Tuesday, September 23, 2014

Artikel di Market+ Magazine: Musik dan Kanal Bisnis Baru


Beberapa waktu lalu saya diwawancara oleh mbak Asri Nur Aini, jurnalis dari Market+ Magazine yang akan menerbitkan edisi September bertemakan industri musik. Sayang sekali ada kesalahan dalam penulisan nama saya dalam artikel tersebut. Tapi bagaimanapun terima kasih untuk Market+ yang telah mengangkat tema ini dalam publikasinya. Berikut ini adalah artikel hasil wawancara tersebut.

Musik dan Kanal Bisnis Baru
Selain perkembangan layanan streaming musik, kini banyak perusahaan rekaman yang memiliki divisi artist management hingga event organizer. Pasar off air di Indonesia masih begitu besar karena populasi dan luasnya wilayah negara kita menjadikan permintaan pasar akan hiburan live music masih besar.

Pondra Priyanto (catatan buat redaksi: harusnya Priyono) dari Sony Music Indonesia menyampaikan bahwa industri musik adalah sebuah industri yang luas dan tak terbatas pada artis di depan panggung. “Banyak hal menarik di belakang layar seperti pemasaran, teknis audio, artist management , produksi pertunjukan, pengembang digital, pendidikan musik, dan banyak lagi. Khusus untukmusisi, tak usah takut dengan tantangan dunia musik profesional,” tutur Pondra.

Ia berpendapat bahwa hal utama bagi para talent muda yang tertarik terjun di industri musik adalah mempelajari industrinya agar bisa melihat kesempatan lebih banyak dan antisipasi terhadap risiko yang ada. “Lewat pemahaman industri yang baik kita bisa masuk ke dalamnya lewat jalur-jalur tak konvensional yang kadang bisa mengagetkan pasar dan justru membawa kesuksesan,” lanjutnya.

Sebagaimana halnya tim dari Sony Music Indonesia yang memahami tentang pertumbuhan industri yang berujung pada inovasi. Potensi layanan musik streaming yang dikembangkan salah satunya dengan meluncurkan aplikasi Sony Music Jive. Aplikasi streaming dan download musik ini tersedia secara cuma-cuma dalam beberapa tipe smartphone Sony Xperia. Pelanggan bisa menikmati ratusan ribu lagu baik lokal maupun internasional dari beberapa record label di aplikasi ini.

“Di ranah artist management kami memasarkan artis-artis yang kami naungi untuk penampilan di berbagai event dan juga untuk kebutuhan brand activation hingga brand ambassador bagi klien. Kami juga memiliki divisi yang siap menyelenggarakan berbagai jenis event terutama yangmelibatkan unsurmusik didalamnya,“ jelas Pondra.

Di luar kanal-kanal bisnis tersebut, terdapat upaya menggali potensi bisnis musik di berbagai bidang lain seperti music synchronization (penggunaan musik/lagu) hingga international artist provider . Pondra berharap Sony Music Entertainment Indonesia terus berinovasi tak hanya mengikuti perkembangan pasar tetapi juga menjadi pionir di industri musik dan kreatif. 
(ANA)
 
Link Market+ Magazine versi online:

Friday, September 19, 2014

UU Hak Cipta dan Kehormatan Bangsa



Apa sih pentingnya hak cipta? Bayangkan hidup masyarakat Indonesia selama ini secara serampangan memerkosa hak cipta dan tak malu mempertontonkannya ke siapa saja. Kenapa saya bisa bilang begitu? Contoh saja di media sosial, tak banyak yang malu mengatakan kalau dirinya sedang nonton DVD suatu film yang jelas-jelas secara resmi film tersebut belum dirilis dalam format DVD. Jujur saya pun masih belum bisa sepenuhnya tak mengonsumsi karya cipta bajakan. Saya tau itu salah dan sangat memalukan!

Pelaku industri kreatif bisa sedikit mengambil nafas lega dengan disetujuinya Revisi atas UU Hak Cipta pada 16 September lalu. Hal ini dirasa sangat pas seiring akan dilantiknya juga pemerintahan baru yang dipimpin oleh presiden terpilih Joko Widodo dalam selang waktu yang tak terlalu lama. Seperti telah disaksikan oleh rakyat Indonesia, Joko Widodo pernah menyampaikan dukungannya pada bidang ekonomi kreatif. Hak cipta menjadi salah satu elemen paling penting dari berbagai kegiatan ekonomi kreatif karena inilah regulasi yang akan mengatur muara industri kreatif yaitu para pencipta dan pemegang hak cipta. Revisi terbaru dari UU Hak Cipta kini memberikan jangka waktu atas atas hak cipta menjadi lebih panjang dan memungkinkan untuk diwariskan. Selain itu juga tertera pasal-pasal perlindungan yang lebih jauh.

Sebagai keluarga yang hidup dari industri kreatif, saya apresiasi pihak pemerintah dan parlemen atas UU ini. Nafkah keluarga kami kini semakin terlindungi. Satu hal yang jadi penekanan adalah penantian akan penegakannya. Seberapa “seksi” isu ini secara politis? Selama tidak menimbulkan gejolak massa, mungkin UU ini akan hanya jadi benang basah yang tak bisa tegak. Impoten!

Ya, faktor politis jadi penting. Ini sudah terbukti ketika terjadi apa yang disebut oleh industri musik tanah air sebagai “Black October” yaitu ketika di bulan Oktober 2011, pemerintah memutus aktivasi layanan RBT di semua operator selular karena kasus pencurian pulsa oleh beberapa oknum. Ibarat tikus di lumbung padi yang diburu dengan cara membakar lumbung. Banyak perusahaan penyedia konten dan juga perusahaan rekaman yang tak bersalah harus melakukan PHK atau bahkan menutup perusahaan. Bayangkan pasar yang sudah terbentuk harus terhenti secara mendadak. Kenapa respon pemerintah bisa sedemikian keras, tentu karena teriakan publik yang secara politis wajib ditangani secepatnya. Bayangkan jika industri kreatif tergolong padat karya, sepertinya pemerintah akan berpikir lebih keras untuk mengatasi masalah tanpa mematikan pihak yang tak terlibat.

Hadirnya UU Hak Cipta diharapkan mampu membawa stake holder ekonomi kreatif ke posisi politis yang mumpuni. Tentu tak sebentar untuk membangun masyarakat yang sadar hak cipta. Bahkan di negara maju pun masalah pembajakan juga masih merajalela. Sebelum keluar UU ini, sebelumnya sudah ada UU No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta namun apa yang kita rasakan toh tak banyak perubahaan. Melihat secara luas, ini memang bukan cuma tentang penegakan hukum dan political will. Ini juga masuk ke ranah moral serta kebudayaan. Bangsa yang kaya folklor seperti Indonesia terbiasa dengan karya yang bebas dikonsumsi. Lama kemudian, saat ini sulit untuk menjelaskan konsep hak cipta pada awam. Hak cipta memang tak berbentuk benda sehingga sulit dipahami apa yang dapat dicuri, diwariskan dan dilindungi. Bagai udara, masyaraskat merasa kekayaan intelektual dan karya cipta adalah hal bebas. Inilah tantangan tersulitnya.

Ekonomi kreatif yang kini mulai dilembagakan dan mendapat perhatian serius memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Di dalamnya ada kehormatan bangsa. Regulasi hak cipta yang baik akan membawa anak bangsa tak takut berkarya dan berinovasi. Bayangkan Indonesia sebagai bangsa yang penuh inovasi dan karya orisinil. Seniman dan penemu tak takut akan masa depannya suram. Semua akan berlomba menciptakan sesuatu yang baru dan bermanfaat. Karya cipta mereka dilindungi oleh negara. Inilah salah satu esensi dari perkembangan sebuah bangsa yang besar. Bangsa para penemu, sastrawan, penggubah, arsitek, ilmuwan, hingga programmer handal. Apakah tega jika Indonesia mentok menjadi bangsa buruh?

Image & Referensi:

Thursday, September 11, 2014

Selamat Hari Radio!

Petang 17 Agustus 1945, Jusuf Ronodipuro dan rekan2 merangsek masuk studio Hoso Kyoku (radio militer Jepang) untuk mengabarkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Meskipun akhirnya dihajar tentara Jepang, ini jadi tonggak tersiarnya kemerdekaan RI.

Pertandingan2 bulutangkis super-seru dari Susi Susanti disiarkan dengan menawan dan menegangkan. Peraihan medali emas pun bisa dirasakan seluruh rakyat Indonesia hingga pelosok lewat radio.

Medio 1998, saya masih ingat mendengar siaran langsung radio dari lokasi2 tragedi Trisakti hingga Semanggi. Kepanikan luar biasa ditengah suara letusan bedil dan gas air mata tapi laporan pandangan mata terus berjalan. Ngeri!

Gelombang radio berkali2 jadi medium paling cepat dalam menyiarkan kejadian2 terbesar bangsa ini. Tak berlebihan jika tanggal 11 September hari berdirinya RRI dinyatakan sebagai Hari Radio di Indonesia. Selamat untuk rekan2 pekerja dan pecinta dunia radio. Merekalah garda terdepan kedaulatan bangsa di gelombang radio Indonesia.

Thursday, July 24, 2014

Kemenangan Jokowi-JK dan Industri Gitar Tanah Air



Euforia pasca pengumuman hasil pilpres masih terasa hingga hari ini. Pemberitaan mengenai presiden terpilih Indonesia kini mulai menghiasi media asing. Buat saya, media semacam BBC, ABC, The Economist, Guardian, dll kurang menarik. Saya coba mencari sudut pandang media yang berbeda. Fakta bahwa seorang metalhead bisa terpilih sebagai presiden di negara demokrasi terbesar ke-3 jadi focus yang lebih ditekankan pada media musik terutama media musik cadas.

Lewat media Metalhammer, Blabbermouth, Loudwire hingga Revolver nama Jokowi melambung sebagai sosok politisi penyuka musik metal yang sukses menjadi presiden. Ya, presiden adalah posisi tertinggi di sebuah negara, bagi para metalhead, ini bukan berita ringan. Vokalis Lamb of God, Randy Blythe, langsung berkomentar panjang di akun instagram dengan postingan foto Jokowi mengenakan T-shirt Lamb of God dan foto Jokowi berkaus Napalm Death sembari menunjukkan simbol tangan devil’s horn yang jadi bahasa isyarat universal pemersatu para metalhead. Implikasi dari pemberitaan ini tentu mengundang banyak komentar dari publik.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah komentar di artikel online dari majalah Revolver menanggapi kemenangan seorang metalhead menjadi presiden Indonesia berikut ini yang diposting oleh seorang Netizen bernama Mario, “Now I understand why the best guitars are Made in Indonesia....”. Sungguh saya bangga membacanya. Inilah yang kita harapkan sebagai bangsa. Pengakuan!

Bagi teman-teman yang awam dengan dunia alat musik, Indonesia sudah lama menjadi salah satu produsen gitar terbesar di dunia. Pabrik gitar seperti Samick, Cort, Yamaha dan banyak lagi ada di Indonesia. Pabrik-pabrik selain mengeluarkan merk sendiri juga menjadi produsen untuk merk ternama lain seperti Squier (anak usaha Fender), Epiphone (anak usaha Gibson), LTD (anak usaha ESP), Ibanez dll. Selain industri kelas besar, gitar berkelas butik asal Indonesia juga sangat popular. Gitar Secco yang dibuat oleh luthier (sebutan untuk seniman pembuat gitar) Yosefat Wenardi Wigono asal Jawa Barat telah melanglangbuana hingga ke mancanegara. Harga gitar buatannya bisa mencapai USD4000, setara sekitar 45 juta Rupiah! Luthier lain misalnya kang Hanung degan Stranough Guitar juga masuk pasar internasional terutama dengan memproduksi Lapstick, sebuah travel guitar ciptaan Phil Neal yang dipasarkan di Eropa. Gelar gitar terbaik di dunia juga diraih oleh luthier Indonesia. Tahun 2012 lalu, Doddy “Mr. D” Hernanto dari Rick Hanes Guitar sukses membawa gitar tanah air menjadi gitar-gitar terbaik di dunia versi majalah Guitar Planet, Inggris.

Bagi kalangan industri alat musik dunia, Indonesia sudah menjadi salah satu pusat produksi gitar. Sayangnya hal ini tidak banyak diketahui publik dalam negeri yang kadang masih menganggap remeh gitar local. Memang cukup banyak juga perajin lokal yang sembarangan dalam membuat gitar sehingga kualitasnya sangat-sangat rendah. Jika saja masyarakat tau mengenai hal ini, tentu karya gitar dalam negeri bisa lebih dihargai. Perajin harus dibina mengenai pemasaran serta jaminan garansi pasca penjualan. Media harus mampu memberikan tempat dalam memublikasikan merk-merk local yang berkualitas dan juga mengedukasi melalui informasi tentang bagaimana menilai sebuah produk. Musisi harus makin memercayai produk lokal sebagai instrument andalan agar menular ke para penggemarnya dan para musisi muda. Pemerintah juga wajib mendukung industri alat musik lokal. Insentif dalam hal pembuatan hak cipta, kesempatan pemasaran di luar negeri, menggelar pelatihan-pelatihan untuk produsen agar terjaga jaminan kualitas produknya.


Pada akhirnya, sebuah harapan besar muncul dari hadirnya pemerintahan baru yang akan dilantik beberapa bulan lagi. Jangan sampai sebuah pengakuan dari publik asing yang sudah diarih pada akhirnya menjadi mubazir. Paparan Jokowi saat debat Capres lalu tentang pentingnya pembangunan ekonomi kreatif harusnya menjadi motor penggerak industri alat musik. Fakta bahwa Jokowi merupakan seorang penggemar musik metal sudah digembar-gemborkan sejak lama. Kedekatannya dengan dunia musik juga terlihat saat digelar konser 2 jari yang cukup epik. Ia sebaiknya paham bahwa dibalik musik yang digemarinya itu ada elemen alat musik berkualitas yang menghasilkan nada berkualitas. Indonesia harus bisa menjadi produsen gitar terhebat di dunia. Kita jangan hanya jadi buruh untuk merk dagang asing. Sudah saatnya nama Secco, Stranough, Radix, Genta, Rick Hanes, Stephallen dan lainnya menghentak O2 Arena, Madison Square Garden hingga Glastonbury di tangan para musisi sekelas Radiohead, U2, Coldplay, Foo Fighters, John Mayer dan Slash.




Referensi:








Thursday, July 17, 2014

#JusticeMatters


Ngga banyak yang tau, 17 Juli adalah Day of International Criminal Justice.

Pada 17 Juli 1998 Statuta Roma yang merupakan statuta yang menjadi dasar pembentukan Pengadilan Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC). ICC bertujuan untuk melindungi masyarakat dari genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang dan kejahatan agresi.

Pemerintah Indonesia memasukkan agenda peratifikasian Statuta Roma dalam Rencana Aksi Nasional HAM 2011-2014 namun sampai saat ini belum juga meratifikasi. Tentu ada plus-minus dari Statuta Roma namun dibalik apa pun perdebatannya mari kita ingatkan dunia bahwa keadilan dan penegakan HAM itu penting.

Tahun ini, ICC menggalang kampanye #JusticeMatters di ranah social media untuk mendukung keadilan, hak-hak korban dan membantu mencegah kejahatan yang mengancam perdamaian dan keamanan dunia. Setidaknya foto ini jadi partisipasi terkecil dari saya untuk mendukung penegakan hukum dan keadilan.

Sunday, July 13, 2014

Negerinya Para Komentator

Di Indonesia banyak orang yang reaktif terhadap berbagai berita atau tulisan. Tapi sayangnya energi keterlibatan ini cuma sebatas jadi komentator. Alangkah hebatnya bangsa kita kalau energi dan pemikirannya dituangkan dalam tulisan argumentatif yang berstruktur dan dapat dipertanggungjawabkan, minimal dalam blog pribadi.

Mereka yang bisa ratusan kali berbalas komentar pada postingan akan sebuah tautan harusnya punya cukup waktu untuk menulis sebuah karya tersendiri. Dengan begitu kita akan dibiasakan untuk berpikir lebih dalam, mencari referensi lebih banyak dan tentunya bertanggung jawab lebih besar atas apa yang jadi buah pikiran.

Kekuatan sebuah karya tulisan tersendiri tentunya akan lebih relevan dan berpengaruh dibanding memosting tautan dengan embel2 "baca dulu nih", "daripada ribut mending baca dulu", "eaaaa", "WTF!", dll. Bangsa Indonesia jangan cuma bisa jadi komentator. Kita punya kemampuannya namun malas untuk berpikir dan berkarya. Tak heran jika mudah diadu domba. Jangankan beraksi, jika menulis saja malas maka kita hanya menjadi para pemimpi yang delusional dengan komentar pedas namun tak punya kredibilitas intelektual. Inilah yang namanya terjajah!

Monday, July 7, 2014

Senjata Nada dalam Sejarah Pemilihan Pemimpin Bangsa





 KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO-RODERICK ADRIAN MOZES
http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/07/05/foto-foto-lautan-manusia-pada-konser-salam-2-jari-untuk-jokowi-jk

Masa kampanye Pilpres Indonesia tahun ini telah usai. Dalam hitungan hari bangsa ini akan memilih pemimpin baru sebagai Presiden. Hasil akhirnya akan menentukan bagaimana jalannya Republik ini kedepannya. Tak heran kalau berbagai lini masyarakat begitu intens memperhatikan jalannya masa kampanye dan bahkan keterlibatan relawan di pemilu kali ini terasa begitu masif. Juru kampanye dan relawan menjadi bahan bakar propaganda yang dibutuhkan setiap kandidat. Salah satu bidang yang begitu dilirik adalah para musisi entah itu penyanyi, pemain musik hingga para pemerhati dan pegiat aktifitas kebudayaan musik. Melihat fenomena ini membuat saya ingin tahu lebih jauh tentang keterlibatan musik dalam kampanye politik. Sejak kapan praktek ini terjadi dan mengapa?


Andrew Jackson
Photo Credit: Library of Congress (J.B. Longacre) - http://www.history.com/photos/andrew-jackson/photo4

Pemanfaatan musik dalam hal politik terutama dalam masa pemilihan sebenarnya sudah terjadi jauh di  masa lampau. Colin G. Zelicof dari University of Pennsylvania membahas dalam tulisannya yang berjudul “’Orchestrating’ the Campaign: The Sounds of American Presidential Elections”. Ia menjelaskan bahwa di Amerika Serikat penggunaan musik sebagai alat kampanye diawali oleh Andrew Jackson saat pemilihan tahun 1824. Andrew jackson menggunakan lagu “The Hunters of Kentucky” ciptaan Samuel Woodworth menggambarkan kisah heroiknya dan dijadikan lagu kampanye hingga akhirnya ia terpilih sebagai presiden AS. Kesuksesan lagu kampanye terjadi lagi tahun 1840 lewat lagu “Tippicanoe and Tyler Too” untuk William Henry Harrison. Namun dalam sejarah, terjadi juga lagu kampanye yang gagal membawa pengusungnya ke kursi kepemimpinan, masih diambil dari tulisan Zelicof, pada tahun 1864, George McClellan menggunakan “Little Mac! Little Mac! You’re the Very Man,” ketika berhadapan dengan Abraham Lincoln dan ia tak berhasil mematahkan kebijakan anti-perbudakan milik Abraham Lincoln.



Will.i.am & Obama
http://www.theguardian.com/music/2008/feb/04/news

Melihat kisah lampau, mari kita tarik ke beberapa tahun terakhir terutama di masa Barrack Obama. Dukungan musik dan para artisnya dalam berbagai kampanye juga berdampak pada elektabilitasnya yang kian melambung. Will.i.am memprakarsai video “Yes We Can” yang dibanjiri artis dan selebriti kelas atas seperti John Legend, Scarlett Johansson, Nicole Scherzinger, Herbie Hancock hingga Kareem Abdul-Jabbar. Sebuah artikel di media Inggris The Independent membuat daftar aksi-aksi para musisi/penyanyi yang berkaitan dengan kampanye presiden seperti Katy Perry yang menggunakan busana bergambar surat suara memilih Obama. Sementara Kid Rock aktif di sisi Romney serta lagunya dipakai di berbagai kesempatan kampanye Romney.




Ahmad Dhani
http://www.merdeka.com/artis/bahas-dhani-media-singapura-juluki-pemilu-nazi-indonesia.html
Tak jauh beda dengan di Indonesia. Pemilihan Presiden tahun ini juga banyak nada yang bernyanyi mengiringi kampanye masing-masing kandidat. Di sisi Prabowo-Hatta ada sosok Ahmad Dhani dan Rhoma Irama sebagai sosok musisi yang punya basis massa. Lagu yang paling jadi pembicaraan adalah “Indonesia Bangkit” dimana Ahmad Dhani dan para jebolan Indonesian Idol muncul dalam sebuah video controversial yang menampilkan Dhani berpakaian mirip seorang perwira NAZI dan adaptasi lagu “We Will Rock You” yang kabarnya tak berizin. Salah satu yang unik juga adalah ketika para petinggi kubu ini juga menggelar konser artis mancanegara, Maher Zain tanpa atribut kampanye pilpres dan partai.

Konser Salam 2 Jari
Slank.com
Di kubu Jokowi-JK juga terlihat dukungan para pelaku dunia musik. Slank yang punya basis massa Slankers di berbagai belahan tanah air kini turun gunung untuk ikut serta ke ranah pemilihan presiden lewat dukungan ke Jokowi-JK. Lagu “Salam 2 Jari” digulirkan oleh Slank bersama rekan musisi lain seperti Oppie Andaresta, Kikan, Ello, J-Flow, dkk. Puncaknya adalah di hari terakhir masa kampanye diadakan pagelaran konser epik “Salam 2 Jari” yang mengajak Titiek Puspa, Ian Antono, Gita Gutawa, Erwin gutawa dan nama-nama lain di venue konser terbesar di Jakarta yaitu stadion Gelora Bung Karno.



Hubungan harmonis antara musik dan pemilihan presiden tampaknya masih jadi senjata ampuh untuk jadi amunisi kampanye. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ted Brader, seorang Associate Professor of Political Science dari University of Michigan, menyimpulkan bahwa penggunaan lagu dalam iklan politik mampu meningkatkan partisipasi politik dibanding jika tidak menggunakan musik. Namun dibalik pemakaian sebuah lagu, tetap harus menghargai Hak Kekayaan Intelektual yang ada dalam sebuah karya cipta. Pemakaian sebuah lagu kadang terjadi secara organik lewat kesamaan tema. Namun hal yang harus diingat adalah penyanyi ataupun penulis lagu tersebut juga bisa dikaitkan dengan orientasi politik dari pihak yang menggunakan. Pemakaian lagu tersebut akhirnya harus mendapat izin dari artis-artis yang bersangkutan agar tak terjadi konflik. Hal ini cukup sering terjadi di Amerika Serikat seperti ketika lagu “Waving Flag” dari K’Naan digunakan oleh Mitt Romney, lagu “Born In The USA” Bruce Springsteen digunakan oleh Ronald Reagan, “I Won’t Back Down” dari Tom Petty digunakan oleh George W. Bush hingga lagu “Barracuda” nya Heart yang dipakai oleh Sarah Palin.



Selain konflik seperti diatas, harus diperhatikan juga mengenai latar belakang lagu, jangan sampai terjadi seperti partai Republik di Amerika Serikat yang sempat menggunakan lagu “Right Now” dari Van Halen. Partai ini tak cukup cermat untuk melihat latar belakang lagu yang diambil dari album “For Unlawful Carnal Knowledge” yang jika disingkat menjadi “F.U.C.K”.



Pada akhirnya pesona popularitas yang bisa digapai oleh musik adalah kekuatan utama untuk memperkuat elektabilitas. Penyampaian sebuah propaganda yang dibalut estetika seni dan budaya akan lebih mudah diterima massa. Ditambah sosok para artis yang kini lebih dipercaya dibanding politisi menjadikan mereka pasukan politik yang lebih dari sekedar penghibur panggung orasi. Tak harus menjadi kader, dukungan kecil mereka bagaikan kucuran segar bagi pelaku politik yang semakin tak didengar rakyat karena mereka pun tak biasa mendengar. Musik masih punya estetika yang nyaman di telinga.



Musik sebagai salah satu aktualisasi karya cipta sebuah kebudayaan adalah kekuatan besar yang punya kemampuan membentuk pola pikir hingga mengiringi gerakan sosial. Sebuah orkestrasi nada punya daya yang lebih hebat dari senjata. Mesiu bisa melumpuhkan raga namun musik bisa meluluhkan hati dan mengobarkan semangat. Sungguh, hati dan semangat lebih kuat daripada sekedar raga. Untuk kedua kandidat, gunakanlah musik dengan kehormatan yang setinggi-tingginya.




Artikel referensi:

Zelicof, Colin G., “Orchestrating” the Campaign: The Sounds of American Presidential Elections, http://www.thepresidency.org/storage/documents/Zelicof-_Final_Paper.pdf









“The Best and Worst Political Campaign Songs (But Mostly the Worst)”

http://mentalfloss.com/article/29066/best-and-worst-political-campaign-songs-mostly-worst