Tuesday, August 9, 2016

Dejavu: Maher Zain & Anggun 2011 vs 2016


Back in 2011, ada masa dimana gue mengerjakan promo untuk dua artis ini secara bersamaan. Maher Zain rilis debut album "Thank You Allah" dan mbak Anggun rilis album "Echoes". Dua-duanya datang ke Indonesia hanya berselang 3 minggu. Hectic.

With Maher Zain (2011)

With Anggun (2011)

5 tahun kemudian, di tahun 2016. Sudah pindah tempat kerja, namun ternyata masih diberi kesempatan lagi untuk bisa bekerja sama dengan dua orang hebat ini. Kali ini Maher Zain rilis album ketiga berjudul "One", hari ini memulai rangkaian promo tour dan showcase di 5 kota. Sedangkan Anggun merilis kolaborasinya dalam album terbaru Enigma, grup yang melegenda itu. Nah, apakah mbak Anggun akan datang juga dalam selang waktu 3 minggu kedepan untuk promo lagunya bersama Enigma?

🤔

Anyway.. Bekerja dengan standar profesionalisme sekaliber mereka selalu jadi pengalaman hebat dan menularkan hal positif buat kita. Saya bersyukur bisa banyak bekerjasama dengan mereka.

Tuesday, July 12, 2016

Ganteng Ganteng Sadis - Membahas Tulisan Pandji

Malam tadi saya membaca tulisan yang di share oleh Widiasmoro di Facebook (http://pandji.com/ganteng-ganteng-sombong/). Tulisan dari Pandji Pragiwaksono tersebut membahas mengenai lagu GGS (Ganteng Ganteng Swag) dari rapper Young Lexx bersama para Youtubers. Berhubung saya juga suka hiphop jadi tertarik untuk membahas lebih jauh.

Dalam tulisan tersebut Pandji mengetengahkan bahasan mengenai realita mengapa lagu tersebut booming meskipun ada pro kontra baik bagi orang awam dan juga bagi para musisi hingga para pegiat hiphop. Penggunaan kata-kata kotor dan pernyataan-pernyataan dalam lagu juga jadi bahasan. 

Ketika Young Lexx mulai ramai videonya di Youtube, saya melihat inilah wajah baru hiphop Indonesia. Suka tidak suka, mau tidak mau, semua harus mulai mengakui kalau memang dia berhasil tembus pasar luas melalui cara yang (dulu) nggak mainstream. Dia hadir dalam bahasa yang juga (dulu) nggak mainstream. Saya setuju statement Ice Cube yang dikutip Panji, "Our art is a reflection of our society". Mungkin memang inilah cerminan masyarakat saat ini, bukan artisnya yang membentuk, mereka hanya mengamplifikasi dalam bentuk karya dan publikasi media.

Mengenai statement "Youtube lebih dari TV" saya sangat setuju dengan penjelasan Panji. Bahkan saya bertahun-tahun tidak menggunakan layanan siaran TV, dan baru mulai berlangganan sejak anak saya sudah paham acara-acara Disney Channel Junior. Kita harus ingat bahwa generasi sekarang berbeda dengan generasi kelahiran 70-80an (termasuk saya). Kita tumbuh di era media yang terkontrol oleh rating dan sensor. Youtube dan media sosial hadir menjadi corong media baru yang juga sangat kuat. Media berbasis online, citizen journalism, User Generated Content dan on-demand content jadi hal yang lumrah bagi para millenials dan angkatan selanjutnya. Merekalah digital natives yang secara alami tumbuh kembang sejak bayi ditengah teknologi internet. Kita layaknya pendatang di wilayah itu yang belajar memaksimalkan, para lansia bahkan hanya jadi pengunjung yang masuk wilayah digital untuk "bertemu" keluarga, kawan lama atau sekedar membaca berita. Jangan heran kalau generasi yang lebih muda dari kita mampu menciptakan konten-konten yang secara alami lebih diterima para digital natives karena itu memang habitat aslinya.

Mengenai penggunaan explicit language, menurut saya ya itu cerminan masyarakat. Saya juga orang yang sering menggunakan kata kotor dalam obrolan informal. Kata-kata seperti t*i, ngen***, dll kadang terselip ditengah pembicaraan. Di ranah hiphop lokal, 8Ball pernah publikasikan lagu yang jauh lebih kasar dan spesifik ditujukan ke satu pihak yang riil. Nggak munafik lah. Itu bahasa sehari-sehari. Apalagi di jalanan. Orang asing berbahasa Inggris juga umum menyelipkan F dan S words dalam obrolan, bahkan saat meeting formal pun sering dipakai untuk menekankan sebuah statement. Di ranah hiphop lokal pun, pada battle-battle rap bawah tanah, gila-gilaan kata makian disemprot spontan dalam jajaran lirik cerdas. Kita khawatir sebagai orang tua boleh saja, karena itu tugas dan tanggung jawab pilihan kita. Saya tidak masalah dengan itu asal ada pada tempatnya. Sering loh tempat umum bahkan radio kecolongan memutar lagu berbahasa Inggris yang explicit version. Padahal itu harusnya dikurasi dan diawasi.

Pandji juga membandingkan Young Lexx dkk. dengan NWA sebagai grup yang menggambarkan cerminan masyarakat. Menurut saya agak kurang pas. NWA lebih cocok diperbandingkan dengan Homicide. Sedangkan Young Lexx lebih kearah Soulja Boy dan squad-nya mungkin seperti Odd Future. Dua generasi yang berbeda, dua pendekatan yang berbeda, dua gaya yang berbeda. NWA & Homicide adalah gambaran para pionir dan kritik sosialnya frontal. Sedangkan Young Lexx dengan adopsi nilai swag lebih pas ke hiphop ala Soulja Boy. Di AS Soulja Boy juga habis dikiritisi oleh dedengkot hiphop, tapi toh untuk generasinya dia sukses mempopulerkan gaya baru hiphop dan nilai-nilai baru yang mungkin tidak relevan di tahun 90-an. Salah? Menirit saya tidak, itulah perkembangan nilai budaya dan sosial. Young Lexx juga mengadopsi bentuk hiphop collective dengan mengajak para Youtubers. Langkah cermat yang menurut saya berjalan alamiah. Di AS, hiphop collective sudah berjalan panjang sejak era Wu Tang Clan hingga muncul squad-squad era terkini seperti A$AP mob, Odd Future, Pro Era. Nama-nama baru itu juga memiliki habitat digital. "Beef" (perseteruan) terjadi via media sosial, dulu terjadinya di club malam atau jalanan. Lagu diss beredar dengan supercepat melalui kanal digital, dulu lagu-lagu disshanya bisa didengar saat live di club atau saat diedarkan dalam mixtape.

Sebagian sari dari tulisan saya, sepertinya Young Lexx dan gerombolan GGS memang cerminan masyarakat. Anak kecil yang terekspos lagu ini dan meniru juga memang kenyataan adanya. Semua generasi punya pengalaman ini, dinilai negatif karena progresif yang kadang behkan disebut menyimpang. Padahal itulah proses pergeseran nilai yang nyata dan terjadi di depan mata kita. Selamat menikmati jadi orang dewasa yang dijejali tanggung jawab finansial, kultural dan sosial. Saya pun akan kembali bekerja seperti hari-hari biasanya dengan para kawanan GGS, Ganteng Ganteng Sibuk.

Sementara radio memutar lagu si GGS, Afgan. Ganteng Ganteng Sadis

Lol.

Cheers!

Monday, July 11, 2016

It's Been A While - Selamat Idul Fitri


Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin dari saya sekeluarga dan KAWAIIKU, brand istri saya yang baru saja diluncurkan bulan lalu.

Lama tak menulis di blog ini. Banyak sekali yang terjadi di beberapa bulan terakhir. Kesibukan juga terus bertambah. Banyak perkembangan dari kehidupan saya yang penuh cerita namun waktu dan gairah menulis sedang tidak berpihak ke diri saya.

Saya akan coba meniti lagi satu demi satu tulisan baik tentang kehidupan saya maupun yang berkaitan dengan industri musik. Semoga segala gairah menulis akan kembali.

Friday, January 15, 2016

#KamiTidakTakut = We Are Not Afraid


Yesterday, bombs and gunshots blasted the heart of Jakarta, capitol of Indonesia. 2 innocent victims died. 5 attackers that has been said linked to ISIS chain also taken down either by their own suicide bombs or Police's guns. It's shocking and sad for us. It took place only 2km away from where I work. We used to have meetings on the bombed Starbucks. I walked that same spot everyday for years when I was working at my previous company. The fear and terror are real. The tragedy will be even more devastating for family of the victims.

Indonesia is a great country and the people are just as amazing. We gain independence by a lot of physical and diplomatic battles in 1945 after centuries of colonization. Geographically, we are consist of 17,000 islands. Imagine how diverse our nation is. We do have the largest muslim population, around 90% of 250 million Indonesians are Muslims. Me and my family are also Muslims.

After the tragedy, Indonesian put up all their thoughts on social media just like anywhere in the connected world. The messages were clear. Deep condolences and condemn terror acts. We pray for the victims and everyone in the country. On top of those, we sent out strong message to the terrorists and everyone in the whole world that we are not afraid. We unite. We are strong. We will not lose to such inhuman act of terror. Yes we are concern with our safety but we are not afraid. Terrorist (as it names) has a goal of creating fear, makes you feel terrorized and leads to a conditions that will benefit their interests. No, we Indonesian and especially Jakartans will not submit to this agenda. We stay in our city. We live our life in this beautiful country. Whoever created this tragedy will not succeed. We won't let that happen. 

We stay vigilante and figuring out the motives. Conspiracy and media diversion is not something impossible. Extremists are also something that we do have in our diverse country. Even if the attackers are Muslims, no way that we're going to condemn Islam. As you see, I'm a Muslim, and never in my mind that I have a thought of killing people. Yes some  sick extremists will see the tragedy as a couragous act of martyrdom but no, that's definitely not what most of Indonesian feel.

A Satay street vendor keeps grilling his delicious food only few hundred meters away from the scene. Ojek and public transport drivers are bravely taking passengers through the surrounding streets. Those stories emerge on social media as our symbol of courage. It's not that we're not sad. It's just, terrorist don't have a place in our country. They will not succeed with their bigger plans. We are a strong nation build by strong people. We're still on track, even like literally. I'm writing this post on a train to go to work with hundreds if not thousands of other people.

I wrote this post in English because I want to address this to my friends from other places around the world and maybe they can share it to their friends. I may have a lot of grammatical mistakes but the main thing is to let everyone knows that I'm safe. We're going to work as usual but more cautious. We don't like terrorist and no way we're going to let them win. Especially not in our amazing Indonesia because WE ARE NOT AFRAID #KamiTidakTakut

Thursday, January 7, 2016

Mempersiapkan Pergeseran Pasar Musik



Di awal 2016 banyak portal berita dalam negeri yang membahas pergeseran pasar musik dari fisik ke digital. Hal ini menyeruak pasca tutupnya Disc Tarra dan Beberapa gerai Duta Suara di penghujung 2015.

Untuk mereka yang berkutat di industri musik, ini bukan hal baru. Prediksi ini sudah terlihat bertahun-tahun sebelumnya. Inilah yang penting. Bagaimana industri mampu mempersiapkan diri atas perubahan-perubahan berikutnya. Pagi ini muncul artikel dari Digital Music News yang jika diterjemahkan menjadi "Unduh Musik Berbayar akan Mati di Tahun 2021". Mereka merujuk pada hasil penelitian Nielsen dan kemudian membuat analisa kalkulasinya.

Prediksi semacam ini tidak boleh dianggap enteng oleh semua stake holder industri musik. Persiapkan langkah selanjutnya karena kejatuhan sebuah format penjualan musik sudah nyata terjadi seperti ketika penurunan pasar fisik turun drastis. Ingatkah ketika era RBT dimana lagu benar-benar mengandalkan hook atau refrain yang kuat. Di era FTD (Full Track Download) formula ini tidak begitu relevan lagi. 

Terlihat juga dalam laporan Digital Music News bahwa layanan streaming melonjak luar biasa. Di Indonesia pun layanan streaming musik makin bergairah dengan tersedianya Apple Music dan juga muncul pemain baru JOOX dari MNC-Tencent.

Setelah era fisik, lanjut ke download berbayar kemudian streaming. Tentu akan ada perkembangan lagi yang mungkin saat ini belum terbayang. Kalau tak siap, ajal bisnis tentu menanti. Itulah kenapa semua pihak harus bersiap, dari pencipta, penyedia layanan/konten, brand, perusahaan telekomunikasi hingga tentunya label rekaman.

Yuk baca selengkapnya artikel dari Digital Music News di tautan berikut:

http://www.digitalmusicnews.com/2016/01/06/by-2021-itunes-music-downloads-will-be-dead/ 

Saturday, December 26, 2015

Yuk, Pahami Royalti! (Bagian ke-1)


Seiring makin majunya industri kreatif di Indonesia, seharusnya makin baik pula industri musik tanah air. Sayangnya, banyak orang yang belum paham mengenai royalti, dalam hal ini untuk karya musik. Tak hanya orang umum kebanyakan, bahkan para pekerja seni dan pelaku industri musik pun masih banyak yang belum mengerti. Saya juga masih terus belajar karena kenyataannya industri musik berkembang terus sehingga banyak pengembangan mengenai royalti atas hak kekayaan intelektual.

Saya menemukan sebuah artikel yang ditulis oleh Ari Herstand, seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Amerika Serikat. Ia adalah contoh musisi mandiri yang sudah sepenuhnya hidup dari musik. Ia banyak menulis pengalaman dan pengetahuannya di website pribadi yang menurut saya cukup menarik untuk disimak. Salah satu tulisan yang saya sorot kali ini adalah mengenai royalti. Karena tak banyak artikel tentang subyek ini yang semudah ini untuk dipahami. Saya akan coba meringkasnya lagi dalam bahasa Indonesia karena saya yakin banyak musisi yang ingin tau tentang royalti. Saya akan coba mengulasnya dan mengadaptasi ke industri di Indonesia.


Penjelasan mengenai royalti tentu bukan bahasan singkat. Karena itu saya harus membaginya ke beberapa artikel tulisan. Dalam bagian pertama ini, saya akan meringkas beberapa pihak dan istilah yang paling dasar. Sedangkan mengenai jenis royalti, mekanisme di AS serta pembahasan adaptasinya di Indonesia akan diulas di bagian-bagian selanjutnya lagi.

Mari kita awali dengan pihak paling dasar yaitu artis dan pencipta lagu. Dilanjutkan istilah-istilah dasar.

Artis
Artis adalah pelaku rekaman, atau bisa dibilang pihak yang melakukan tindakan bernyanyi, memainkan instrumen musik dan direkam. Artis bisa dalam bentuk perorangan maupun kelompok. Seorang artis belum tentu menciptakan lagunya sendiri, namun tidak tertutup kemungkinan menjadi pencipta jika rekaman lagu tersebut juga merupakan ciptaannya. Jika tergabung di label rekaman maka perusahaan labelnya yang menjadi perwakilan atas rekaman/artis tersebut.

Pencipta Lagu
Pencipta lagu adalah orang yang menciptakan komposisi sebuah lagu. Jika lagu itu dinyanyikan orang lain dan direkam, maka si pencipta lagu hanya menjadi pencipta lagu. Sedangkan jika ia menciptakan dan menyanyikan lagu itu maka selain sebagai pencipta, ia juga akan tercatat sebagai artis. Contohnya Yovie Widianto yang menciptakan lagu untuk 5Romeo, maka Yovie Widianto disebut pencipta. Ketika Yovie Widianto menciptakan lagu untuk Yovie & Nuno maka Yovie Widianto tercatat sebagai pencipta dan artis.

Rekaman Suara
Biasa disebut juga "Master". Rekaman suara ini adalah hasil final rekaman artis yang dirilis. Bukan bagian-bagian mentah dari sebuah karya rekaman. Rekaman suara juga bukan komposisi. Biasanya master dimiliki oleh label kecuali dalam bentuk kerjasama lain misalnya master hanya dilisensi oleh label untuk jangka waktu tertentu. Maka kepemilikan/hak komersialisasi tersebut tidak selalu selamanya berada di satu label tertentu.

Komposisi Lagu
Komposisi adalah dasar lagu. Bukan rekamannya. Komposisi adalah hasil karya pencipta lagu. Biasanya perusahaan publishing yang mengumpulkan/menagih royalti atas komposisi. Hal ini karena komposisi dan pencipta lagu direpresentasikan oleh perusahaan publishing.

Untuk anda yang merupakan musisi, pahami dulu posisi anda. Apakah artis, pencipta lagu, atau keduanya? Pahami juga bahwa hal ini berlaku untuk tiap-tiap single/lagu. Jangan sampai ada pihak yang merasa dirugikan karena punya andil dalam penciptaan lagu namun tidak mendapat haknya. Setelah mengetahui penjelasan tentang pihak/istilah dasar ini, barulah kita bisa berangkat ke pembahasan lain di bagian berikutnya.

Anda juga bisa baca langsung dari sumbernya:

Saturday, December 19, 2015

Abbey Road Red dan Pengembangan Bisnis Studio Musik


Bagi yang berkecimpung di dunia musik pasti tahu Abbey Road, studio musik paling legendaris di dunia. Tempat ini jadi begitu besar terutama karena The Beatles. Namun jangan salah, band Indonesia pun ada yang rekaman disana seperti GIGI, /rif dan J-Rocks. 

Hal yang akan kita bahas di sini adalah tentang langkah Abbey Road Studio meluncurkan lini bisnis yang mereka namakan Abbey Road Red. Selain itu mari kita kaji singkat potensi pengembangan bisnis studio musik di tanah air.

Merujuk situs resmi Abbey Road dan artikel yang dilansir TechCrunch, Abbey Road Red adalah sebuah departemen inovasi yang dirancang untuk mendukung suksesnya para usahawan, peneliti serta pengembang di bidang teknologi musik. Mereka memiliki program inkubasi start-up khusus bidang ini dan diklaim sebagai satu-satunya di Eropa saat ini.

Start-up yang masuk ke dalam program inkubasi akan mendapat akses ke fasilitas dan keahlian-keahlian yang dimiliki Abbey Road dan Universal Music. Termasuk diantaranya program mentorship, menjadi penasihat serta akses studio sebagai tempat percobaan. 


Salah satu start-up yang sudah tergabung adalah Titan Reality yang mengembangkan instrumen dan antarmuka musik menggunakan teknologi 3D sensing. Tanggal 18 Desember ini mereka baru saja menutup pendaftaran program inkubasi start-up untuk umum. Menarik untuk memantau start-up company apa yang akan mendapat kesempatan ini.

Untuk para ilmuwan, Abbey Road Red mengidentifikasi berbagai perkembangan teknologi musik sejak tahap awal dan bekerjasama mengembangkan teknologi musik terbaru yang inovatif. 

Dari segi bisnis, Abbey Road meminta 2% ekuitas dari start-up tersebut dan kesempatan investasi pada putaran-putaran pendanaan berikutnya. Sebuah langkah bisnis yang cukup maju untuk sebuah studio musik.

Abbey Road sebagai nama legendaris di dunia musik mampu membawa bisnisnya merentang ke berbagai sektor. Pemasukannya bukan hanya dari proses rekaman atau sewa studio termasuk jasa pengolahan audio (mix & master). Sebagai brand, nama Abbey Road sudah memiliki posisi pemasaran yang kuat. Produsen speaker premium asal Inggris, Bowers & Wilkins dengan bangga mengomunikasikan Abbey Road sebagai pengguna produknya hingga bahkan mereka siapkan seksi khusus di website dan gerai mereka untuk ini. Google membuat tur virtual bernama Inside Abbey Road yang memberi kesempatan siapa pun menelusuri seluk beluk studio ini. Abbey Road Studio membuktikan kalau mereka terus berinovasi dan mengembangkan bisnisnya. Sebuah langkah yang harus dipelajari pelaku bisnis studio di Indonesia.


Menurut saya beberapa nama studio di Indonesia sudah mulai memiliki brand kuat. Lokananta sepertinya sudah mempunya tempat tersendiri di industri. Tak jarang musisi Indonesia pun akan bangga menyebut nama Lokananta sebagai tempat rekaman dan hal itu sudah dianggap menjadi nilai jual. Merchandising, tur wisata hingga program pendidikan harusnya bisa jadi bisnis menarik. Studio musik lain juga harusnya bisa mencobanya. Satu hal yang penting adalah konsistensi brand marketing agar nama studio mampu jadi brand yang diminati oleh banyak orang dan punya nilai jual. Sudah saatnya studio musik di Indonesia berkibar tak cuma di belakang layar.


Sumber:



Sunday, December 6, 2015

Zine Bawah Tanah Pegawai Pemerintahan


Berkesempatan diwawancarai oleh majalah ini. Sebuah majalah bawah tanah dari kumpulan pegawai pemerintahan lintas wilayah di sebuah instansi. Penerbitannya mandiri, tanpa iklan dan nol komersialisasi. Isinya penuh artikel musik dari sudut pandang yang jujur. Ingat zine bawah tanah macam Brainwash dan Trolley? Ini bagaikan resureksinya.

Saya terhubung dengan majalah ini lewat seorang kawan masa sekolah. Dulu kami sama-sama punya band ska masing-masing di sekolah. Singkat cerita saya dan kawan ini masih berkomunikasi via Facebook hingga kini. Ia pun akhirnya menanyakan kesediaan saya untuk diwawancara mengenai pekerjaan. Kolomnya adalah pembahasan karir di luar bidang-bidang umum yang ada di instansi mereka. Wawancara dilakukan via email karena teman saya ini dinas di Jawa Tengah. Menarik mendengar cerita dibalik majalah ini. Membuka mata kita bahwa ada anak-anak "bawah tanah" yang jadi penyelenggara negara memberi napas lega buat saya.

Salut buat mereka yang masih bersemangat menyisihkan gajinya untuk melestarikan format "Zine" dalam bentuk yang luar biasa bagus. Maaf saya tidak bisa buka dari instansi mana para pemrakarsa majalah ini karena takutnya dibredel atasan mereka.

Salut!

Wednesday, November 4, 2015

Surat Terbuka untuk "Pecinta Musik"


Bohong lah kalau pelaku industri musik nggak ngelihat ini akan terjadi. Yang ngagetin adalah, terjadinya secepat ini.

Gue juga yakin bahwa semua label (yg punya produk fisik) berusaha menyelamatkan para retailers. Bukan cuma perkara cari untung tapi nilai historisnya begitu tinggi dan keberadaan mereka pernah menjadi kunci. Mereka layak diselamatkan karena kalau melihat ke masa lalu, merekalah jalur distribusi utama dalam music monetization. Namun zaman berubah. Inovasi dan adaptasi adalah harga mati.

Hal yang paling menyedihkan tentunya berapa banyak orang yang kena PHK. Memang di satu sisi, ketidakmampuan sebuah perusahan untuk berkembang atau sekedar bertahan juga jadi tanggung jawab manajemen perusahaan tersebut. Tapi pernah berpikir lebih jauh nggak? Kalau seandainya penikmat musik benar-benar mengapresiasi musik sesuai nilai dan harganya, mungkin aja retailer ini akan lebih punya modal untuk berinovasi dengan pengembangan bisnis yang sesuai dan akhirnya bisa bertahan. Tapi sayangnya banyak "pecinta" musik yang ngga mau bayar buat sesuatu yang padahal mungkin jadi suatu bagian paling penting dalam hidupnya. Sesuatu yang membentuk pribadinya. Sesuatu yang begitu kuatnya mampu menginspirasi atau bahkan menyelamatkan nyawanya. Iya, segitu besar loh musik bisa berperan dalam hidup seseorang. Yeah right, "pecinta musik" apalah itu kalo mayoritas musik yang kamu miliki adalah hasil nyolong.

Gue paham kalau "konsumen" maunya yang mudah, murah, berkualitas. Industri musik seakan dipacu untuk mengakomodir tuntutan konsumen semacam ini. Berlomba lewat bisnis-bisnis baru. Kalau masyarakat dan "pecinta musik" masih nganggep bahwa karya musik barang gratis, sulit deh. Banyak yang tidak paham sih kalo rekaman itu mahal, menulis lagu itu sulit, bernyanyi dengan baik itu nggak gampang. Miris ngga sih kalo tau kenyataan bahwa pengamen bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada penghasilan artis dari royalti?

Kembali ke pihak pegawai yang akan terkena PHK yang pastinya mudah dipahami orang awam. Tau ngga biaya sekolah itu sekarang berapa? Harga seragam, buku dan karya wisata? Popok, imunisasi, mainan? Pembajak musik dan pengunduh ilegal punya peran dalam memotong rezeki pegawai-pegawai itu. Puas?!

Thursday, October 22, 2015

YouTube Red, Layanan Langganan YouTube Tanpa Iklan. Akankah Berhasil?


YouTube memperkenalkan YouTube Red, layanan langganan konten tanpa iklan termasuk musik. Tapi ada komentar miring juga karena para pencipta yang sudah menjadi YouTube Partner harus setuju untuk ikut dalam skema bisnis ini, kalau tidak kontennya akan tak bisa diakses publik. Kok jadi seperti penyanderaan konten? Tapi di lain pihak ya itu sebuah pilihan ketika kita mendistribusikan konten dalam platform yang sifatnya berbisnis. Sayangnya layanan YouTube Red belum tersedia di Indonesia saat ini jadi belum bisa dipelajari langsung.

Kebetulan hari ini ada workshop dengan YouTube, bisalah kita tanya nanti.

Silakan cek video promonya
https://youtu.be/YL9RetC0ook



Btw ini bukan RedTube loh yah 😜

Thursday, October 1, 2015

Diplomasi Musik part.2


Setelah minggu lalu saya menghadiri undangan Duta Besar Perancis dalam acara makan siang sembari membahas Jazz dan Industri Musik bersama beberapa pelaku industri musik di Indonesia, minggu ini saya mendapat kesempatan untuk hadir di acara bertajuk "The New Wealth of Nations: Creative Industry in ASEAN Economic Community" yang diprakarsai oleh Sekolah Staf dan Pimpinan Departemen Luar Negeri (SESPARLU) bersama Centre  for Strategic and International Studies (CSIS). Managing Director Universal Music Indonesia menjadi salah satu pembicara dalam sesi bertema "Local Music, Local Love". Keseluruhan acara ini termasuk dalam rangkaian kegiatan Digital Diplomacy Week.

Secara garis besar, hadirin kebanyakan dari kalangan diplomat. Mereka mencoba menggali potensi industri kreatif dan diplomasinya untuk mengembangkan ke pasar ASEAN. Acara ini seakan sedikit menjawab pertanyaan tulisan saya sebelumnya tentang apakah KBRI juga memfasilitasi diskusi antara artis/pelaku industri musik asal Indonesia dengan jaringan-jaringan brand serta bisnis musik di luar negeri. Semoga para diplomat kini memiliki gambaran lebih kelas tentang potensi industri musik di ranah global. 

Saya memiliki pengalaman beberapa kali bersentuhan dengan perwakilan negara sahabat. Satu yang paling intens adalah dengan kedutaan Jepang ketika saya terlibat di banyak kegiatan promosi musik Jepang. Saya bisa diskusi dan bekerjasama dengan lembaga-lembaga seperti Jetro (Japan External Trade Organization); METI (Ministry of Economy, Trade and Industry); RIAJ (Recording Industry Association of Japan); Japan Foundation; VIPO (Visual Industry Promotion Organization); PROMIC (Foundation for Promotion of Music Industry and Culture). Selain lembaga itu, saya juga banyak dikenalkan pada eksekutif senior dari perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia dalam rangka mengembangkan kerjasama yang bertujuan mendukung ekspansi musik. Bayangkan sekian banyak organisasi dan lembaga yang bisa terhubung dalam rangka Jepang mempromosikan musik. Segala sisi mereka cari potensinya.

Hal ini mungkin bisa jadi contoh dengan menghubungkan industri musik Indonesia dengan pengusaha Indonesia di luar negeri, lembaga pendidikan, lembaga budaya baik dari swasta maupun pemerintahan. Setidaknya para diplomat diharapkan bisa membuka pintu bagi industri musik Indonesia. Percayalah orang Indonesia punya kemauan dan kemampuan untuk bekerja keras menembus pasar regional bahkan global.

Tuesday, September 22, 2015

Diplomasi Musik


Hari ini saya bersyukur karena mendapat kesempatan yang sangat terhormat untuk hadir pada jamuan makan siang bersama duta besar Perancis, Yang Terhormat Corinne Breuzé di kediamannya yang biasa disebut Résidence de France. Pembahasan pertemuan ini adalah mengenai "Jazz dan Industri Musik" bersama pihak perwakilan Perancis terutama tim atase kebudayaan. Disitu jugalah betapa saya menyadari bahwa Perancis merupakan stake holder besar di industri musik global. Saya dan atasan saya mewakili Universal Music Group yang merupakan milik raksasa media Vivendi dan berbasis di Perancis. Hadir juga perwakilan Daily Motion, sebuah platfor video streaming yang 90% sahamnya dimiliki Vivendi. Dari ranah musik streaming ada perwakilan salah satu streaming service terbesar di dunia, Deezer yang juga perusahaan Perancis. Perwakilan Believe Digital, sebuah perusahaan penyedia layanan musik digital besar yang banyak bermain di segmen indie juga ada diantara tamu undangan. Believe Digital juga perusahaan asal Perancis. Semua kekuatan yang cukup besar kan?

Selain membahas industri musik, jamuan makan siang yang mengundang pelaku industri musik dari berbagai sektor ini juga untuk menyambut dan mengenalkan musisi asal Perancis, Vincent Peirani dan Emile Parisien. Keduanya adalah peraih penghargaan musik tertinggi di Perancis, La Victoire Du Jazz 2015. Mereka menggelar pertunjukan di Institut Français d'Indonésie (IFI) malam ini.

Usaha semacam ini menjadi menarik, karena berhubung saya berkutat di bidang musik internasional, sudah beberapa kali mendapat undangan serupa dari pihak kedutaan lain. Pertanyaan besar yang muncul di benak saya adalah apakah kedutaan Indonesia juga melakukan hal serupa di luar negeri? Apakah musisi jazz asal Indonesia yang sering malang melintang di festival internasional mendapat kesempatan semacam ini? Berdiskusi dengan pelaku industri musik di negara lain dengan difasilitasi KBRI. Saya rasa jika berkaitan dengan elemen musik tradisional, hal ini bukan sesuatu yang baru. Namun diplomasi untuk menembus pasar musik di luar negeri harus diperhatikan. Banyak hal yang saya pelajari dari berinteraksi dengan pelaku industri musik di luar negeri. Dari hal sesederhana etos serta sistem kerja hingga model bisnis, penanaman modal dan peran pemerintah. Betapa bagusnya jika duta musik tanah air yang keluar negeri bisa menimba ilmu dari diskusi semacam itu. Bayangkan artis seperti Burgerkill yang dielu-elukan penggemar musik cadas di Eropa bisa menulari berbagai jagoan genre lain. Indonesia tak kalah dari segi kreatifitas dan kualitas karya. Sungguh mereka punya tempat di pasar global.

Saya memang tak punya dasar ilmu hubungan internasional dan tak paham betul mengenai istilah-istilah diplomasi. Saya hanya pelaku industri musik yang sepenuhnya yakin bahwa musik kita tak kalah dengan negara lain. Bantuan fasilitasi diskusi industri musik bisa jadi pintu pertama kita. Karena itulah lewat tulisan ini saya ketuk para juru kunci di KBRI untuk bukakan pintu. Betapa bangganya kan jika suatu hari poster White Shoes & The Couples Company, Bara Suara, Shaggy Dog  terpasang di dinding-dinding kamar di berbagai benua.

Selain Amerika Serikat dan Inggris, Korea Selatan juga sukses besar dalam mengekspor musik, begitu juga Perancis, Australia, Jepang, Jamaika dan Swedia. Apakah negara tersebut memberikan tempat bagi musik dalam kegiatan diplomasinya? Bisa jadi. 






Jika ada staf Kemenlu yang membaca tulisan ini, anggaplah ini sebagai usul.

Wednesday, September 9, 2015

Lowongan Magang di Universal Music Indonesia


Untuk yang masih kuliah (dalam masa skripsi) jurusan Hukum atau Akuntansi dan pengen ngerasain atmosfer kerja di industri musik, Universal Music Indonesia sedang membuka kesempatan magang. 

Bagi mahasiswa Hukum, kesempatan ini bagus sekali untuk mengetahui lebih jauh tentang berbagai kontrak musik. Sedangkan untuk mahasiswa Akuntansi, kesempatan ini bisa jadi dasar yang bagus untuk mengerti tentang dinamika penanganan keuangan secara langsung, terlebih lagi kondisi industri musik begitu dinamis di semua bidangnya. Jadi siapa bilang anak hukum dan akuntansi tidak punya tempat di industri musik?

Silakan diteruskan ke yang membutuhkan, siapa tau cocok.

Friday, August 14, 2015

Pramuka dan Tokoh Musiknya


Tau H. Mutahar? Beliau adalah tokoh kepanduan di Indonesia dan juga salah satu penggagas Paskibraka. Tak cuma sebagai tentara, karirnya merentang juga di pemerintahan, mulai jadi duta besar di Vatikan hingga mengakhiri masa karyanya di Departemen Luar Negeri. Semasa jadi tentara ia ada di ring 1 bapak pemimpin bangsa, Soekarno, sebagai ajudan. Kabarnya ialah tokoh yang sempat sukses menyelamatkan bendera pusaka dengan segala cara ketika Soekarno-Hatta ditangkap pasca proklamasi kemerdekaan RI.

Sebagai pecinta musik, saya menemukan kisah beliau ketika mencari bahan tulisan mengenai kaitan musik dan Pramuka, berhubung hari ini adalah Hari Pramuka. Ternyata beliau juga seorang pencipta lagu. Salah satunya adalah "Hymne Satya Dharma Pramuka". Lagu yang menjadi kebanggaan gerakan kepanduan Indonesia ini adalah buah kreasinya. Satu lagu ciptaannya yang juga sangat dikenal luas adalah "Syukur". Gerakan Pramuka dirasa perlu memiliki sebuah lagu wajib yang menyatukan organisasi kepanduan ini. Kehadiran unsur musik sebagai elemen di sebuah gerakan menjadikannya semakin manusiawi dan menyentuh rasa. Meski Pak Husein Mutahar sudah tiada 11 tahun lalu namun karyanya tetap berjaya terutama bagi Pramuka. Saya bangga dengan anak muda yang konsisten dan berdedikasi memberi kontribusi dalam bermasyarakat lewat kegiatan Pramuka. 

Buat saya yang bergerak di bidang musik, menemukan fakta dan sejarah semacam ini jadi begitu menarik. Karena musik makin terasa keberadaannya di berbagai sendi kehidupan. Untuk para musisi dan kawan-kawan di industri musik jangan sampai lupa dengan berbagai sejarah permusikan tanah air kita di berbagai lini.

Saya pun menutup tanggal 14 Agustus tahun ini dengan mengucapkan, Selamat Hari Pramuka!

Photo credit: www.pramukaindonesia.com

Tuesday, June 23, 2015

22 Juni 2015, Selamat Hari Jadi Jakarta

Kalau mau tau Jakarta, naiklah angkutan umumnya.
Ada keragaman di dalamnya.
Ribuan rencana, mimpi dan harapan.
Janda tangguh penjual jilbab yang naik turun kereta di stasiun Tanah Abang, pengamen yang sakit ISPA di bus kota, satpam dengan wajah lelah sepulang shift malam, anak yang tertawa karena dihibur oleh ayahnya meskipun sang ayah pusing tujuh keliling mikirin bayar kontrakan rumah petaknya di Jatinegara, perancang grafis nan modis berambut klimis, penjaga toko ITC Cempaka Mas yang hapal betul kata-kata "boleh kakak", tentara tegap yang siaga meski tak bertugas, bu guru yang nyaris pensiun, banyak banyak dan banyak sekali manusia.

Aku cinta Jakarta karena membuatku tetap memapak bumi dikala bekerja untuk kenyamanan anak istriku. Semoga Allah memberiku kesempatan untuk terus berpijak sembari berbagi mimpi bersama jutaan penyesak kota.

Selamat Hari Jadi Jakarta!

Monday, June 1, 2015

Billy Simpson #1 di Ajang Internasional ISINA


Gue bangga beneran sama Billy Simpson. Ga banyak berkoar tapi bisa membuktikan dengan prestasi global yang nyata.

Ini bukti lagi kalo musisi Indonesia beneran bisa bertaji di luar negeri dan bukan sekedar "publicity stunt" atau settingan belaka tapi memang dia mendapat penilaian terbaik dari para mentor. Siapa aja mentornya? Yang secara langsung menilai vokalis ada Babyface. Di bidang komposer/produser ada Walter Afanasieff yang legendaris bangetttt. Kenny G di departemen instrumentalis, Frank Gambale departemen gitaris, Humberto Gatica departemen Audio Engineering/Production, Paul Oakenfold departemen DJ, Produser dan vokalis EDM.

Good luck buat Billy semoga lancar dan maju terus di ISINA! Semoga trip dan mentoring di LA bisa bawa banyak ilmu dan inspirasi untuk musik Indonesia.

https://isina.com

Stay updated about Billy Simpson on https://m.facebook.com/universalmusicindonesia

Friday, May 29, 2015

Lowongan Kerja di Universal Music Indonesia


Universal Music Indonesia membuka lowongan kerja untuk posisi "Sales Staff (Contract)". Ini dia pintu masuk untuk bekerja di bidang musik!


#kerjamusik bukan berarti harus jadi musisi.

Saturday, April 11, 2015

Lowongan di Jaben Store


Satu lagi lowongan yang ada hubungannya dengan industri musik. Kali ini lowongan pekerjaannya dari ranah retail store perangkat audio. Toko Jaben cukup populer di kalangan penyuka audio sebagai tempat belanja perangkat audio terutama yang berhubungan dengan headphone atau earphone. Nggak sedikit penyanyi dan musisi profesional yang saya tau pernah jadi pelanggan di Jaben misalnya Astrid.

Pekerjaan ini cukup seru buat kamu yang gemar dunia audio dan suka bergaul. Berhubungan baik dengan pelanggan, mampu jadi teman diskusi mengenai audio hingga memberi solusi kebutuhan audio bagi pelanggan tampaknya akan sangat dibutuhkan dalam pekerjaan ini.

Friday, April 10, 2015

Lowongan di Marygops Studios

Kesempatan terbuka lagi untuk kalian yang ingin kerja di industri musik. Kali ini saya mendapat informasi lowongan pekerjaan dari kawan-kawan di Marygops Studios yang merupakan salah satu promotor konser paling aktif di Indonesia. Beberapa konser yang pernah mereka garap misalnya dari artis besar dunia seperti Justin Bieber, Westlife, L'Arc-en-Ciel, Bruno Mars, Avril Lavigne dan banyak lagi. Selain konser tunggal, mereka juga pernah menggarap festival musik seperti Anime Festival Asia Indonesia.

Posisi yang ditawarkan adalah bagian akuntansi dan keuangan. Ini nih saatnya kamu yang berlatar belakang accounting dan finance bisa masuk industri musik. Tertarik?

http://www.marygops.com

Tuesday, March 31, 2015

Tidal, Revolusi Artis Dunia di Ranah Streaming

G.I.L.A

Seperti biasa tiap pagi saya browsing berita industri musik global, tapi hari ini saya tercengang dengan berita tentang Tidal yang saya baca di Billboard. Langsung saya buka website Tidal dan muncullah video dari acara peluncuran layanan streaming musik format lossless (High Resolution) ini. 

Everyone in streaming business better watch out! Gila asli ini konsepnya. Alicia Keys yang jadi juru bicaranya menjelaskan konsepnya, "The first ever artist owned global music entertainment platform, our goal is simple, we want to create a better service, better experience for both fans and artist, and that's our promise to the world. Our mission goal is beyond commerce, it goes beyond technology, our intent is to preserve music's important in our life"

Well said.. Ini beneran bisa hype kayanya. Artis yang hadir dan ikut tanda tangan sebagai owner di panggung ada Daft Punk, Kanye West, Nicki Minaj, Chris Martin, Madonna, Deadmau5, Rihanna, Beyonce, Usher, Jason Aldean, Arcade Fire, dll.

Namun tentu ada pro-kontra. Banyak fans yang merasa harga yang ditawarkan terlalu mahal. Hal ini bisa memunculkan gambaran tentang artis yang dianggap terus mengeruk uang dari fans. Sebenarnya saya melihat ada contoh sejenis yang mengandalkan "star power". Headphone Beats di kalangan pecinta audio diolok-olok sebagai produk over-priced yang tak sebanding antara harga dan kualitas. Tapi kenyataannya Beats mampu merebut pasar dari merk-merk audio lain yang justru sudah memulai jauh lebih lama seperti Koss, Sennheiser, Bose, Audio Technica, AKG dan banyak lagi. Pada akhirnya strategi marketing Beats yang mengandalkan kekuatan para bintang dari dunia musik hingga olahraga. Coba saja cek bagaimana sepak terjang pemasaran mereka yang sekarang banyak meniru Beats. Bose masuk ke NFL, AKG menggandeng Tiesto, Sennheiser di pasar lokal bahkan sempat menggaet Raisa. 

Pertanyaan besarnya, apakah kali ini "Star Power" mampu merevolusi layanan musik streaming dari bersifat fans oriented menjadi artist oriented.

Gila ini sih..

www.tidal.com