Mau kerja di perusahaan rekaman International? Tertarik kerja di lingkungan industri musik yang kreatif dan dinamis.
Ini ada lowongan di Sony Music Entertainment Indonesia. Diambil dari postingan rekan saya Nabil, Senior Manager - Local Repertoire, Sony Music Entertainment Indonesia.
Ini bisa jadi awalan karir yang bagus buat belajar tentang industri musik.
Pagi ini banyak penikmat
musik dan pelaku industri musik memantau ajang Grammy Awards ke-57.
Salah satu hal yang paling mengejutkan dan jadi perbincangan adalah
pada kategori bergengsi, Album of The Year yang dinobatkan pada album
“Morning Phase” dari Beck.
Saya tertarik untuk
membahas kemenangan Beck bukan dari sisi apa yang ditawarkan
albumnya, karena itu hanya akan menjadi sebuah album review. Namun
perbincangan di media sosial adalah mengenai anak muda dan remaja
yang mungkin tak tahu siapa Beck. Publikasi yang kurang juga seakan
menghalanginya untuk jadi pemenang Album of The Year. Sebenarnya
kalau melihat sejarah Beck di ajang Grammy, tak mengejutkan jika ia
meraihnya tahun ini.
Beck mendapat nominasi
Grammy pertamanya tahun 1995 untuk kategori Best
Male Rock Vocal Performance lewat lagu “Loser”. Bayangkan,
itu terjadi 20 tahun lalu! Saat itu ia bersaing dengan Peter Gabriel,
Van Morrison, Bruce Springsteen dan Neil Young. Ia dikalahkan Bruce
Springsteen denga “Street of Philadelphia” yang membahana di
seluruh dunia lewat film “Philadelphia”.
Dua tahun kemudian, di
tahun 1997 Beck kembali lagi masuk jajaran nominator. Tidak
tanggung-tanggung kategorinya Album of The Year untuk albumnya yang
berjudul “Odelay”. Dua nominasi lainnya adalah Best
Male Rock Vocal Performance lewat lagu "Where
It's At" dan Best Alternative Music
Performance lewat album “Odelay” yang keduanya berhasil ia
menangkan.
Tahun 2000 Beck kembali
meraih kemenangan Grammy lewat album “Mutations”. Kategori yang
ia menangkan adalah Best Alternative Music
Performance. Album ini bersaing album-album dari Fatboy Slim, Tori
Amos, Moby dan Nine Inch Nails. Setahun kemudian, tahun 2001 Beck
kembali meraih nominasi Album of The Year lewat album “Midnite
Vultures”. Bersaing dengan “Kid A” Radiohead, “Marshall
Mathers LP” Eminem, “You're The One” Paul Simon, “Two Against
Nature” Steely dan, Beck masih harus mengakui keunggulan Steely Dan
saat itu. Di kategori Best Alternative Music Album, ia dikalahkan
oleh Radiohead yang di tahun tersebut punya album “Kid A” yang
sangat kuat.
Tahun
2003 ia mendapat nominasi lagi untuk kategori Best Alternative Music
Album. Kali ini untuk album “Sea Change”. Sayangnya ia tidak
memenangkannya. Lanjut ke tahun 2006, Beck kembali mendapat nominasi
di kategori yang sama lewat albumnya yang bertitel “Guero”. Tahun
2007 lewat lagu “nausea” Beck dinominasikan pada ajang Grammy
untuk kategori Best Solo Rock Vocal Performance. Nominasi untuk
kategori yang sama didapatkannya lagi di tahun 2008 lewat lagu
“Timebomb”. Album “Modern Guilt” membawa Beck ke ajang Grammy
tahun 2009 dengan nominasi Best Alternative Music Album. Danger Mouse
yang menjadi produser album ini juga mendapat nominasi untuk kategori
Producer Of The Year, Non-Classical.
6
tahun kemudian, tahun 2015, Beck muncul sebagai musisi yang cukup
senior dibanding pesaingnya. Ia pun menjadi penampil bersama Chris
Martin menyanyikan lagu dari album “Morning Phase” berjudul
“Heart Is A Drum”. Total nominasi yang ia (termasuk karya dan
timnya) raih juga tak sedikit, 5 kategori. Dua nominasi yang tak
dimenangkannya adalah Best Rock Performance yang dimenangkan
“Lazaretto”-nya Jack White dan Best Rock Song yang dimenangkan
“Ain't It Fun” dari Paramore. Mari kita bahas tiga kategori yang
dimenangkannya tahun ini.
Grammy
pertama, adalah untuk kategori Best Engineered Album, Non-Classical
yang dimenangkan “Morning Phase” memang bukan ditujukan untuk
Beck pribadi namun lebih ke tim sound engineer yang mengerjakan
album. Tercatat nama Tom Elmhirst, David
Greenbaum, Florian Lagatta, Cole Marsden, Greif Neill, Robbie Nelson,
Darrell Thorp, Cassidy Turbin & Joe Visciano sebagai engineers
dan Bob Ludwig sebagai mastering engineer.
Kategori
kedua yang dimenangkannya adalah Best Rock Album. Ia tahun ini
mengalahkan nama legendaris U2 dengan album “Songs of Innocence”
yang menjadi berita besar lewat langkah memberi cuma-cuma ke pengguna
iTunes di seluruh dunia. Selain itu nama lain yang dikalahkannya.
Selain itu ada album ke-14 dari Ryan Adams yang diberi judul namanya
sendiri; album “Hypnotic Eye” dari band lawas Tom
Petty and the Heartbreakers yang
untuk pertama kalinya album mereka menduduki posisi puncak Billboard
200 saat debut; serta album “Turn Blue” dari The Black Keys yang
juga debut di posisi puncak Billboard 200.
Kategori
terakhir dan yang paling bergengsi tentunya Album of The Year.
Pencapaiannya ini bahkan membuat banyak orang bingung. Kanye West
bahkan hampir menginterupsi proses penyerahan piala tersebut.
Bayangkan Beck bertarung melawan album-album raksasa yang sukses luar
biasa dan mendapat pujian dari kalangan kritikus. Mengutip pada
website Grammy Awards, pertimbangan besar dari sebuah penghargaan
Grammy adalah sebagai berikut
“The
GRAMMYs are the only peer-presented award to honor artistic
achievement, technical proficiency and overall excellence in the
recording industry, without regard to album sales or chart position.”
(http://www.grammy.org/recording-academy)
Jika
melihat penjelasan itu, tentunya ini bukan masalah popularitas
semata. Tangga lagu dan catatan penjualan juga tak serta-merta jadi
penentunya. Faktor estetika, kualitas, teknis pengerjaan, dan banyak
faktor lain bisa menjadi penilaian. Pada akhirnya memang Beck lah
juara kategori Album of The Year, dan bukan hal aneh jika melihat
bahwa ia sudah punya sejarah panjang ketika kita bicara Grammy
dibanding nominator lain. Salut untuk Beck!
Apakah kamu orang yang
rewel dengan kualitas audio dari musik yang kamu dengarkan? Kalau
iya, sudah saat nya kamu cari tahu lebih banyak tentang Audio
Resolusi Tinggi / Hi-Res Audio. Perihal mengenai signifikan-tidaknya
sebuah file audio dalam kualitas hi-res sebenarnya masih menjadi
perdebatan di kalangan audiophile. Banyak anggapan bahwa penilaian
lebih bagus atau tidaknya kualitas audio adalah sugesti saja karena
pada akhirnya kemampuan pendengaran manusia ada batasnya.
Mengesampingkan perdebatan itu, nyatanya teknologi kualitas audio
terus saja dikembangkan dan kini banyak yang berlomba merebut pasar
tersebut.
Istilah Hi-Res Audio
biasa digunakan untuk file rekaman suara diatas spesifikasi sampling
standar CD audio yang selama ini digunakan yaitu 16-bit/44.1kHz.
Biasanya sampling yang banyak digunakan yaitu 24-bit/96kHz. Beberapa
format file yang popular adalah WAV, AIFF, FLAC, ALAC dan beberapa
format lain. Peningkatan spesifikasi tentunya berpengaruh ke ukuran
file menjadi lebih besar. Namun bagi penikmat musik, terkadang
kualitas audio memang perlu dipertimbangkan.
Di luar perusahaan yang
memang fokus ke dunia audio, teknologi Hi-Res Audio kini begitu
diminati produsen gadget terkemuka seperti Sony dan Microsoft.
Layanan penyedia musik juga mulai menarik minat konsumen dan
investor. Apakah ini akan menjadi ruang gerak baru dalam perkembangan
bisnis musik?
Secara pribadi, saya
cukup rewel dengan kualitas audio karena dibiasakan mengenali dan
melakukan pengaturan perangkat audio dengan baik sejak kecil oleh
bapak saya. Minat saya pun makin besar pada bidang audio apalagi saya
bekerja di bidang musik. Mengikuti perkembangan teknologi audio jadi
wajib hukumnya bagi para “audiophile” alias penggila audio yang
mengejar kualitas terbaik dalam mendengarkan musik. Salah satu yang
banyak jadi pembicaraan ada mengenai format sumber musik, misalnya
CD, piringan hitam atau file digital yang diputar menggunakan peranti
portable sejenis iPod atau multimedia player. Perangkat lainnya
seperti Amplifier, speaker, DAC (Digital-Audio Converter), hingga
kabel juga jadi pertimbangan. Berbagai elemen inilah yang akhirnya
membuka peluang-peluang baru seiring datangnya era Hi-Res Audio.
Sony Walkman NW-ZX2
Sony tahun ini merilis
perangkat Walkman seri NW-ZX2 seharga 1200 Dollar AS. Sebelumnya Sony
sudah mengembangkan perangkat untuk Hi-Res Audio lewat berbagai
produk seperti amplifier portable, DAC, Amplifier, Speaker,
Headphone, Earphone terbarunya. Namun kehadiran NW-ZX2 yang menjadi
sorotan karena bandrol harga yang fantastis tersebut cukup berani di
tengah pasar pemutar musik yang rentang harganya begitu lebar. Untuk
membeli pemutar musik berspesifikasi rendah dengan merk yang juga tak
jelas, kita cukup merogoh kocek sekitar Rp.100.000. Bayangkan sebuah
pemutar musik seharga lebih dari Rp. 12 juta! Sony melihat cukup luas
lewat pengembangan Hi-Res Audio ini.
Merujuk website Sony (Asia), mereka
mengarahkan pengguna perangkat Hi-Res Audio untuk membeli musik ke
beberapa layanan yaitu 2L (https://shop.klicktrack.com/2l),
Naim Label (http://www.naimlabel.com/), Linn Records (http://www.linnrecords.com/), HifiTrack (http://www.hifitrack.com/en)
dan beberapa nama lain. Kemitraan dengan penyedia layanan musik
berkualitas Hi-Res Audio harus dilakukan. Bayangkan jika pembeli
perangkat mahal ini akhirnya sulit mendapatkan konten untuk
dimainkan, mubazir kan?
Nokia N1
Bergeser ke nama besar
lain, Microsoft juga tampaknya melirik kepopuleran Hi-Res Audio.
Gabriel Aul dari Windows Insider mengunggah sebuah screen-capture
dari sistem operasi Windows 10 yang menunjukkan kompatibilitas dengan
format musik FLAC. Berita ini menjadi perbincangan para audiophile
karena memutar file FLAC akan menjadi semakin mudah. Nokia (yang juga
sudah diakusisi oleh Microsoft) tampaknya juga memperhatikan
kebutuhan audio yang baik. Tablet Nokia N1 menggunakan Wolfson WM895
sebagai chip DAC. Chip ini punya reputasi tinggi di kalangan
audiophile karena mampu menghasilkan kualitas audio yang lebih baik.
Kini mari melihat
perkembangan di sisi layanan penyedia musiknya. Nama yang sudah lebih
popular di dunia Hi-Res Audio adalah HDTracks. Di tengah keriuhan
penetrasi pasar ini, HDTracks belum terlihat melakukan manuver
signifikan. Pengembangan bisnis terkini dari perusahaan asal New York
ini salah satunya dengan melebarkan sayap lewat dibukanya kantor
HDTracks di Inggris dan Jerman bulan September 2014 lalu.
PonoPlayer
Selebriti juga mulai
melirik ranah bisnis Hi-Res Audio. Neil Young terjun ke dunia Hi-Res
Audio lewat perusahaannya, PonoMusic. Perusahaan ini menjalankan
bisnis layanan unduhan musik dalam format Hi-Res Audio dan juga
memproduksi pemutar musik portable. Jay Z baru saja membeli Aspiro,
perusahaan Swedia pemilik layanan WiMP dan Tidal. Tidal adalah
layanan streaming musik dalam format Hi-Res. Saat ini layanan
streaming musik sedang menjadi primadona baru lewat kesuksesan
Spotify memperoleh pasar yang signifikan. Tidal bisa jadi jawaban
untuk mereka yang nyaman dengan layanan streaming musik namun
menginginkan kualitas audio yang maksimal.
Segala perkembangan dalam
dunia Hi-Res Audio tentu menghadapi hambatan juga. Ukuran file yang
lebih besar membutuhkan koneksi dan kuota internet yang lebih baik.
Tantangan tentu jadi lebih besar untuk layanan streaming karena
koneksi harus benar-benar kencang dan stabil. Menikmati Hi-Res Audio
membutuhkan keseluruhan sistem perangkat yang mumpuni untuk
benar-benar memaksimalkan kualitas suara. Mulai dari
headphone/earphone, speakers, amplifier, DAP (Digital Audio Player),
DAC (Digital-Analog Converter), hingga kabel-kabelnya bisa
mempengaruhi. Perangkat yang masuk kategori High Fidelity (Hi-Fi)
tentunya tidak murah. Tanpa perangkat yang mendukung, file Hi-Res
akan terdengar sama saja dibanding file Mp3 biasa. Hal terakhir yang
menjadi tantangan adalah meyakinkan pasar bahwa Hi-Res Audio itu
perlu dan layak dikonsumsi. Kenapa jadi tantangan? Karena tak semua
orang mampu membedakan kualitas audio.
Salah satu kunci dari
akan sukses tidaknya format Hi-Res Audio menjadi primadona baru
bisnis musik akan bergantung pada keberhasilan memasarkan ide bahwa
Hi-Res Audio adalah sesuatu yang keren dan trendi di masa depan.
Didukung infrastruktur layanan data internet yang kencang dan stabil,
trend tersebut bukan tak mungkin terwujud. Terlihat dari minat
berbagai sisi industri yang mulai melirik, tampaknya format High
Resolution Audio sedang menjalani masa percobaan untuk menjadi mainan
baru industri musik. Dari mainan akhirnya menjadi senjata utama, bisa
jadi.
Pembicaraan semacam ini yang biasanya mengawali pertemuan saya dengan om Denny Sakrie. Berlanjut ke diskusi seru tentang banyak hal seputar musik. Om Denny ini meskipun jauh senior tapi selalu terbuka untuk diskusi dengan anak-anak muda. Tak pernah ada tendensi untuk menggiring opini atau memaksakan pandangannya meskipun kadang berbeda. Makanya saya selalu sempatkan waktu panjang kalau om Denny mau mampir ke kantor. Nggak banyak orang dengan pengetahuan sebanyak beliau yang bisa tetap bersahaja, tidak sombong dan tidak sok tau. Saya selalu suka belajar dan diskusi tentang industri musik dari orang seperti om Denny, beliau saya anggap sebagai guru.
Barusan dapat kabar om Denny meninggal dunia. Semoga diberikan tempat terbaik oleh Tuhan. Akhirnya om Denny bisa kembali menikmati penampilan om Chrisye, Jim Morrison hingga Janis Joplin.
Perjalanan untuk
mendampingi media semacam ini memang merupakan salah satu tugas tim
marketing di perusahaan rekaman. Cara ini sering dilakukan karena
padatnya jadwal artis internasional yang hanya bisa mengunjungi 1-2
kota di setiap region. Di Asia, negara yang paling sering jadi tujuan
adalah Hong Kong atau Singapura. Beberapa hal yang harus dikerjakan
pra keberangkatan adalah pengaturan dan koordinasi dengan pihak media
serta kantor regional. Selain itu tentu pengaturan hotel,
penerbangan, akomodasi dan penjadwalan juga perlu dilakukan.
Berkaitan dengan peliputan, kita harus koordinasi mengenai
regulasinya. Semua ini diperlukan demi kelancaran proses peliputan
dan wawancara. Semua ini sudah harus siap sebelum keberangkatan.
Kembali ke cerita
perjalanan yang kini sudah masuk hari kedua. Pagi-pagi saya mulai cek
kegiatan Collabro di media sosial, karena bisa menjadi bahan
wawancara serta konten promosi untuk diteruskan ke tim sosial media
kami. Mereka foto di airport dan juga mengambil video singkat di
kawasan Tsim Sha Tsui menyanyikan lagu “Let It Go” di pinggir
jalan. Oke tandanya mereka benar-benar sudah tiba di Hong Kong. Kami
jadi media pertama yang datang ke lokasi, karena sudah datang
jauh-jauh kalau sampai ada hal yang terlewat kan rugi besar. Tim Net.
segera menyiapkan peralatan di ballroom tempat showcase akan
berlangsung sementara saya berbincang serta berkenalan dengan
rekan-rekan Sony Music dari negara tetangga.
The Langham ternyata
memang cukup mewah dan memiliki akar dari London. Hal ini sangat
relevan dengan Collabro yang merupakan pemenang Britain’s GotTalent dan pernah tampil di acara Royal Variety, acara hiburan
bergengsi untuk kalangan kerajaan Inggris. Istilah pimpinan The
Langham Hongkong ketika menanggapi Collabro tampil di hotelnya di
Hong Kong adalah “Bring’em home” karena The Langham Hong Kong
begitu kental dengan nilai-nilai Inggris Collabro akan merasa seperti
di rumah sendiri ketika tinggal di The Langham Hong Kong. Penonton
pun tergelak sembari menikmati minuman dari Hennessy VSOP yang juga
mensponsori acara ini.
Tak lama, Collabro
diundang naik panggung. Lima pemuda berpakaian jas serba hitam pun
kini ada di hadapan penonton yang bertepuk dan bersorak. Sedikit
perkenalan dilanjutkan penampilan lagu “Come What May” dari
Moulin Rouge; “Over the Rainbow” dari The Wizard of Oz;
“Let It Go” dariFrozen, “All of Me” hit dari John
Legend, “Bring Him Home” dan “Stars” dari Les Miserables.
Mereka memang spesialis lagu dari pertunjukan musikal. Ini hal yang
saya suka dari mereka. Lagu musikal terdengar lebih mudah diterima
umum dengan jalan cerita yang juga lebih popular dibanding opera.
Saya orang yang cukup menikmati pertunjukan musik semacam ini
gara-gara beberapa kali ikut menangani acara-acara pribadi yang
mengundang penyanyi opera/klasik seperti Il Divo, Jackie Evancho dan
Richard & Adam. Buat saya Collabro lebih menarik dengan pembagian
vokal yang juga variatif. Karena sudah 4 kali menonton penampilan Il
Divo, pertunjukan Collabro ini menjadi penyegaran karena Il Divo
sudah lebih mapan dari sisi aransemen sehingga sudah lebih mudah
ditebak. Ini lebih segar, ditambah penampilan muda yang juga tentunya
lebih menarik dan menunjukkan antusiasme lebih besar.
Album debut mereka,
“Stars” digarap oleh produser Graham Stack (Take That, Leann
Rimes, Il Divo) dan Matt Furmidge (One Direction, Boyzone, Craig
David). Album ini langsung melesat ke posisi #1 di Inggris saat
debutnya, menggantikan album “X” dari Ed Sheeran di posisi
puncak. Dengan rapor baik yang mereka miliki, tak heran jika melihat
penampilan mereka bisa bikin kita kagum.
Setelah sesi showcase,
kami menunggu jadwal interview yang akan dilakukan di salah satu
kamar suite. Berhubung media dari Indonesia adalah televisi maka kami
perlu waktu lebih awal untuk menyiapkan peralatan. Naiklah kita ke
lantai 15 The Langham Hong Kong tempat suite yang digunakan sebagai
lokasi interview. Di sana sudah ada kru kamera dan audio yang juga
disewa untuk menyediakan materi audio-video untuk kami dan negara
lain yang tak mengirim media. Tim dari Net. juga menyipkan
peralatannya sembari menyamakan pengaturan kamera sewaan yang diawaki
kru dari Hong Kong. Kendala bahasa bisa diatasi lewat pemahaman atas
peralatannya.
Setelah menunggu beberapa
waktu, datanglah para personil Collabro yang dengan ramah menyapa.
Tak menunggu lama, wawancara segera dimulai dengan reporter Net.
sebagai penanya. Wawancara berlangsung sangat lancar dan para
personil Collabro menjawab pertanyaan dengan cukup variatif, jelas
serta menyenangkan. Usia mereka yang masih terbilang muda begitu
terlihat di wawancara. Meskipun berpenampilan rapi berjas namun itu
hanya kemasan dari pribadi-pribadi yang berjiwa muda ini. Setelah
sekitar 10 pertanyaan yang menghabiskan waktu kurang lebih 30 menit,
wawancara pun harus selesai. Plong rasanya kalau sudah beres. Saya
sempatkan juga untuk berfoto bersama mereka dong.
Kami pun berberes
dan sempat berbincang dulu dengan orang-orang dari pihak ROAR Global,
perusahaan manajemen artis yang menaungi Collabro. Saya berkenalan
dengan Professor Jonathan Shalit OBE, pendiri ROAR Global yang juga
mendapat gelar kehormatan dari kerajaan Inggris atas jasanya di
bidang dunia hiburan. Sebuah perbincangan singkat yang tapi berkesan
karena saya tahu betapa orang yang saya ajak bicara itu adalah orang
yang sangat penting di industri musik Inggris.
Setelah semua beres kami
pun meninggalkan lokasi untuk kembali ke hotel dan berencana menutup
hari dengan makan malam di daerah Temple Street lokasi terkenal
tempat pasar malam dan resto seafood Spicy Crabs. Kami pun meluncur
dengan kereta MTR menuju stasiun Jordan dan berjalan kurang lebih 5
menit untuk sampai ke daerah Temple Street. Meski tak seramai Mong
Kok, saya lebih menikmati tempat ini karena lebih banyak dagangan
unik, jajanan jalanan dan tempat makan di pinggir jalan.
Kami memilih salah satu
rumah makan Spicy Crab yang ditawarkan oleh para pelayannya. Mereka
menawarkan makan ditempatnya dengan penuh semangat jadi kami pun
seakan tersedot ke tempatnya. Menunya kebanyakan seafood. Menu
spesialnya adalah Spicy Crab namun ternyata harganya mahal sekali
yaitu sekitar HKD400 untuk 2 ekor kepiting. No way. Kami akhirnya
hanya pilih Udang goreng, Ayam saus lemon dan sayuran jamur. Makanan
di tempat ini enak! Apalagi kita sudah sangat lapar karena tidak
sempat makan siang. Total yang harus kami bayar dengan menu diatas
plus minuman softdrink sebesar hampir HKD300, agak mahal tapi atas
nama pengalaman tak apalah.
Sudah kenyang, kami pun jalan-jalan
menelusuri lapak-lapak jualan. Barang yang dijual lebih unik di pasar
ini, dari bong, batu cincin, topeng tradisional sampai sex toys
dijajakan di kaki lima. Kami juga menyicip cemilan jalanan entah apa
namanya yang pasti ada semacam bakso goreng, kaki gurita dan kue
waffle telur. Nyam nyam nyam. Harganya sekitar HKD20-30.
Hari sudah larut, kami
pun kembali ke hotel untuk berkemas karena esok harus pulang meskipun
masih punya waktu jalan-jalan sampai sore sebelum berangkat ke
bandara. Let's go to sleep..
Pada tanggal 15-17 November lalu saya berkesempatan pergi ke Hong Kong untuk menghadiri kegiatan promosi salah satu artis Sony Music yaitu Collabro. Seperti biasa, tugas saya adalah menangani media dari Indonesia yang meliput acara ini. Kali ini saya bepergian dengan tim peliputan dari Net. yang terdiri dari seorang reporter/creative dan seorang kamerawan. Mau tau lebih jauh tentang bagaimana sebuah perjalanan mendampingi media ke acara promosi artis internasional? Yuk saya ceritakan.
Perjalanan ini adalah
kedua kalinya saya ke Hong Kong setelah tahun lalu membawa media dari
Indigo Creative Production (rumah produksi beberapa infotainment) dan artis lokal Mikha Angelo untuk kegiatan promo Avril
Lavigne. Perjalanan tahun lalu meninggalkan kesan yang kurang menyenangkan gara-gara kami ketinggalan
pesawat pulang. Tahun ini persiapan lebih matang dan jadwal pun
diperketat untuk menghindari musibah yang sama. Kembali ke perjalanan
kali ini, saya cukup menyukai Hong Kong karena dinamikanya yang luar
biasa. Riuh, cepat, ramai, padat namun masih ada keteraturan. Urusan
pekerjaan menjadi tak terasa berat jika kita bisa nikmati
perjalanannya.
Kegiatan promo Collabro yang diprakarsai oleh Sony Music kali ini terdiri dari sesi showcase untuk kalangan media dan undangan
kemudian dilanjutkan wawancara dengan media massa Hong Kong serta negara Asia lainnya. Wawancara
dilakukan secara langsung dan juga melalui sambungan telepon untuk
beberapa media negara Asia yang tak bisa hadir. Semua kegiatan akan dilakukan di The Langham, sebuah
hotel mewah di kawasan Tsim Sha Tsui yang merupakan area sibuk dengan
banyak pertokoan, perkantoran dan lokasi wisata. Lokasi hotel kami,
The Kowloon Hotel hanya berjarak 5 menit dari lokasi acara. Yes!
Dekat dengan banyak hal menarik! Kami tiba dengan Cathay Pacific,
penerbangan kelas ekonomi yang cukup nyaman dengan banyak pilihan
film serta acara TV. Sampai airport, lanjut perjalanan taksi ke hotel
dengan biaya kurang lebih HKD250. Pilihan lebih murah sebenarnya naik
kereta tapi karena kami membawa banyak peralatan TV jadi tak mungkin
naik angkutan massal.
Sesampainya di hotel kami
cukup excited karena lokasinya juara banget! Sore itu kami perlu
mengambil gambar suasana Hong Kong jadi kita memilih yang terdekat
yaitu Avenue of Stars, sekitar 7 menit berjalan kaki. Dari sana
kita bisa melihat pemandangan gedung dan lampu kota di Pulau Hong
Kong. Di lokasi yang sama juga terdapat patung-patung bintang besar
di dunia hiburan. Salah satu yang paling terkenal adalah patung Bruce
Lee. Selain itu juga ada cap tangan artis besar dari Sammo Hung,
Stephen Chow hingga Andy Lau di sepanjang tempat ini. Saya sempat
mencoba cemilan yang aromanya menggoda banget. Ternyata itu cumi yang
dibuat semacam dendeng dan diberi bumbu. Alot!
Cumi-cumi alot.
Ronald, kamerawan Net. sedang mengambil gambar untuk melengkapi liputan.
Karena makin lapar kita
langsung menuju Mong Kok naik kereta untuk lihat suasana pertokoan di
malam hari termasuk pasar murah Ladies Market dan sekalian mencari
tempat makan. Sampai di sana kita pilih tempat makan seperti warteg
di Indonesia. Saya nggak ngerti pesan apa, tunjuk-tunjuk saja
ternyata pas dicoba.. Pare! Aduh saya nggak suka pare, whatever lah.
Setelah makan di tempat "warteg" itu baru kemudian nemu tempat ini. Keliatannya lebih enak, damn!
Meskipun makan malam pertama di Hong Kong tidak terlalu istimewa, tak mengapa karena masih ada hari esok. Di perjalanan pulang kita melewati tempat makan yang kelihatannya lebih enak dengan sebagian dapurnya di muka restoran membuat makanannya terlihat makin menarik. Tapi apa daya kami sudah kenyang. Kita pun pulang dan bersiap untuk bekerja esok hari, meliput showcase dan melakukan wawancara dengan Collabro. Good night..
Sekitar sebulan lalu, saya bertemu dengan Pitta, kawan di industri musik. Ia memberitahu kini bekerja di The Expert Group, perusahaan yang menaungi brand Bowers&Wilkins. Merk ini mungkin belum begitu dikenal secara luas, namun bagi para audiophile nama B&W merupakan salah satu brand yang cukup dihormati. Singkat cerita kami banyak diskusi tentang dunia premium audio system dari pasar hingga pemasarannya. Kebetulan kantor tempat saya bekerja menggunakan beberapa speaker B&W yang juga pernah saya jajal. Akhirnya Pitta cerita kalau B&W akan membuka showroom pertamanya yang disebut "Experience Center" dan janji akan mengundang saat upacara pembukaannya.
Akhirnya undangan pun tiba dan saya sangat antusias untuk hadir, karena sebagai pecinta dunia audio, kesempatan ini sangat menarik buat saya. Selain itu dari segi pekerjaan juga tak ada salahnya membangun network dengan para pelaku industri high fidelity audio. Setibanya di lokasi yang terletak di Central Park (di kawasan ruko) acara sudah pada prosesi sambutan-sambitan termasuk dari perwakilan Kedutaan Besar Inggris sebagai penegas bahwa Bowers&Wilkins adalah aset penting negara tersebut.
Kemudian tiba saatnya para undangan bis merasakan pengalaman menikmati berbagai produk B&W di 3 jenis setup yang berbeda. Lantai pertama lebih bersifat showroom dengan produk portable (Headphones, earphones portable speakers, computer speakers). Saya cuma sempat mencoba 2 headphone yaitu P5 dan P7. Selain itu ada P3 dan IEM bertipe C5 Series 3. Keseluruhan headphone mengambil posisi sebagai portable headphone meakipun P7 agak terlalu bulky untuk jadi portable setup dengan model over ear. P7 adalah seri tertinggi dengan kualitas material yg sangat baik. Bahan kulit terasa mewah, jahitannya sangat rapi earpad juga cukup nyaman. Mengenai sound signature saya tak bisa komentar banyak karena kondisi audisi yang tidak ideal. Seri P5 jadi favorit saya karena tidak terlalu bulky dan masih nyaman untuk dilipat dan dibawa sebagai portable setup. Namun yang ini tipe on-ear, bukan over ear. Seri P3 lebih variatif dengan pilihan warna terang selain hitam.
Masuk ke sesi berikut yaitu ranah speaker. Meskipun di lantai dasar terpajang speaker legendaris Nautilus yang berharga lebih dari 1 miliar Rupiah namun sayangnya kita tak berkesempatan mencicipi suaranya. Namun di lantai berikutnya kita disuguhi ruang pamer speaker yang mayoritas diisi tipe 600series baik versi bookshelf, center hingga floorstand.
Di lantai ini ada juga ruang pengalaman yang menghadirkan varian-varian tertinggi line up 800 Diamond series yang memiliki kelebihan adanya unsur berlian di tweeter-nya. Fungsi berlian yang digunakan adalah untuk membuat cone tweeter yang lebih kuat sehingga rentang frekuensinya lebih tinggi. Dari penjelasannya, tweeter ini sanggup mereproduksi suara hingga 50kHz. Sebenarnya telinga manusia hanya sanggup mendengar sampai dengan 20kHz tapi buat pecinta audio, frequency range jadi indikator penting dari kemampuan sebuah speaker set. Seri speaker ini juga digunakan di studio rekaman legendaris Abbey Road. Dari audisi yang disuguhkan selama kurang lebih 5 menit dengan menggunakan adegan pertempuran di film Iron Man terbaru, memang kelas speaker ini cukup luar biasa. Seluruh frekuensi terdengar akurat rasa sonic yang juga bagus. Tapi harganya pun tak bohong, untuk satu pasang speaker floorstand front kita harus merogoh kocek lebih dari 250 juta Rupiah. Kemewahan ada harganya bung!
Di lantai teratas, suasana ruangan dibuat seperti sebuah rumah dengan ruang tidur dan dapur. B&W coba menawarkan sistem audio yang aplikatif untuk sehari-hari tanpa kebutuhan ruang home theater. Seri wireless Zeppelin Air yang diletakkan dirak dapur bisa dikontrol melalui fitur Apple Airplay. Suaranya sih seperti layaknya speaker wireless premium, cukup untuk kebutuhan harian. Di sisi lain ada ruang tidur yang dipasangkan dua jenis sepaker yaitu Mini Theater yang terdiri speaker satelit berukuran kecil serta Subwoofer serta tipe Panorama 2 yang berupa soundbar. Kriteria ini pas buat entry level yang tak mau repot dengan setup yang ribet. Tapi saingan B&W pun banyak sekali di ranah ini. Bose menawarkan sistem home theater yang lebih variatif dan soundbar kini banyak dirilis oleh produsen elektronik lain dengan kualitas audio yang beda tipis.
Di lantai yang sama kita masuk ke area uji 600 Series. Disini jelas sekali kalau 800 Series memang superior karena setup terbaik 600 series saja nggak sanggup menyaingi setup yang sebelumnya kita uji lebih dulu. Di 600 Series masih terasa frekuensi yang terdengar tak nyaman terutama di frekuensi tinggi. Sonic-nya juga kalah telak, mungkin karena box speaker yang lebih sederhana sehingga lebih terasa boxy dan nggak se-full suara yang dihasilkan 800 Series. Untuk entry-level seri ini cukup menarik. Speaker bookshelf bya yang terkecil bisa dibeli dengan beberapa belas juta saja untuk sepasangnya.
Bowers&Wilkins sepertinya mulai serius masuk pasar Indonesia. Nama dan reputasi mereka yang sudah cukup populer tetap perlu dipasarkan dengan gencar karena saingan mereka telah memulai jauh lebih awal. Bose dan Bang&Olufsen mungkin jadi kometitor utama. Tak sulit menemukan dua brand ini. Bahkan Bose sudah sangat meluas ibaratnya brand premium yang telah jadi generik. B&O masih cukup terjaga namanya lewat showroom di mall-mall mewah. B&W harus hadir dengan strategi yang jitu kalau mau menyalip mereka. Awalnya sudah baik dengan dibukanya "Experience Center" ini yang digembar-gemborkan sebagai showroom B&W terbesar se-Asia Tenggara. Staff yang ada juga harus dilatih untuk paham bahasa audio, karena orang yang berani membeli speaker ratusan juta pasti akan pertimbangkan spesifikasinya juga. Jadi buat Pitta, congrats for the opening of B&W showroom and you've got a lot of work to do now..