Euforia pasca pengumuman hasil
pilpres masih terasa hingga hari ini. Pemberitaan mengenai presiden terpilih
Indonesia kini mulai menghiasi media asing. Buat saya, media semacam BBC, ABC,
The Economist, Guardian, dll kurang menarik. Saya coba mencari sudut pandang media
yang berbeda. Fakta bahwa seorang metalhead bisa terpilih sebagai presiden di
negara demokrasi terbesar ke-3 jadi focus yang lebih ditekankan pada media musik
terutama media musik cadas.
Lewat media Metalhammer,
Blabbermouth, Loudwire hingga Revolver nama Jokowi melambung sebagai sosok
politisi penyuka musik metal yang sukses menjadi presiden. Ya, presiden adalah
posisi tertinggi di sebuah negara, bagi para metalhead, ini bukan berita
ringan. Vokalis Lamb of God, Randy Blythe, langsung berkomentar panjang di akun
instagram dengan postingan foto Jokowi mengenakan T-shirt Lamb of God dan foto
Jokowi berkaus Napalm Death sembari menunjukkan simbol tangan devil’s horn yang
jadi bahasa isyarat universal pemersatu para metalhead. Implikasi dari pemberitaan ini
tentu mengundang banyak komentar dari publik.
Salah satu yang menarik perhatian saya adalah komentar di artikel online dari majalah Revolver menanggapi kemenangan seorang metalhead menjadi presiden Indonesia berikut ini yang diposting oleh seorang Netizen bernama Mario, “Now I understand why the best guitars are Made in Indonesia....”. Sungguh saya bangga membacanya. Inilah yang kita harapkan sebagai bangsa. Pengakuan!
Salah satu yang menarik perhatian saya adalah komentar di artikel online dari majalah Revolver menanggapi kemenangan seorang metalhead menjadi presiden Indonesia berikut ini yang diposting oleh seorang Netizen bernama Mario, “Now I understand why the best guitars are Made in Indonesia....”. Sungguh saya bangga membacanya. Inilah yang kita harapkan sebagai bangsa. Pengakuan!
Bagi teman-teman yang awam
dengan dunia alat musik, Indonesia sudah lama menjadi salah satu produsen gitar
terbesar di dunia. Pabrik gitar seperti Samick, Cort, Yamaha dan banyak lagi
ada di Indonesia. Pabrik-pabrik selain mengeluarkan merk sendiri juga menjadi
produsen untuk merk ternama lain seperti Squier (anak usaha Fender), Epiphone
(anak usaha Gibson), LTD (anak usaha ESP), Ibanez dll. Selain industri kelas
besar, gitar berkelas butik asal Indonesia juga sangat popular. Gitar Secco
yang dibuat oleh luthier (sebutan untuk seniman pembuat gitar) Yosefat Wenardi
Wigono asal Jawa Barat telah melanglangbuana hingga ke mancanegara. Harga gitar
buatannya bisa mencapai USD4000, setara sekitar 45 juta Rupiah! Luthier lain
misalnya kang Hanung degan Stranough Guitar juga masuk pasar internasional
terutama dengan memproduksi Lapstick, sebuah travel guitar ciptaan Phil Neal
yang dipasarkan di Eropa. Gelar gitar terbaik di dunia juga diraih oleh luthier
Indonesia. Tahun 2012 lalu, Doddy “Mr. D” Hernanto dari Rick Hanes Guitar sukses
membawa gitar tanah air menjadi gitar-gitar terbaik di dunia versi majalah
Guitar Planet, Inggris.
Bagi kalangan industri alat
musik dunia, Indonesia sudah menjadi salah satu pusat produksi gitar. Sayangnya
hal ini tidak banyak diketahui publik dalam negeri yang kadang masih menganggap
remeh gitar local. Memang cukup banyak juga perajin lokal yang sembarangan
dalam membuat gitar sehingga kualitasnya sangat-sangat rendah. Jika saja
masyarakat tau mengenai hal ini, tentu karya gitar dalam negeri bisa lebih
dihargai. Perajin harus dibina mengenai pemasaran serta jaminan garansi pasca
penjualan. Media harus mampu memberikan tempat dalam memublikasikan merk-merk local
yang berkualitas dan juga mengedukasi melalui informasi tentang bagaimana
menilai sebuah produk. Musisi harus makin memercayai produk lokal sebagai instrument
andalan agar menular ke para penggemarnya dan para musisi muda. Pemerintah juga
wajib mendukung industri alat musik lokal. Insentif dalam hal pembuatan hak
cipta, kesempatan pemasaran di luar negeri, menggelar pelatihan-pelatihan untuk
produsen agar terjaga jaminan kualitas produknya.
Pada akhirnya, sebuah harapan
besar muncul dari hadirnya pemerintahan baru yang akan dilantik beberapa bulan
lagi. Jangan sampai sebuah pengakuan dari publik asing yang sudah diarih pada
akhirnya menjadi mubazir. Paparan Jokowi saat debat Capres lalu tentang pentingnya
pembangunan ekonomi kreatif harusnya menjadi motor penggerak industri alat
musik. Fakta bahwa Jokowi merupakan seorang penggemar musik metal sudah
digembar-gemborkan sejak lama. Kedekatannya dengan dunia musik juga terlihat
saat digelar konser 2 jari yang cukup epik. Ia sebaiknya paham bahwa dibalik
musik yang digemarinya itu ada elemen alat musik berkualitas yang menghasilkan
nada berkualitas. Indonesia harus bisa menjadi produsen gitar terhebat di
dunia. Kita jangan hanya jadi buruh untuk merk dagang asing. Sudah saatnya nama
Secco, Stranough, Radix, Genta, Rick Hanes, Stephallen dan lainnya menghentak
O2 Arena, Madison Square Garden hingga Glastonbury di tangan para musisi
sekelas Radiohead, U2, Coldplay, Foo Fighters, John Mayer dan Slash.
Referensi: