto pun harus berhati-hati. Kebutuhan pencetakan foto juga semakin dirasa tidak perlu karena arena pajangnya kini terpampang tak hingga di ranah maya. Dari Flickr, Facebook, Instagram dan lain sebagainya sesuai preferensi masing-masing orang.

Dulu orang mencetak foto sebanyak jumlah foto dalam rol film karena agak repot kalau harus melihat preview di klisenya. Kini anda bisa preview di layar kamera atau komputer, pilih yang bagus saja dan cetak seperlunya. Belakangan ini saja saya hanya mencetak tak sampai 10 foto anak saya yang benar-benar bagus untuk dipajang di meja kantor dan di rumah. Selain itu hanya foto saya dengan istri sejak pacaran sampai menikah. Total hanya sekitar 20-30 foto selama 3 tahun terakhir. Di tahun 80-90an, keluarga saya bisa mencetak 50an foto per bulan, dan bahkan kalau melakukan perjalanan tamasya bisa menghabiskan 1 rol film isi 36 dalam 2 hari. Kenangan visual itu tersimpan di album yang memenuhi kardus-kardus.

Membuka setiap album bisa membawa kenangan yang sangat manis. Saat kami semua sekeluarga masih serumah, senyum gigi ompong saya bersama kakak saya, perjalanan tamasya ke berbagai kota melalui jalan darat, para eyang yang sudah tiada, dan ribuan kenangan lain. Memori visual yang terekam foto itu akan sanggup membuat anda menitikkan mata karena rindu dengan keluarga dan orang terdekat. Itulah sebabnya penting bagi orangtua saya saat itu untuk mencetak banyak foto. Suatu hari di masa depan, rekaman itu akan sangat berarti.

Kini di era digital, hal ini tidak lagi terjadi. Kamera sudah dimiliki masing-masing personal lewat ponselnya. Kebutuhan mencetak foto menjadi semakin tergerus. Yang kita lakukan adalah mencolokkan ke komputer untuk di simpan dalam hard disk atau mengunggahnya ke social media. Tidak ada lagi prosedur naik bajaj ke studio foto membawa rol film, penasaran dengan hasil foto-foto, bercengkerama dengan pegawai studio foto, mampir pasar untuk beli jajanan, menunggu hasil cetak dengan cemas, sampai akhirnya menerima hasil cetakan dengan wajah gembira. Melihat satu per satu foto juga bisa mengundang tawa atau air mata. Setelah itu kalau ada foto yang bagus sekali akan diperbesar hingga 8R atau 10R untuk dibingkai. Sungguh sebuah rangkaian kejadian yang begitu khas. Begitu berkesan jika diingat lagi saat ini.

Kini saya kehilangan rangkaian itu. Tapi apa daya, ini karena diri saya juga termakan zaman. Tak efisien dan tak efektif bagi saya kalau harus menggunakan cara lama itu. Kini saya berpikir, bagaimana studio-studio foto itu bisa bertahan jika jutaan orang juga termakan zaman seperti saya?

Saya di kolam bola
Pas foto istri saya waktu "wisuda" TK

Friday, December 6, 2013

#AquariusMahakamMemories



Bagi orang yang pernah merasakan era kejayaan musik dalam bentuk kaset dan CD pasti akrab dengan toko Aquarius. Mereka mempunyai beberapa cabang yang semuanya legendaris yaitu Surabaya, Dago (Bandung), Mahakam (JKT) dan Pondok Indah.

Seperti sudah diprediksi di seluruh dunia, toko produk fisik musik akan semakin tertekan karena tsunami produk digital. Di luar negeri, toko sekelas Virgin, HMV, dll pun tak kuat untuk melanjutkan hidupnya. Kini Aquarius pun mengalami hal serupa. Setelah Surabaya, Dago dan Pondok Indah, kini toko terakhir mereka di Mahakam harus bersiap diri untuk menghabiskan stok dan berhenti beroperasi.

Begitu mendengar kabar ini, saya tersentuh karena di era 90-an ketika saya remaja, toko musik Aquarius jadi salah satu tempat yang penting. Lokasinya di pusat tongkrongan Jakarta Selatan, inventory musiknya sangat lengkap dan atmosfer tokonya benar-benar pas. Bahkan pegawainya pun tidak banyak perubahan. Sebuah toko yang dibangun karena hati (dan bisnis tentunya). Tapi bisnis yang melibatkan hati itu pasti terasa lebih hangat, long lasting dan meninggalkan memori bagi para pelanggannya.

Dua hari lalu saya menyempatkan diri datang kesana setelah berjibaku dengan lalu lintas pasca hujan deras dari arah kantor di Menteng. Saya cuma punya waktu 10 menit dan toko itu sudah harus tutup karena waktu menunjukkan pukul 9 malam. Akhirnya keesokan harinya, tim sales kami berencana ke Aquarius untuk berbincang dengan koh Alyaw, salah satu petinggi toko Aquarius Mahakam. Saya akhirnya ikut serta karena ingin mendengar lebih banyak tentang apa yang terjadi dan apa rencana yang disiapkan pihak Aquarius.

Perbincangan dengan koh Alyaw di restoran Bakmi Permata di sebelah toko Aquarius Mahakam ini berjalan santai. Banyak hal yang dibicarakan. Pertama mengenai rencana penutupan, kapan tepatnya. Menurutnya clearance sale yang sedang berjalan ini untuk menghabiskan stok yang ia harapkan bisa habis di bulan Desember sehingga bisa menutup buku dan operasional pas di akhir tahun. Tapi tidak tertutup kemungkinan diperpanjang sampai sekitar Maret 2014. Memang tidak mudah katanya untuk mengimbangi biaya operasional dari gedung sendiri, pegawai, dll jika hanya mengandalkan penjualan CD yang semakin lama semakin surut. Ia bercerita tentang pergeseran gaya hidup. Saya berpikir tentu hadirnya mall-mall besar akan mematikan individual stores semacam ini, apalagi kawasan Blok M juga sudah tidak identik sebagai kawasan nongkrong yang "hits".

Sebenarnya mereka punya aset media luar ruang berupa baliho di depan toko yang sebenarnya jika dikomersilkan bisa meraup tambahan pemasukan yang signifikan. Tapi disinilah perbedaan Aquarius, karena pembesarnya begitu idealis, titik baliho ini hanya diizinkan untuk materi promosi musik dengan biaya yang sangat terjangkau. Alasannya adalah, "Kasihan orang-orang musik, dimana lagi bisa promosi (luar ruang)". Gila! Sebuah langkah yang menyeramkan dari segi bisnis tapi menyegarkan bagi pelaku bisnis musik.

Koh Alyaw juga bercerita tentang pentingnya membangun pasar indie yang nyatanya punya angka penjualan yang bagus. Ia menyebut beberapa nama seperti Payung Teduh dan Tiga Pagi yang saat ini punya angka penjualan bagus. Memang Aquarius ini menjadi salah satu "penyelamat" musisi indie dalam hal penjualan album fisik, karena sebagai toko musik yang sudah mapan, mereka menerima berbagai produk indie untuk dijual. Selain itu juga pentingnya membangun komunitas-komunitas musik untuk memperkuat fondasi bisnis ini..

Banyak sekali kisah customer yang diceritakan oleh koh Alyaw mengenai memori di Aquarius Mahakam. Ada sepasang pelanggannya yang bertemu di toko sampai akhirnya menikah. Mereka kini sudah punya anak usia kuliah dan masih kerap datang berbelanja di toko itu. Sebuah tipikal cerita cinta chiclit yang nyata terjadi di toko ini. Ada lagi momen ketika tokonya diserbu pembeli album perdana Maliq & D'Essentials yang dikiranya ada serangan demonstrasi.

Mengenai rencana kedepan, mereka memang memiliki toko online yang masih berjalan. Diluar itu sepertinya saya tidak bisa cerita lebih banyak karena takutnya mengganggu rencana mereka.


Setelah mengakhiri pembicaran, kami kembali ke toko dan tentunya saya belanja beberapa CD. Kemudian juga kami berfoto di depan toko legendaris ini. Sebuah momen terakhir yang menutup keakraban saya dengan sebuah toko musik. Setelah kami mengunggah foto-foto itu ke social media, sedikit-demi sedikit makin banyak yang membahas sampai pada hari ini media liputan6.com memberitakan bahwa toko ini tutup yang padahal baru AKAN tutup. Berbarengan dengan berita duka RIP Nelson Mandela, muncul juga post RIP Aquarius Mahakam. Sedikit meluruskan bahwa toko ini belum tutup, dan saat ini masih melakukan clearance sale sampai dengan 50% potongan harga.

Jadi untuk anda yang punya kenangan khusus dengan toko CD/kaset legendaris Aquarius Mahakam, segeralah singgah untuk berbelanja atau sekedar nostalgia. Bawalah anak-anak anda untuk mengingatkan bahwa ada toko semacam ini dimasa ayah-ibunya muda.

Bersama tim Sony Music Entertainment Indonesia setelah bincang-bincang dengan koh Alyaw. Sayangnya tidak sempat foto sama beliau. ki-ka: Kana Jaya (sales division), saya, Heny Suryanti (sales division), Fajar Indroharyo (Senior Marketing Manager - International)

#AquariusMahakamMemories

Obituari untuk Nelson Mandela

Saya selalu suka dengan tokoh yang satu ini. Sang pemberani dengan gesture yang sangat lembut. Kalau tak bisa disebut sebagai nabi, ia ibarat khalifah yang memimpin sebuah bangsa dalam peperangan besar dan menang telak.

Nelson Mandela tidak gentar dan untungnya dia tidak mati ditangan lawannya. Tidak seperti Malcolm X dan Martin Luther King. Ia hidup sebagai contoh bagi banyak manusia di seluruh dunia tentang pentingnya keberanian, kebesaran hati dan kebersahajaan. Ia adalah inspirasi.

"I learned that courage was not the absence of fear, but the triumph over it. The brave man is not he who does not feel afraid, but he who conquers that fear"

-Nelson Mandela-

Sedih mendengar berita meninggalnya Nelson Mandela. Saya yakin seluruh dunia akan banyak yang menulis obituari untuk menghargai beliau.

Sejarah tak bisa diubah dan nama Nelson Mandela sudah pasti terukir sangat besar di dalamnya.

Terima kasih Nelson Mandela karena sudah menjadi inspirasi.

Tuesday, December 3, 2013

Cari Jalanmu Sendiri! (Part 1)

Pilih yang Paling Berarti.


Apakah kamu mau berkarir dibidang yang kamu cintai? Kalau ditanya sekarang, saya pasti akan menjawab YA secepat kilat! Tapi untuk teman-teman yang sekarang masih sekolah pasti bingung menjawabnya. Saya akan cerita latar belakang saya yang akhirnya menemui jalan hidup yang diinginkan dan mencintainya.

Alhamdulillah, orangtua saya (terutama Ibu) membebasakan jalan hidup saya dan membiarkan memilih sendiri bidang yang ingin ditekuni. Bahkan di saat saya lulus SMP, bapak menantang saya jika tidak mau SMA pun boleh saja asal saya fokus ke pelatihan keterampilan. Waktu itu beliau memberi gambaran untuk sekolah tenis, golf, musik, atau apa pun yang mengarah ke karir profesional. Satu hal yang ditanamkan adalah saya pada akhirnya harus bertanggung jawab pada pilihan saya dan jalani hidup dengan konsekuensi yang telah dipilih. Ditantang seperti itu justru jadi saya yang ciut dan tetap menjalani SMA sambil terus nge-band. Entah kenapa sepertinya saya sangat kepincut dengan musik. Ketika lulus SMA, kembali ditantang untuk kuliah apa pun. Bahkan saat itu di kala sekolah seni masih belum populer, saya dianjurkan ibu saya untuk kuliah di IKJ. Benar-benar langka di sekitar saya, ada orangtua yang justru mendorong anaknya masuk sekolah seni.

Di sisi lain, saat itu di sekolah saya sangat gembar-gembor bahwa masuk universitas negeri adalah suatu pencapaian yang layak dikejar. Biaya yang lebih murah juga menjadi motivasi karena meskipun Alhamdulillah keluarga saya berkecukupan, saya mendoktrin diri sendiri untuk berkompetisi menjadi anak yang paling tidak merepotkan. Saya di SMA lebih suka ngeband, bikin majalah kelas, berkreasi, dan kegiatan kreatif lainnya. Saya sempat "memproduseri" album kompilasi sekolah tetangga yang akhirnya malah jadi album anthem saat mereka tawuran (damn!). Saya juga sudah sempat memproduksi sendiri mixtape yang berisi lagu EDM yang saya buat pakai Fruity Loops. Intinya saya suka dunia kreatif yang bisa membuat isi kepala saya begitu liar. Murid semacam saya ini di SMA saya menjadi para underdog yang dianggap nggak bakal sukses masuk universitas negeri. Ini jadi cambuk banget yang bikin mau buktiin kalau saya bisa dan saya akan datang kembali ke sekolah untuk mengabari para guru yang meragukan saya bahwa saya berhasil menjadi mahasiswa UI. Akhirnya kejadian lah, saya diterima di jurusan Kriminologi, Universitas Indonesia.

Meskipun saya masih bingung mau kemana setelah lulus nanti, tapi yang pasti saya puas bisa membuktikan pada mereka yang meragukan saya. Sebuah langkah gegabah yang tidak pernah saya sesali dan tentunya sangat berarti. Kenapa saya bilang berarti, karena mental orang yang merasa dikalahkan sebelum bertanding itu menyimpan potensi besar untuk melakukan serangan balik yang sukses. Secara mental, pilihan itu jadi landasan keberanian saya kedepannya. Saya pun bangga bisa kuliah dengan biaya lebih murah dibanding anak-anak teman orangtua saya.

Saya tipe yang kalau suka satu hal maka saya akan sangat dalami dan kalau tidak suka, saya akan acuh. Ini yang terjadi dimasa kuliah. Untuk mata kuliah yang saya suka nilainya bisa A, yang saya nggak suka, ya nilainya D atau bahkan E. Saya terakhir memegang rekor mahasiswa Kriminologi dalam hal mengulang mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi yaitu sebanyak 4 kali. Entah apakah akhirnya rekor itu dipecahkan oleh adik kelas atau tidak, mudah-mudahan sih jangan ya. Nah di sisi lain, untuk skripsi saya yang membahas penangkapan ikan dengan menggunakan bom, saya begitu mendalami sampai benar-benar menelusuri di kampung-kampung nelayan, bertemu para pelakunya dan mengumpulkan data dari mereka. Saya bangga dengan usaha saya itu yang akhirnya skripsi itu mendapat nilai A. Di masa kuliah ini hasrat bermusik saya betul-betul memuncak, saya membentuk band Amazing in Bed yang akhirnya membawa saya ke ranah musik profesional (meskipun band nya indie). Ketika 3/4 perjalanan saya di kuliah itulah saya sadar bahwa bidang Kriminologi sebenarnya bukan jalan yang mau saya jalani untuk seumur hidup. Cinta saya ada di musik. Tapi apa artinya hidup kalau cuma terima nasib karena kuliah yang saya jalani ternyata tidak saya minati untuk berkarir di dunia itu. Saya harus cari jalan sendiri untuk bisa masuk ke dunia yang saya cintai!

(bersambung)

Monday, December 2, 2013

Kebun Keberanian

Saya akhirnya terdampar untuk membuat sebuah situs blog setelah melihat tulisan-tulisan saya sendiri di fitur Note di Facebook. Sepertinya menulis itu masih akan menjadi kegiatan yang menyenangkan.

Saya namakan Blog pribadi ini "Jangan Takut!" karena butuh keberanian untuk hidup di dunia dan apalagi menuliskan dan memublikasikannya lewat blog. Doa saya kepada Allah SWT juga salah satunya untuk selalu memberikan keberanian bagi anak perempuan saya. Saya ingin anak perempuan saya menjadi seorang pemberani karena sering kali anak perempuan dianggap lemah oleh para orangtuanya sendiri.

Saya pun memberanikan diri untuk tidak takut berkeluh kesah, berbagi ilmu, berbagi ide, berbagi pengalaman dengan publik lewat blog ini. Pada akhirnya jiwa saya yang suka bercerita dan terasah sekian tahun karena sempat bekerja sebagai jurnalis menambah hasrat untuk berkisah.

Selamat datang di kebun keberanian, dimana kita semua bisa memanen nyali bercerita, berpendapat dan berbagi.

Jangan takut!