Wednesday, July 2, 2014

Pengalaman Luar Biasa Dibalik Album "Ken's Bar III"


Ada cerita istimewa buat saya tentang album terbaru seri "Ken's Bar" dari Ken Hirai yaitu album "Ken's Bar III". Saya mendapat kesempatan berharga yaitu hadir dalam salah satu proses pembuatan album ini di Jepang. Saya waktu itu diundang ke Sony Music Studio di Nogizaka oleh teman kerja namanya URU yang juga merupakan produser salah satu track dalam album ini yaitu lagu "Virtual Insanity.

URU merupakan seorang produser dari Jepang yang mendirikan sebuah perusahaan produksi musik bernama SJ Factory yang berbasis di Tokyo. SJ Factory menaungi banyak produser dan pencipta lagu lintas bangsa terutama Jepang dan Korea. URU bukan orang baru di dunia musik, sempat menjajal karir juga sebagai personil sebuah grup R&B bernama IZ di tahun 90an hingga akhirnya memilih untuk menjadi produser, pencipta lagu dan remixer lepas. Di belakang layar, ia pernah bekerjasama dengan nama besar di negeri Sakura seperti Chemistry, Crystal Kay, JUJU, orange pekoe, Sowelu, Akina Nakamori, dan tentunya Ken Hirai. Saya mengawali perkenalan dengannya ketika mengerjakan proyek perilisan album orange pekoe di Indonesia. Sejak itu kami beberapa kali bekerjasama dan terutama yang paling intens adalah ketika URU menjadi Show/Music Director dalam event J-Music LAB selama sebulan penuh.

Kembali ke cerita mengenai album "Ken's Bar III", di dalamnya terdapat lagu "Virtual Insanity" yang pernah dipopulerkan oleh Jamiroquai dan kini dibawakan ulang oleh Ken Hirai dengan URU sebagai produsernya. Kabar ini sudah saya terima sejak sebelum keberangkatan ke Jepang bulan Februari lalu dalam rangka perjalanan bisnis. Kebetulan sekali, URU menawarkan untuk menunjukkan Sony Music Studio ketika saya disana. Tentunya tawaran ini tidak saya sia-siakan. Kapan lagi bisa melihat salah satu studio rekaman terbaik di Asia, apalagi dinaungi nama besar Sony di tanah airnya sendiri. Jadilah ia mengatur jadwal di suatu hari agar saya sempat merasakan proses kreatif di  studio tersebut, kebetulan ia sedang menggarap proses mixing dari track "Virtual Insanity". Saya datang dan dibuat terpana dengan studio ini yang terletak di kawasan legendaris Sony Music yaitu Nogizaka. Gedungnya begitu besar dan mewah, studio terdapat di bagian bawah tanah dengan dinding tebal yang tentunya dari segi akustik sangat mendukung. Di dalam gedung ada beberapa studio yang berbeda-beda ukuran, kebetulan studio yang kali ini digunakan adalah yang terbesar. Sungguh bikin terpana.




Masuk kedalam ruangan studio, ada ruangan artis, gudang alat rekam analog dan instrumen-instrumen yang pastinya begitu bersejarah. Sebuah keyboard Rhodes berdiri di salah satu sudutnya. Ada ruangan besar sebagai ruang rekam utama yang dikelilingi bilik berdinding dan pintu kaca sebagai vocal booth, dan tempat rekaman untuk intrumen spesifik lainnya. Berhubung kali ini hanya akan ada pengerjaan mixing jadi kita kembali ke ruang konsol. Disitu saya mengamati pengerjaan mixing lagu yang digarap jadi bergaya swing dan jazz dengan iringan big band yang kaya intstrumen. Ada 3 orang yang aktif bekerja, URU, seorang sound engineer (saya lupa namanya) dan seorang asisten produksi dari pihak Sony Music Studio.





Ditengah-tengah pengerjaan, datanglah sang bintang, Ken Hirai! Ia masuk ke studio dengan santai, lalu URU-san mengenalkan saya ke dia, what an honor! Sayangnya tidak bisa berfoto ria karena artis Jepang cukup ketat mengenai jeprat-jepret foto. Meskipun begitu, bertemu bintangnya di studio sembari mengamati produser dan engineer top Jepang mengerjakan sebuah track di salah satu studio terbaik di Asia, tentunya pengalaman itu sudah sangat istimewa bagi saya.

Pengalaman seperti ini yang tak ternilai buat saya. Terima kasih untuk mentor-mentor saya, Isayama-san (Sony Music Japan) dan URU-san yang memberikan serta mempercayakan banyak kesempatan juga pengetahuan tentang industri musik Jepang. 

Sekarang album "Ken's Bar III" sudah kami rilis di Indonesia dan 1 copy ada diatas meja saya. Album ini tentunya akan selalu membawa saya ke memori tentang sebuah pencapaian.


Saturday, May 17, 2014

Mengupas Layanan Streaming Musik - Part 1

Layanan streaming musik saat ini sedang digadang-gadang sebagai salah satu calon terkuat kanal utama dalam pendistribusian musik. Banyak rekan-rekan yang bergerak di bidang musik dan mengamati perkembangannya berbicara tentang ini. seperti Widi Asmoro dalam website-nya yang membuat tulisan berjudul "2014 Tahunnya Music Streaming di Indonesia", juga dari artikel di Antara berjudul "Industri Musik Beralih ke Digital" yang disarikan dari sebuah seminar musik digital. Bagi masyarakat umum tentu hal ini masih cukup asing karena tidak ada kampanye mengenai pengalaman streaming musik dengan gamblang. Apa kelebihan dan kekurangannya? Mengapa harus berlangganan musik streaming? Saya akan coba membahas hal-hal dasar tersebut agar lebih mudah bagi awam untuk paham. Diskusi pun terbuka untuk berkomentar dan bertanya di laman ini.

Saat ini penjualan fisik sudah jelas-jelasan turun drastis. Kalau beranggapan ini semua hanya karena pembajakan, tentu tidak benar. Perilaku konsumsi juga berubah karena secara sosial, budaya dan teknologi, ada perubahan. 20 tahun lalu tidak terbayang kalau musik bisa diputar melalui ponsel atau perangkat sebesar kotak korek api. Ketika teknologi sudah memungkinkan hal itu, tentu pola konsumsi pun berubah. Format musik digital menjadi format utama industri musik saat ini (FYI CD pun termasuk format digital namun dijual dalam bentuk fisik). Salah satu perangkat yang mengalami booming adalah iPod. Meskipun bukan pionir di bidang pemutar musik digital portabel, iPod sukses mengawali revolusi format musik. Apple dengan cermat melihat potensi besar dengan menggarap iTunes Store sebagai penyedia konten dari perangkat yang mereka ciptakan sendiri. Smart move!

Ketika iTunes diciptakan, layanan data seluler masih belum “merakyat” sehingga skema yang digunakan adalah layanan pembelian musik yang diunduh. Unduhan ini akan menjadi milik si pembeli dan bisa disimpan dalam perangkat pemutar. Saat ini layanan lalu lintas data selular dan nirkabel sudah semakin cepat dan membuat kita bisa leluasa menikmati konten audio bahkan video melalui koneksi seluler secara streaming tanpa harus menyimpannya dalam perangkat portable kita. Layanan streaming pun bermunculan dan menjadi begitu besar. Youtube jadi layanan terbesar dalam hal streaming video musik resmi. Streaming audio bisa didapatkan di layanan seperti Spotify Rdio, dan Deezer. Pabrikan perangkat teknologi pun mulai meramaikan layanan streaming konten. Saat ini Nokia punya Mix Radio, Sony Mobile dengan Sony Music Jive dan banyak pabrikan lain yang menggarap sistem serupa. Secara bisnis, skemanya biasanya dalam bentuk langganan atau pendapatan iklan. Pengguna akan diminta membayar biaya untuk berlangganan selama periode tertentu dan dengan fitur tertentu. Layanan gratis juga ada yang tersedia namun banyak batasan serta kehadiran iklan dalam tampilan layanan tersebut. Biasanya penyedia layanan akan memberi masa percobaan tanpa dipungut biaya agar pelanggan bisa menikmati pengalaman dari layanan mereka. Jika cocok, maka pelanggan tinggal meng-upgrade untuk menjadi pelanggan penuh. Ada juga sih layanan streaming yang gratis bagi user, namun tentunya ada skema bisnis dibaliknya yaitu pendapatan iklan atau sebagai value added service dari perangkatnya.

Mengapa streaming dianggap sebagai masa depan industri musik? Mari kita bahas di bagian ini.






Konten tidak mudah digandakan
Pengunduhan file musik membuat seseorang memiliki akses untuk membagikan dengan cara menggandakan. Istilah “File Sharing” memang kadang memicu kontroversi karena kepemilikan file-nya. Namun sebenarnya, file tersebut mengandung hak kekayaan intelektual yang harus memiliki nilai ekonomis yang diakui secara hukum. Sayangnya secara teknis, sistem yang ada dalam sebuah file musik digital unduhan belum bisa melindungi hal ini. Konsep musik streaming menjadi aman dari penggandaan tanpa izin karena file tidak diunduh secara utuh ke perangkat sehingga tidak tergandakan. Kenapa ini penting? Karena penggandaan/penyebaran konten musik secara ilegal saat ini di Indonesia saja sudah merugikan industri musik sampai dengan sekitar 6 miliar Rupiah per hari! Bayangkan kalau perputaran uang sebanyak itu bisa sampai ke tangan para artis dan pencipta lagu. Tentu musisi tidak akan takut untuk membuat musik sesuai kreatifitasnya karena tanpa harus menjadi hits mainstream pun penghasilannya akan mencukupi. Pada akhirnya semua label pun akan berani merilis materi-materi yang selama ini dianggap tidak komersial.




Konten tidak membebani media penyimpan dalam perangkat pemutar
Karena konten streaming tidak perlu diunduh secara utuh, otomatis media penyimpanan data yang ada dalam perangkat pemutar musik digital tidak akan dipenuhi oleh banyaknya file. Hal ini menjadi penting karena berarti pengguna tidak perlu menghapus file-file untuk menggantinya dengan yang baru. Pengguna juga tak perlu report membeli media penyimpanan tambahan baik sebagai perpustakaan maupun sebagai cadangan.




Harga lebih murah
Layanan langganan streaming musik menjadi begitu murah karena pelanggan bisa menikmati banyak sekali lagu dengan hanya satu harga yang tetap dan dihitung berdasar waktu. Kita ambil contoh Deezer yang saat ini menawarkan dengan berlangganan sebesar 2,49 Dollar AS per bulan pelanggan bisa menikmati 30 juta lagu untuk pengaksesan melalui komputer saja. Di kelas berikutnya degan harga 5.99 Dollar AS kita bisa mengakses dari komputer, mobile phone dan tablet. Selain itu ada fitur yang memungkinkan kita memutar lagu meskipun tanpa koneksi internet. Jika dibandingkan dengan pembelian lagu lewat unduhan, untuk 1 album internasional di iTunes, harganya biasanya sekitar Rp.35.000 - Rp.100.000. Memang hal ini juga mempengaruhi pemasukan bagi artis karena pembagiannya menjadi begitu kecil namun diharapkan kedepannya kuantitas jumlah pelanggan dan pemutaran pun semakin besar.



Tak ada resiko salah beli lagu
Kelebihan ini akan membuat pengalaman musik menjadi begitu luas. Kesempatan artis untuk didengar siapapun akan terbuka. Tidak mustahil lagi bagi artis debutan tanpa dana pemasaran yang masif untuk bisa mendunia. Tanpa resiko salah beli lagu, pengguna akan berani mendengarkan lagu apa pun karena ia tidak harus membelinya. Bayangkan potensi yang ada dari hal ini.


Melihat beberapa hal diatas, maka tak salah kalau menganggap layanan streaming musik bisa menjadi salah satu calon kanal distribusi utama dalam industri musik. Meskipun disamping itu tentu tetap ada potensi di format fisik dalam berbagai medium. Khusus di Indonesia, layanan iTunes baru berjalan sekitar satu tahun dan kini makin menunjukkan peningkatan angka penjualan meskipun belum booming. Di AS dan Eropa layanan pembelian lagu unduhan sudah booming terlebih dahulu kemudian diikuti perkembangan layanan streaming yang menutupi kekurangan-kekurangan layanan toko pengunduhan musik. Jika di Indonesia polanya akan serupa maka tampaknya layanan streaming lagu di Indonesia perlu kerja ekstra untuk menjadi pilihan utama saat ini. Selain itu juga ada kendala lain yang akan menyandung proses ekspansi layanan streaming musik di Indonesia. Mengenai tantangan-tantangan itu akan saya bahas di tulisan berikutnya.


Sebagai penutup tulisan kali ini, saya mengajak pecinta musik untuk mulai menghargai para artis, pencipta lagu dan orang-orang di belakang karya musik dengan menghargai hak kekayaan intelektual mereka. Ada hak royalti didalam karya mereka yang menjadi sumber mata pencaharian dan ingat, royalti tidak datang dari langit. Bayangkan kalau musik tak lagi bisa dinikmati lewat rekaman karena punah ketika tak punya nilai ekonomis. Lihat apa yang terjadi dengan rekaman lawak yang kini nyaris tak pernah diproduksi lagi dalam bentuk rekaman suara. Apa jadinya kalau itu terjadi pada musik? Apakah anda rela musik hilang begitu saja dari keseharian?

Wednesday, April 2, 2014

Anjing Kecil yang Tersesat


Pas pulang kantor, sampe rumah dikagetkan gara2 ada anjing lucu ini nyelonong ke garasi. Tanya semua orang di rumah ga ada yg tau itu anjing dari mana. Nggak tau juga kapan itu anjing masuk rumah kita.

Akhirnya kita kasih makan dan minum sementara cari tau itu anjing siapa, berhubung udah malam jadi kita siapin utk dia tinggal disini dulu. Kita khawatir kalau anjing ini lepas belum tentu bisa survive, ditambah lagi masyarakat kita kadang masih ada yang kejam sama anjing. Strategi ngumumin anjing hilang juga kita susun, soalnya bisa aja orang ngaku2 padahal mau jual itu anjing atau ekstremnya dimasak :( .

Sementara itu adik gue coba tanya temennya yg juga tetangga kita karena seinget dia temennya itu punya anjing kecil. Dan ternyataaaa.. si lucu ini benar anjingnya temen adik gue dan akhirnya dia kembali ke keluarganya deh. Alhamdulillah..

Wednesday, March 26, 2014

Happy Anniversary!


Happy 3rd Anniversary my dear wife. I don't need those beautiful yet generic quotes that people like to post to show how much I love you. As you sleep through the night with our lovely child, let me snug into your dreams and let's play among the stars. If I'm rock, then you're roll. If I'm rhythm, you're the blues. Let the music roll and let's dance along in this joyful journey of life and love.


Sunday, March 23, 2014

Ayah & Ibu, Melek Politik Itu Perlu!

Saya termasuk orang yang cukup rajin mengikuti berita-berita politik dalam negeri. Tahun ini sebenarnya berita politik jadi memuakkan karena terlalu banyak memenuhi berbagai media. Tapi saya tetap merasa perlu untuk mencari tahu. Karena di tahun pemilihan umum kali ini saya adalah seorang ayah.

Saya ingin tahu persis, siapa calon-calon yang akan duduk di bangku legislator dan juga puncak pemimpin eksekutif. Alasan terkuat saya untuk peduli politik adalah anak saya yang kini akan berusia 1 tahun. Pemerintah yang akan kita pilih tahun ini akan merentang di masa balitanya. Sebagai ayah yang bertanggung jawab, saya secara sadar harus pahami betul apa yang akan terjadi dan jika saya bisa berkontribusi untuk membuatnya jadi lebih baik akan saya lakukan.

Saya tidak mau ketika otaknya tumbuh luar biasa cepat di masa balita, ia harus hidup di negara yang membiarkan terjadinya aksi kriminal berbasis intoleransi kolektif dan sistematis. Saya tidak mau masa balita anak saya yang jadi fondasi otak, mental dan hatinya diisi berita serta cerita tentang pembantaian satwa dilindungi. Saya menolak keras untuk membiarkan masa balita anak saya diisi pengalaman sogok menyogok aparat dari orang disekitarnya. Saya tidak mau ketika anak saya menjalani masa balita, pemerintah masih buta akan terjadinya ketidakadilan; mengagumi harta korupsi; tak punya empati; menyiksa lingkungan; mengacuhkan guru; dan ribuan kebobrokan lain yang pasti anda bisa rasakan dengan jelas.

Bagi para orang tua, siapa pun dan apa pun pilihan politik anda (termasuk juga "golput"). Mulailah peduli politik, bukan untuk kita sendiri tapi untuk anak dan keluarga. Karena pada akhirnya kita harus tunduk pada kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para legislator dan pemerintahan. Sungguh saya tak rela jika anak saya harus hidup di kondisi busuk yang tak layak anak.


Jangan salah pilih ya Pak!

Tuesday, March 18, 2014

Ketika EDM Terbelenggu Drugs


Akhir pekan lalu, ribuan anak muda di Kuala Lumpur seharusnya dapat berpesta gila-gilaan bersama pada hari terakhir rangkaian acara Future Music Festival Asia. Saya pun hadir disana untuk menyaksikan penampilan Pharrell Williams, Macklemore & Ryan Lewis, Rudimental, Tinie Tempah, Knife Party dan banyak lagi.  Namun ternyata apa yang terjadi? Acara tersebut dibatalkan di hari-H saat ribuan penonton sudah tiba di lokasi festival. Alasan utamanya adalah karena dari malam sebelumnya ketika digelar acara A State Of Trance dengan sajian musik EDM (Electronic Dance Music) dikaitkan dengan jatuhnya korban meninggal 6 orang dan 3 lainnya dalam keadaan kritis akibat overdosis metamphetamine (sumber) . Karena alasan keselamatan, pihak berwajib di Malaysia meminta penyelenggara untuk membatalkan acara di hari terakhir.

Kejadian itu cukup mengejutkan dan menggugah saya untuk mencari tahu lebih jauh tentang apa yang terjadi sembari melihat bingkai besarnya. 6 korban jiwa bukan angka yang kecil untuk sebuah event musik. Ketika rangkaian event "A State Of Trance" itu digelar di Jakarta keesokan harinya, jatuh pula 3 korban tewas akibat overdosis (sumber). Keadaan tersebut sudah begitu serius karena meskipun sifat kejahatan penggunaan narkotika/obat terlarang merupakan perilaku unik dimana sang korban juga merupakan pelaku. Sejenis seperti layaknya bunuh diri yang diistilahkan victimless crime. Namun ketika sudah jatuh korban jiwa, sudah saatnya hal ini dilihat sebagai fenomena. Untuk membuka mata, mari kita telisik, relasi apa yang sebenarnya terjadi antara EDM dan drugs?


Penggunaan drugs atau pun narkotika dan relasinya dengan musik sebenarnya sudah merentang jauh. Coba saja melirik sejarah musik Psychedelic yang erat dikaitkan dengan LSD. Era EDM pun begitu erat dengan ekstasi. Tammy L. Anderson, seorang profesor dari Departemen Sosiologi dan Peradilan Pidana University of Delaware pernah membahas ini lewat penelitiannya di tahun 2008 mengenai solidaritas dan penggunaan obat terlarang di skena EDM (sumber). Dalam laporannya menyebutkan bahwa pesta rave sebagai situs penggunaan obat terlarang besar-besaran. Menelisik lebih jauh ia mengklarifikasi mengenai solidaritas dalam penggunaan obat terlarang. Selain itu ia juga membahas beberapa hal tentang keterkaitannya dengan identitas kolektif dan budaya anak muda.


Event EDM seperti rave tentu melibatkan juga para artis yang menyajikan musik. Mengenai kejadian serupa di ajang Electric Zoo di New York tanggal 30 Agustus – 1 September yang memakan korban 2 orang, Jillionaire dari grup Major Lazer melempar pernyataan yang cukup menohok.


"It's going to sound weird, but we need to teach kids how to do drugs, the same way we teach them about drinking responsibly and having safe sex," (sumber)


Sedangkan Diplo berkomentar

"We're such a conservative culture that we'd rather not talk about the things kids want to do, even though they're going to do them anyway," Diplo said. "We'd rather ignore it to solve the problem. In Florida, where I'm from, drugs have been a part of club culture since day one. Kids have always been going to raves in the woods. 20 years ago, Orlando was one of the first places to have rave culture, and we learned how to do drugs. It's going to happen; you can't control it. Persecuting a festival is not going to help it because kids are going to do them regardless.”
(sumber)




Acara Electric Zoo pun akhirnya harus diberhentikan untuk menghindari jatuhnya korban lagi di acara tersebut. Dari segi bisnis, perputaran uang di dunia EDM sudah mencapai nilai 4,5 miliar Dollar ini. Bayangkan resiko tinggi yang harus ditanggung para pelaku usaha di bidang ini ketika berhadapan dengan kondisi-kondisi yang penuh ketidakpastian.


Dengan berbagai kejadian seperti diatas, skena EDM bisa terbelenggu. Hukum narkotika dan obat terlarang yang semakin ketat, norma-norma konservatif serta resiko tinggi dari segi bisnis bisa melumpuhkan gerak perkembangan skena EDM ibarat tawanan yang dibelenggu.


Salah siapa? Pertanyaan ini menjadi salah satu fokus utama dalam mencari solusi. Kita tidak bisa menyalahkan musiknya. Beberapa opini beranggapan bahwa saat ini banyak beredar obat terlarang “palsu” sehingga sering terjadi pada korban dimana mereka menyangka yang dikonsumsi adalah MDMA (methylenedioxy methylamphetamine / Ecstasy) padahal sebenarnya adalah PMA (para-Methoxyamphetamine). Karena perbedaan ini kadang mengecoh penggunanya untuk mengonsumsi lebih banyak dan pada akhirnya menyebabkan overdosis.




Namun apakah keberadaan ecstasy bisa dibenarkan? Seperti komentar Diplo diatas, bahwa drugs sudah menjadi bagian dari skena ini. Mungkin kata-kata Jillionaire mengenai pentingnya pengetahuan tentang bagaimana memakai obat terlarang bisa menjadi salah satu solusi namun tentu harus menabrak banyak rambu. Pencegahan peredaran obat terlarang di lokasi event pun nyaris mustahil karena tak mungkin melakukan razia mendalam pada ribuan penonton. Hal ini yang dilihat oleh DanceSafe sebuah lembaga yang mengedukasi penonton mengenai pengurangan bahaya (harm reduction) dari penggunaan obat terlarang. Namun kendalanya kadang tidak semua pihak bisa menerima keberadaan mereka karena seakan mengamini penggunaan obat terlarang. Hal ini ibarat sebuah lokalisasi pelacuran yang tak terjamah kampanye seks yang aman.


Ada juga beberapa pernyataan para artis yang patut disimak. Bagi para artis yang jadi panutan, sudah sepantasnya mengampanyekan pelarangan penggunaan obat terlarang. Ex personil Swedish House Mafia, Sebastian Ingrosso berpendapat serupa “I think that it’s very important that if you are some kind of icon and up on stage, and there are thousands of people following us on Twitter and coming to our shows, we need to be someone [fans] can look up to,” Selain itu ada juga pernyataan seperti ini “I don’t think we should be scared of saying ‘don’t do drugs,’”. “There is this sort of elephant in the room, where people are scared to say, ‘That stuff is dangerous and don’t mess around.’” ujar A-Trak.


Melihat banyaknya sisi dari masalah ini, nampaknya dunia EDM masih harus terus mencari solusi agar tidak terus terjadi hal serupa. Hal pertama yang harus disadari adalah semua pihak yang berkepentingan harus mengakui bahwa masalah obat terlarang memang ada di dunia EDM. Penyelenggara harus mencari solusi penyaringan barang terlarang untuk masuk kedalam lokasi. Lembaga edukasi harm reduction harus disiapkan dalam setiap acara untuk mengurangi resiko kematian. Para artis harus berani kampanye anti penggunaan obat terlarang. Para penonton dan penikmat EDM pun harus turut serta dalam kampanye ini. Dengan lebih bertanggung jawab, semoga di masa depan tak ada lagi yang harus tewas overdosis saat ajojing sementara para bandar tak peduli dan masih bisa tertawa terbahak.





Wednesday, March 5, 2014

"Stay At Home Mom" - Pahlawan Domestik



Istilah "Stay At Home Mom" tampaknya sekarang makin banyak dibahas. Dulu biasa disebut Ibu Rumah Tangga. Tapi menurut saya "Stay At Home Mom" lebih dari itu.

Saya saat ini bekerja sebagai pegawai di bidang pemasaran. Jam kerja saya kurang lebih 45-55 jam per minggu. Pekerjaan yang saya jalani memang menopang ekonomi keluarga kami sehari-hari. Sifat pekerjaan kepegawaian saat ini jadi zona aman bagi topangan ekonomi kami.

Istri saya adalah seorang "Stay At Home Mom". Jika dikalkulasikan jam kerjanya bisa hingga 16-20 jam per hari tanpa libur akhir pekan. Di sela-sela pekerjaan membesarkan anak dan mengurus rumah tangga, seorang "Stay At Home Mom" kadang juga bekerja yang menghasilkan uang. Istri saya adalah seorang seniman visual yang masih tetap berkarya. Meskipun berkarya adalah hidupnya tapi semenjak anak kami lahir, prioritas itu beralih. Anak kami adalah prioritas utama dan itulah dasar keputusan kami untuk memilih jalan bagi istri saya menjadi "Stay At Home Mom". Sebuah pekerjaan yang tidak digaji dengan uang, tapi dengan senyuman, tangisan, pengalaman dan tawa anak kami.

Momen tumbuh kembang anak bukan sebuah rekaman yang bisa di putar ulang begitu saja. Usaha anak untuk tengkurap, kejadian jatuh dari tempat tidur karena sudah bisa berguling, respon-respon pertama pada rangsangan indera, dan banyak lagi momen yang harus terekam oleh orangtua. Saya tidak mau momen-momen itu terjadi tanpa ada kehadiran salah satu dari kami. Anak kami harus bisa merasakan bahwa ada kami disetiap saat penting tersebut. Kami ingin ia merasakan keberadaan ibunya saat ia berusaha sekuat tenaga, jatuh bangun belajar berdiri.

"Stay At Home Mom" bukan para ibu rumah tangga yang asal tak bekerja dan nganggur saja di rumah. "Stay At Home Mom" adalah para ibu yang mendedikasikan dirinya pada pekerjaan menjadi seorang ibu. Peran ibu dijalani dengan tenaga bantuan seminim mungkin agar interaksi dengan anak bisa semaksimal mungkin. Targetnya bukan angka penjualan, KPI, atau pun rating. Target para "Stay At Home Mom" adalah kesehatan, kenyamanan, kepandaian, kecakapan dan berbagai pencapaian yang tidak melulu diukur lewat nominal. Sebuah target yang di satu sisi tak hingga namun di sisi lain ada batasnya. Sebuah pekerjaan yang absurd dari segi rasional namun mulia luar biasa. Sebuah peran yang begitu penting bagi sang anak meski tak tahu apresiasi apa yang akan didapat. Sebuah perjudian yang ikhlas dilakukan 1000%.

Saya begitu bersyukur untuk kenyataan bahwa keluarga kami diberi kesempatan oleh Allah untuk istri saya menjadi "Stay At Home Mom". Jujur saja, banyak sekali ibu yang tidak punya kesempatan yang sama karena topangan ekonomi keluarga pun ada di pundak mereka. Bukan tak salut dengan para ibu yang tetap mencari nafkah, tapi bila dirasa sang ibu bisa jadi "Stay At Home Mom", sebaiknya jangan buang kesempatan itu. Saya kadang melihat seorang ibu rumah tangga yang menitipkan begitu saja anaknya di tempat bermain sementara mereka asik arisan atau belanja hura-hura. Buat saya ini agak konyol karena waktu tak bisa diulang dan bayangkan menit-menit kebersamaan itu terbuang begitu saja demi mencari sepasang sepatu obral atau selfie pakai tongsis dengan teman geng arisan. Sedih.

Bagi para ayah juga mulailah berusaha untuk bekerja dua kali lebih keras agar istri bisa menjadi "Stay At Home Mom". Percayalah, pekerjaan "Stay At Home Mom" bukan sekedar internetan di rumah sambil sesekali menggendong anak. Bayangkan memasak, membersihkan berbagai perlengkapan bayi, mencuci, mengawasi, mengajarkan sembari belajar dan menyiapkan berbagai hal untuk esok hari. Semua dilakukan di tengah tekanan yang tidak rasional seperti anak menangis hanya karena tidak bisa memasang bongkahan-bongkahan Lego dengan benar. Belum lagi jika anak sedang ada gangguan kesehatan. Bayangkan itu semua terjadi setiap hari tanpa libur. Di saat anak tidur, "Stay At Home Mom" tidak ikut tidur tapi melakukan pekerjaan yang tidak "child safe" seperti menyetrika, masak, dll. Di saat senggang bukan istirahat yang dilakukan tapi mempelajari tentang penyakit yang sedang diderita anak, tentang memasak makanan sehat, dan banyak lagi. "Stay At Home Mom" harus cakap, pintar, tegas dan punya hati.

"Stay At Home Mom" adalah para pahlawan. Istri saya adalah pahlawan bagi saya. "Stay At Home Mom" bukan para perempuan yang bisa disepelekan karena di tangan mereka bibit masa depan dibesarkan.





Sekali lagi saya bukan bermaksud menyepelekan para ibu yang bekerja, tapi jika memungkinkan menjadi "Stay At Home Mom", jalankanlah dengan seluruh jiwa raga. Juga bagi para ayah, hargailah istri yang menjadi "Stay At Home Mom". Mereka pekerja keras dan perempuan istimewa.