Bagi orang yang pernah merasakan era kejayaan musik dalam bentuk kaset dan CD pasti akrab dengan toko Aquarius. Mereka mempunyai beberapa cabang yang semuanya legendaris yaitu Surabaya, Dago (Bandung), Mahakam (JKT) dan Pondok Indah.
Seperti sudah diprediksi di seluruh dunia, toko produk fisik musik akan semakin tertekan karena tsunami produk digital. Di luar negeri, toko sekelas Virgin, HMV, dll pun tak kuat untuk melanjutkan hidupnya. Kini Aquarius pun mengalami hal serupa. Setelah Surabaya, Dago dan Pondok Indah, kini toko terakhir mereka di Mahakam harus bersiap diri untuk menghabiskan stok dan berhenti beroperasi.
Begitu mendengar kabar ini, saya tersentuh karena di era 90-an ketika saya remaja, toko musik Aquarius jadi salah satu tempat yang penting. Lokasinya di pusat tongkrongan Jakarta Selatan, inventory musiknya sangat lengkap dan atmosfer tokonya benar-benar pas. Bahkan pegawainya pun tidak banyak perubahan. Sebuah toko yang dibangun karena hati (dan bisnis tentunya). Tapi bisnis yang melibatkan hati itu pasti terasa lebih hangat, long lasting dan meninggalkan memori bagi para pelanggannya.
Dua hari lalu saya menyempatkan diri datang kesana setelah berjibaku dengan lalu lintas pasca hujan deras dari arah kantor di Menteng. Saya cuma punya waktu 10 menit dan toko itu sudah harus tutup karena waktu menunjukkan pukul 9 malam. Akhirnya keesokan harinya, tim sales kami berencana ke Aquarius untuk berbincang dengan koh Alyaw, salah satu petinggi toko Aquarius Mahakam. Saya akhirnya ikut serta karena ingin mendengar lebih banyak tentang apa yang terjadi dan apa rencana yang disiapkan pihak Aquarius.
Perbincangan dengan koh Alyaw di restoran Bakmi Permata di sebelah toko Aquarius Mahakam ini berjalan santai. Banyak hal yang dibicarakan. Pertama mengenai rencana penutupan, kapan tepatnya. Menurutnya clearance sale yang sedang berjalan ini untuk menghabiskan stok yang ia harapkan bisa habis di bulan Desember sehingga bisa menutup buku dan operasional pas di akhir tahun. Tapi tidak tertutup kemungkinan diperpanjang sampai sekitar Maret 2014. Memang tidak mudah katanya untuk mengimbangi biaya operasional dari gedung sendiri, pegawai, dll jika hanya mengandalkan penjualan CD yang semakin lama semakin surut. Ia bercerita tentang pergeseran gaya hidup. Saya berpikir tentu hadirnya mall-mall besar akan mematikan individual stores semacam ini, apalagi kawasan Blok M juga sudah tidak identik sebagai kawasan nongkrong yang "hits".
Sebenarnya mereka punya aset media luar ruang berupa baliho di depan toko yang sebenarnya jika dikomersilkan bisa meraup tambahan pemasukan yang signifikan. Tapi disinilah perbedaan Aquarius, karena pembesarnya begitu idealis, titik baliho ini hanya diizinkan untuk materi promosi musik dengan biaya yang sangat terjangkau. Alasannya adalah, "Kasihan orang-orang musik, dimana lagi bisa promosi (luar ruang)". Gila! Sebuah langkah yang menyeramkan dari segi bisnis tapi menyegarkan bagi pelaku bisnis musik.
Koh Alyaw juga bercerita tentang pentingnya membangun pasar indie yang nyatanya punya angka penjualan yang bagus. Ia menyebut beberapa nama seperti Payung Teduh dan Tiga Pagi yang saat ini punya angka penjualan bagus. Memang Aquarius ini menjadi salah satu "penyelamat" musisi indie dalam hal penjualan album fisik, karena sebagai toko musik yang sudah mapan, mereka menerima berbagai produk indie untuk dijual. Selain itu juga pentingnya membangun komunitas-komunitas musik untuk memperkuat fondasi bisnis ini..
Banyak sekali kisah customer yang diceritakan oleh koh Alyaw mengenai memori di Aquarius Mahakam. Ada sepasang pelanggannya yang bertemu di toko sampai akhirnya menikah. Mereka kini sudah punya anak usia kuliah dan masih kerap datang berbelanja di toko itu. Sebuah tipikal cerita cinta chiclit yang nyata terjadi di toko ini. Ada lagi momen ketika tokonya diserbu pembeli album perdana Maliq & D'Essentials yang dikiranya ada serangan demonstrasi.
Mengenai rencana kedepan, mereka memang memiliki toko online yang masih berjalan. Diluar itu sepertinya saya tidak bisa cerita lebih banyak karena takutnya mengganggu rencana mereka.
Setelah mengakhiri pembicaran, kami kembali ke toko dan tentunya saya belanja beberapa CD. Kemudian juga kami berfoto di depan toko legendaris ini. Sebuah momen terakhir yang menutup keakraban saya dengan sebuah toko musik. Setelah kami mengunggah foto-foto itu ke social media, sedikit-demi sedikit makin banyak yang membahas sampai pada hari ini media liputan6.com memberitakan bahwa toko ini tutup yang padahal baru AKAN tutup. Berbarengan dengan berita duka RIP Nelson Mandela, muncul juga post RIP Aquarius Mahakam. Sedikit meluruskan bahwa toko ini belum tutup, dan saat ini masih melakukan clearance sale sampai dengan 50% potongan harga.
Jadi untuk anda yang punya kenangan khusus dengan toko CD/kaset legendaris Aquarius Mahakam, segeralah singgah untuk berbelanja atau sekedar nostalgia. Bawalah anak-anak anda untuk mengingatkan bahwa ada toko semacam ini dimasa ayah-ibunya muda.
 |
Bersama tim Sony Music Entertainment Indonesia setelah bincang-bincang dengan koh Alyaw. Sayangnya tidak sempat foto sama beliau. ki-ka: Kana Jaya (sales division), saya, Heny Suryanti (sales division), Fajar Indroharyo (Senior Marketing Manager - International) |
#AquariusMahakamMemories