Wednesday, March 26, 2014
Happy Anniversary!
Sunday, March 23, 2014
Ayah & Ibu, Melek Politik Itu Perlu!
Saya termasuk orang yang cukup rajin mengikuti berita-berita politik dalam negeri. Tahun ini sebenarnya berita politik jadi memuakkan karena terlalu banyak memenuhi berbagai media. Tapi saya tetap merasa perlu untuk mencari tahu. Karena di tahun pemilihan umum kali ini saya adalah seorang ayah.
Saya ingin tahu persis, siapa calon-calon yang akan duduk di bangku legislator dan juga puncak pemimpin eksekutif. Alasan terkuat saya untuk peduli politik adalah anak saya yang kini akan berusia 1 tahun. Pemerintah yang akan kita pilih tahun ini akan merentang di masa balitanya. Sebagai ayah yang bertanggung jawab, saya secara sadar harus pahami betul apa yang akan terjadi dan jika saya bisa berkontribusi untuk membuatnya jadi lebih baik akan saya lakukan.
Saya tidak mau ketika otaknya tumbuh luar biasa cepat di masa balita, ia harus hidup di negara yang membiarkan terjadinya aksi kriminal berbasis intoleransi kolektif dan sistematis. Saya tidak mau masa balita anak saya yang jadi fondasi otak, mental dan hatinya diisi berita serta cerita tentang pembantaian satwa dilindungi. Saya menolak keras untuk membiarkan masa balita anak saya diisi pengalaman sogok menyogok aparat dari orang disekitarnya. Saya tidak mau ketika anak saya menjalani masa balita, pemerintah masih buta akan terjadinya ketidakadilan; mengagumi harta korupsi; tak punya empati; menyiksa lingkungan; mengacuhkan guru; dan ribuan kebobrokan lain yang pasti anda bisa rasakan dengan jelas.
Bagi para orang tua, siapa pun dan apa pun pilihan politik anda (termasuk juga "golput"). Mulailah peduli politik, bukan untuk kita sendiri tapi untuk anak dan keluarga. Karena pada akhirnya kita harus tunduk pada kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para legislator dan pemerintahan. Sungguh saya tak rela jika anak saya harus hidup di kondisi busuk yang tak layak anak.
Tuesday, March 18, 2014
Ketika EDM Terbelenggu Drugs
Akhir pekan lalu, ribuan anak muda di Kuala Lumpur seharusnya dapat berpesta gila-gilaan bersama pada hari terakhir rangkaian acara Future Music Festival Asia. Saya pun hadir disana untuk menyaksikan penampilan Pharrell Williams, Macklemore & Ryan Lewis, Rudimental, Tinie Tempah, Knife Party dan banyak lagi. Namun ternyata apa yang terjadi? Acara tersebut dibatalkan di hari-H saat ribuan penonton sudah tiba di lokasi festival. Alasan utamanya adalah karena dari malam sebelumnya ketika digelar acara A State Of Trance dengan sajian musik EDM (Electronic Dance Music) dikaitkan dengan jatuhnya korban meninggal 6 orang dan 3 lainnya dalam keadaan kritis akibat overdosis metamphetamine (sumber) . Karena alasan keselamatan, pihak berwajib di Malaysia meminta penyelenggara untuk membatalkan acara di hari terakhir.
Kejadian itu cukup mengejutkan dan menggugah saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang apa yang terjadi sembari melihat bingkai besarnya. 6 korban jiwa bukan angka yang kecil untuk sebuah event musik. Ketika rangkaian event "A State Of Trance" itu digelar di Jakarta keesokan harinya, jatuh pula 3 korban tewas akibat overdosis (sumber). Keadaan tersebut sudah begitu serius karena meskipun sifat kejahatan penggunaan narkotika/obat terlarang merupakan perilaku unik dimana sang korban juga merupakan pelaku. Sejenis seperti layaknya bunuh diri yang diistilahkan victimless crime. Namun ketika sudah jatuh korban jiwa, sudah saatnya hal ini dilihat sebagai fenomena. Untuk membuka mata, mari kita telisik, relasi apa yang sebenarnya terjadi antara EDM dan drugs?
Penggunaan drugs atau pun narkotika dan relasinya dengan musik sebenarnya sudah merentang jauh. Coba saja melirik sejarah musik Psychedelic yang erat dikaitkan dengan LSD. Era EDM pun begitu erat dengan ekstasi. Tammy L. Anderson, seorang profesor dari Departemen Sosiologi dan Peradilan Pidana University of Delaware pernah membahas ini lewat penelitiannya di tahun 2008 mengenai solidaritas dan penggunaan obat terlarang di skena EDM (sumber). Dalam laporannya menyebutkan bahwa pesta rave sebagai situs penggunaan obat terlarang besar-besaran. Menelisik lebih jauh ia mengklarifikasi mengenai solidaritas dalam penggunaan obat terlarang. Selain itu ia juga membahas beberapa hal tentang keterkaitannya dengan identitas kolektif dan budaya anak muda.
Event EDM seperti rave tentu melibatkan juga para artis yang menyajikan musik. Mengenai kejadian serupa di ajang Electric Zoo di New York tanggal 30 Agustus – 1 September yang memakan korban 2 orang, Jillionaire dari grup Major Lazer melempar pernyataan yang cukup menohok.
"It's going to sound weird, but we need to teach kids how to do drugs, the same way we teach them about drinking responsibly and having safe sex," (sumber)
Sedangkan Diplo berkomentar
"We're such a conservative culture that we'd rather not talk about the things kids want to do, even though they're going to do them anyway," Diplo said. "We'd rather ignore it to solve the problem. In Florida, where I'm from, drugs have been a part of club culture since day one. Kids have always been going to raves in the woods. 20 years ago, Orlando was one of the first places to have rave culture, and we learned how to do drugs. It's going to happen; you can't control it. Persecuting a festival is not going to help it because kids are going to do them regardless.”
(sumber)
Acara Electric Zoo pun akhirnya harus diberhentikan untuk menghindari jatuhnya korban lagi di acara tersebut. Dari segi bisnis, perputaran uang di dunia EDM sudah mencapai nilai 4,5 miliar Dollar ini. Bayangkan resiko tinggi yang harus ditanggung para pelaku usaha di bidang ini ketika berhadapan dengan kondisi-kondisi yang penuh ketidakpastian.
Dengan berbagai kejadian seperti diatas, skena EDM bisa terbelenggu. Hukum narkotika dan obat terlarang yang semakin ketat, norma-norma konservatif serta resiko tinggi dari segi bisnis bisa melumpuhkan gerak perkembangan skena EDM ibarat tawanan yang dibelenggu.
Salah siapa? Pertanyaan ini menjadi salah satu fokus utama dalam mencari solusi. Kita tidak bisa menyalahkan musiknya. Beberapa opini beranggapan bahwa saat ini banyak beredar obat terlarang “palsu” sehingga sering terjadi pada korban dimana mereka menyangka yang dikonsumsi adalah MDMA (methylenedioxy methylamphetamine / Ecstasy) padahal sebenarnya adalah PMA (para-Methoxyamphetamine). Karena perbedaan ini kadang mengecoh penggunanya untuk mengonsumsi lebih banyak dan pada akhirnya menyebabkan overdosis.
Namun apakah keberadaan ecstasy bisa dibenarkan? Seperti komentar Diplo diatas, bahwa drugs sudah menjadi bagian dari skena ini. Mungkin kata-kata Jillionaire mengenai pentingnya pengetahuan tentang bagaimana memakai obat terlarang bisa menjadi salah satu solusi namun tentu harus menabrak banyak rambu. Pencegahan peredaran obat terlarang di lokasi event pun nyaris mustahil karena tak mungkin melakukan razia mendalam pada ribuan penonton. Hal ini yang dilihat oleh DanceSafe sebuah lembaga yang mengedukasi penonton mengenai pengurangan bahaya (harm reduction) dari penggunaan obat terlarang. Namun kendalanya kadang tidak semua pihak bisa menerima keberadaan mereka karena seakan mengamini penggunaan obat terlarang. Hal ini ibarat sebuah lokalisasi pelacuran yang tak terjamah kampanye seks yang aman.
Ada juga beberapa pernyataan para artis yang patut disimak. Bagi para artis yang jadi panutan, sudah sepantasnya mengampanyekan pelarangan penggunaan obat terlarang. Ex personil Swedish House Mafia, Sebastian Ingrosso berpendapat serupa “I think that it’s very important that if you are some kind of icon and up on stage, and there are thousands of people following us on Twitter and coming to our shows, we need to be someone [fans] can look up to,” Selain itu ada juga pernyataan seperti ini “I don’t think we should be scared of saying ‘don’t do drugs,’”. “There is this sort of elephant in the room, where people are scared to say, ‘That stuff is dangerous and don’t mess around.’” ujar A-Trak.
Melihat banyaknya sisi dari masalah ini, nampaknya dunia EDM masih harus terus mencari solusi agar tidak terus terjadi hal serupa. Hal pertama yang harus disadari adalah semua pihak yang berkepentingan harus mengakui bahwa masalah obat terlarang memang ada di dunia EDM. Penyelenggara harus mencari solusi penyaringan barang terlarang untuk masuk kedalam lokasi. Lembaga edukasi harm reduction harus disiapkan dalam setiap acara untuk mengurangi resiko kematian. Para artis harus berani kampanye anti penggunaan obat terlarang. Para penonton dan penikmat EDM pun harus turut serta dalam kampanye ini. Dengan lebih bertanggung jawab, semoga di masa depan tak ada lagi yang harus tewas overdosis saat ajojing sementara para bandar tak peduli dan masih bisa tertawa terbahak.
Kejadian itu cukup mengejutkan dan menggugah saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang apa yang terjadi sembari melihat bingkai besarnya. 6 korban jiwa bukan angka yang kecil untuk sebuah event musik. Ketika rangkaian event "A State Of Trance" itu digelar di Jakarta keesokan harinya, jatuh pula 3 korban tewas akibat overdosis (sumber). Keadaan tersebut sudah begitu serius karena meskipun sifat kejahatan penggunaan narkotika/obat terlarang merupakan perilaku unik dimana sang korban juga merupakan pelaku. Sejenis seperti layaknya bunuh diri yang diistilahkan victimless crime. Namun ketika sudah jatuh korban jiwa, sudah saatnya hal ini dilihat sebagai fenomena. Untuk membuka mata, mari kita telisik, relasi apa yang sebenarnya terjadi antara EDM dan drugs?
Penggunaan drugs atau pun narkotika dan relasinya dengan musik sebenarnya sudah merentang jauh. Coba saja melirik sejarah musik Psychedelic yang erat dikaitkan dengan LSD. Era EDM pun begitu erat dengan ekstasi. Tammy L. Anderson, seorang profesor dari Departemen Sosiologi dan Peradilan Pidana University of Delaware pernah membahas ini lewat penelitiannya di tahun 2008 mengenai solidaritas dan penggunaan obat terlarang di skena EDM (sumber). Dalam laporannya menyebutkan bahwa pesta rave sebagai situs penggunaan obat terlarang besar-besaran. Menelisik lebih jauh ia mengklarifikasi mengenai solidaritas dalam penggunaan obat terlarang. Selain itu ia juga membahas beberapa hal tentang keterkaitannya dengan identitas kolektif dan budaya anak muda.
Event EDM seperti rave tentu melibatkan juga para artis yang menyajikan musik. Mengenai kejadian serupa di ajang Electric Zoo di New York tanggal 30 Agustus – 1 September yang memakan korban 2 orang, Jillionaire dari grup Major Lazer melempar pernyataan yang cukup menohok.
"It's going to sound weird, but we need to teach kids how to do drugs, the same way we teach them about drinking responsibly and having safe sex," (sumber)
Sedangkan Diplo berkomentar
"We're such a conservative culture that we'd rather not talk about the things kids want to do, even though they're going to do them anyway," Diplo said. "We'd rather ignore it to solve the problem. In Florida, where I'm from, drugs have been a part of club culture since day one. Kids have always been going to raves in the woods. 20 years ago, Orlando was one of the first places to have rave culture, and we learned how to do drugs. It's going to happen; you can't control it. Persecuting a festival is not going to help it because kids are going to do them regardless.”
(sumber)
Acara Electric Zoo pun akhirnya harus diberhentikan untuk menghindari jatuhnya korban lagi di acara tersebut. Dari segi bisnis, perputaran uang di dunia EDM sudah mencapai nilai 4,5 miliar Dollar ini. Bayangkan resiko tinggi yang harus ditanggung para pelaku usaha di bidang ini ketika berhadapan dengan kondisi-kondisi yang penuh ketidakpastian.
Dengan berbagai kejadian seperti diatas, skena EDM bisa terbelenggu. Hukum narkotika dan obat terlarang yang semakin ketat, norma-norma konservatif serta resiko tinggi dari segi bisnis bisa melumpuhkan gerak perkembangan skena EDM ibarat tawanan yang dibelenggu.
Salah siapa? Pertanyaan ini menjadi salah satu fokus utama dalam mencari solusi. Kita tidak bisa menyalahkan musiknya. Beberapa opini beranggapan bahwa saat ini banyak beredar obat terlarang “palsu” sehingga sering terjadi pada korban dimana mereka menyangka yang dikonsumsi adalah MDMA (methylenedioxy methylamphetamine / Ecstasy) padahal sebenarnya adalah PMA (para-Methoxyamphetamine). Karena perbedaan ini kadang mengecoh penggunanya untuk mengonsumsi lebih banyak dan pada akhirnya menyebabkan overdosis.
Namun apakah keberadaan ecstasy bisa dibenarkan? Seperti komentar Diplo diatas, bahwa drugs sudah menjadi bagian dari skena ini. Mungkin kata-kata Jillionaire mengenai pentingnya pengetahuan tentang bagaimana memakai obat terlarang bisa menjadi salah satu solusi namun tentu harus menabrak banyak rambu. Pencegahan peredaran obat terlarang di lokasi event pun nyaris mustahil karena tak mungkin melakukan razia mendalam pada ribuan penonton. Hal ini yang dilihat oleh DanceSafe sebuah lembaga yang mengedukasi penonton mengenai pengurangan bahaya (harm reduction) dari penggunaan obat terlarang. Namun kendalanya kadang tidak semua pihak bisa menerima keberadaan mereka karena seakan mengamini penggunaan obat terlarang. Hal ini ibarat sebuah lokalisasi pelacuran yang tak terjamah kampanye seks yang aman.
Ada juga beberapa pernyataan para artis yang patut disimak. Bagi para artis yang jadi panutan, sudah sepantasnya mengampanyekan pelarangan penggunaan obat terlarang. Ex personil Swedish House Mafia, Sebastian Ingrosso berpendapat serupa “I think that it’s very important that if you are some kind of icon and up on stage, and there are thousands of people following us on Twitter and coming to our shows, we need to be someone [fans] can look up to,” Selain itu ada juga pernyataan seperti ini “I don’t think we should be scared of saying ‘don’t do drugs,’”. “There is this sort of elephant in the room, where people are scared to say, ‘That stuff is dangerous and don’t mess around.’” ujar A-Trak.
Melihat banyaknya sisi dari masalah ini, nampaknya dunia EDM masih harus terus mencari solusi agar tidak terus terjadi hal serupa. Hal pertama yang harus disadari adalah semua pihak yang berkepentingan harus mengakui bahwa masalah obat terlarang memang ada di dunia EDM. Penyelenggara harus mencari solusi penyaringan barang terlarang untuk masuk kedalam lokasi. Lembaga edukasi harm reduction harus disiapkan dalam setiap acara untuk mengurangi resiko kematian. Para artis harus berani kampanye anti penggunaan obat terlarang. Para penonton dan penikmat EDM pun harus turut serta dalam kampanye ini. Dengan lebih bertanggung jawab, semoga di masa depan tak ada lagi yang harus tewas overdosis saat ajojing sementara para bandar tak peduli dan masih bisa tertawa terbahak.
Wednesday, March 5, 2014
"Stay At Home Mom" - Pahlawan Domestik
Istilah "Stay At Home Mom" tampaknya sekarang makin banyak dibahas. Dulu biasa disebut Ibu Rumah Tangga. Tapi menurut saya "Stay At Home Mom" lebih dari itu.
Saya saat ini bekerja sebagai pegawai di bidang pemasaran. Jam kerja saya kurang lebih 45-55 jam per minggu. Pekerjaan yang saya jalani memang menopang ekonomi keluarga kami sehari-hari. Sifat pekerjaan kepegawaian saat ini jadi zona aman bagi topangan ekonomi kami.
Istri saya adalah seorang "Stay At Home Mom". Jika dikalkulasikan jam kerjanya bisa hingga 16-20 jam per hari tanpa libur akhir pekan. Di sela-sela pekerjaan membesarkan anak dan mengurus rumah tangga, seorang "Stay At Home Mom" kadang juga bekerja yang menghasilkan uang. Istri saya adalah seorang seniman visual yang masih tetap berkarya. Meskipun berkarya adalah hidupnya tapi semenjak anak kami lahir, prioritas itu beralih. Anak kami adalah prioritas utama dan itulah dasar keputusan kami untuk memilih jalan bagi istri saya menjadi "Stay At Home Mom". Sebuah pekerjaan yang tidak digaji dengan uang, tapi dengan senyuman, tangisan, pengalaman dan tawa anak kami.
Momen tumbuh kembang anak bukan sebuah rekaman yang bisa di putar ulang begitu saja. Usaha anak untuk tengkurap, kejadian jatuh dari tempat tidur karena sudah bisa berguling, respon-respon pertama pada rangsangan indera, dan banyak lagi momen yang harus terekam oleh orangtua. Saya tidak mau momen-momen itu terjadi tanpa ada kehadiran salah satu dari kami. Anak kami harus bisa merasakan bahwa ada kami disetiap saat penting tersebut. Kami ingin ia merasakan keberadaan ibunya saat ia berusaha sekuat tenaga, jatuh bangun belajar berdiri.
"Stay At Home Mom" bukan para ibu rumah tangga yang asal tak bekerja dan nganggur saja di rumah. "Stay At Home Mom" adalah para ibu yang mendedikasikan dirinya pada pekerjaan menjadi seorang ibu. Peran ibu dijalani dengan tenaga bantuan seminim mungkin agar interaksi dengan anak bisa semaksimal mungkin. Targetnya bukan angka penjualan, KPI, atau pun rating. Target para "Stay At Home Mom" adalah kesehatan, kenyamanan, kepandaian, kecakapan dan berbagai pencapaian yang tidak melulu diukur lewat nominal. Sebuah target yang di satu sisi tak hingga namun di sisi lain ada batasnya. Sebuah pekerjaan yang absurd dari segi rasional namun mulia luar biasa. Sebuah peran yang begitu penting bagi sang anak meski tak tahu apresiasi apa yang akan didapat. Sebuah perjudian yang ikhlas dilakukan 1000%.
Saya begitu bersyukur untuk kenyataan bahwa keluarga kami diberi kesempatan oleh Allah untuk istri saya menjadi "Stay At Home Mom". Jujur saja, banyak sekali ibu yang tidak punya kesempatan yang sama karena topangan ekonomi keluarga pun ada di pundak mereka. Bukan tak salut dengan para ibu yang tetap mencari nafkah, tapi bila dirasa sang ibu bisa jadi "Stay At Home Mom", sebaiknya jangan buang kesempatan itu. Saya kadang melihat seorang ibu rumah tangga yang menitipkan begitu saja anaknya di tempat bermain sementara mereka asik arisan atau belanja hura-hura. Buat saya ini agak konyol karena waktu tak bisa diulang dan bayangkan menit-menit kebersamaan itu terbuang begitu saja demi mencari sepasang sepatu obral atau selfie pakai tongsis dengan teman geng arisan. Sedih.
Bagi para ayah juga mulailah berusaha untuk bekerja dua kali lebih keras agar istri bisa menjadi "Stay At Home Mom". Percayalah, pekerjaan "Stay At Home Mom" bukan sekedar internetan di rumah sambil sesekali menggendong anak. Bayangkan memasak, membersihkan berbagai perlengkapan bayi, mencuci, mengawasi, mengajarkan sembari belajar dan menyiapkan berbagai hal untuk esok hari. Semua dilakukan di tengah tekanan yang tidak rasional seperti anak menangis hanya karena tidak bisa memasang bongkahan-bongkahan Lego dengan benar. Belum lagi jika anak sedang ada gangguan kesehatan. Bayangkan itu semua terjadi setiap hari tanpa libur. Di saat anak tidur, "Stay At Home Mom" tidak ikut tidur tapi melakukan pekerjaan yang tidak "child safe" seperti menyetrika, masak, dll. Di saat senggang bukan istirahat yang dilakukan tapi mempelajari tentang penyakit yang sedang diderita anak, tentang memasak makanan sehat, dan banyak lagi. "Stay At Home Mom" harus cakap, pintar, tegas dan punya hati.
"Stay At Home Mom" adalah para pahlawan. Istri saya adalah pahlawan bagi saya. "Stay At Home Mom" bukan para perempuan yang bisa disepelekan karena di tangan mereka bibit masa depan dibesarkan.
Sekali lagi saya bukan bermaksud menyepelekan para ibu yang bekerja, tapi jika memungkinkan menjadi "Stay At Home Mom", jalankanlah dengan seluruh jiwa raga. Juga bagi para ayah, hargailah istri yang menjadi "Stay At Home Mom". Mereka pekerja keras dan perempuan istimewa.
Subscribe to:
Posts (Atom)