Saturday, December 26, 2015

Yuk, Pahami Royalti! (Bagian ke-1)


Seiring makin majunya industri kreatif di Indonesia, seharusnya makin baik pula industri musik tanah air. Sayangnya, banyak orang yang belum paham mengenai royalti, dalam hal ini untuk karya musik. Tak hanya orang umum kebanyakan, bahkan para pekerja seni dan pelaku industri musik pun masih banyak yang belum mengerti. Saya juga masih terus belajar karena kenyataannya industri musik berkembang terus sehingga banyak pengembangan mengenai royalti atas hak kekayaan intelektual.

Saya menemukan sebuah artikel yang ditulis oleh Ari Herstand, seorang penyanyi dan pencipta lagu asal Amerika Serikat. Ia adalah contoh musisi mandiri yang sudah sepenuhnya hidup dari musik. Ia banyak menulis pengalaman dan pengetahuannya di website pribadi yang menurut saya cukup menarik untuk disimak. Salah satu tulisan yang saya sorot kali ini adalah mengenai royalti. Karena tak banyak artikel tentang subyek ini yang semudah ini untuk dipahami. Saya akan coba meringkasnya lagi dalam bahasa Indonesia karena saya yakin banyak musisi yang ingin tau tentang royalti. Saya akan coba mengulasnya dan mengadaptasi ke industri di Indonesia.


Penjelasan mengenai royalti tentu bukan bahasan singkat. Karena itu saya harus membaginya ke beberapa artikel tulisan. Dalam bagian pertama ini, saya akan meringkas beberapa pihak dan istilah yang paling dasar. Sedangkan mengenai jenis royalti, mekanisme di AS serta pembahasan adaptasinya di Indonesia akan diulas di bagian-bagian selanjutnya lagi.

Mari kita awali dengan pihak paling dasar yaitu artis dan pencipta lagu. Dilanjutkan istilah-istilah dasar.

Artis
Artis adalah pelaku rekaman, atau bisa dibilang pihak yang melakukan tindakan bernyanyi, memainkan instrumen musik dan direkam. Artis bisa dalam bentuk perorangan maupun kelompok. Seorang artis belum tentu menciptakan lagunya sendiri, namun tidak tertutup kemungkinan menjadi pencipta jika rekaman lagu tersebut juga merupakan ciptaannya. Jika tergabung di label rekaman maka perusahaan labelnya yang menjadi perwakilan atas rekaman/artis tersebut.

Pencipta Lagu
Pencipta lagu adalah orang yang menciptakan komposisi sebuah lagu. Jika lagu itu dinyanyikan orang lain dan direkam, maka si pencipta lagu hanya menjadi pencipta lagu. Sedangkan jika ia menciptakan dan menyanyikan lagu itu maka selain sebagai pencipta, ia juga akan tercatat sebagai artis. Contohnya Yovie Widianto yang menciptakan lagu untuk 5Romeo, maka Yovie Widianto disebut pencipta. Ketika Yovie Widianto menciptakan lagu untuk Yovie & Nuno maka Yovie Widianto tercatat sebagai pencipta dan artis.

Rekaman Suara
Biasa disebut juga "Master". Rekaman suara ini adalah hasil final rekaman artis yang dirilis. Bukan bagian-bagian mentah dari sebuah karya rekaman. Rekaman suara juga bukan komposisi. Biasanya master dimiliki oleh label kecuali dalam bentuk kerjasama lain misalnya master hanya dilisensi oleh label untuk jangka waktu tertentu. Maka kepemilikan/hak komersialisasi tersebut tidak selalu selamanya berada di satu label tertentu.

Komposisi Lagu
Komposisi adalah dasar lagu. Bukan rekamannya. Komposisi adalah hasil karya pencipta lagu. Biasanya perusahaan publishing yang mengumpulkan/menagih royalti atas komposisi. Hal ini karena komposisi dan pencipta lagu direpresentasikan oleh perusahaan publishing.

Untuk anda yang merupakan musisi, pahami dulu posisi anda. Apakah artis, pencipta lagu, atau keduanya? Pahami juga bahwa hal ini berlaku untuk tiap-tiap single/lagu. Jangan sampai ada pihak yang merasa dirugikan karena punya andil dalam penciptaan lagu namun tidak mendapat haknya. Setelah mengetahui penjelasan tentang pihak/istilah dasar ini, barulah kita bisa berangkat ke pembahasan lain di bagian berikutnya.

Anda juga bisa baca langsung dari sumbernya:

Saturday, December 19, 2015

Abbey Road Red dan Pengembangan Bisnis Studio Musik


Bagi yang berkecimpung di dunia musik pasti tahu Abbey Road, studio musik paling legendaris di dunia. Tempat ini jadi begitu besar terutama karena The Beatles. Namun jangan salah, band Indonesia pun ada yang rekaman disana seperti GIGI, /rif dan J-Rocks. 

Hal yang akan kita bahas di sini adalah tentang langkah Abbey Road Studio meluncurkan lini bisnis yang mereka namakan Abbey Road Red. Selain itu mari kita kaji singkat potensi pengembangan bisnis studio musik di tanah air.

Merujuk situs resmi Abbey Road dan artikel yang dilansir TechCrunch, Abbey Road Red adalah sebuah departemen inovasi yang dirancang untuk mendukung suksesnya para usahawan, peneliti serta pengembang di bidang teknologi musik. Mereka memiliki program inkubasi start-up khusus bidang ini dan diklaim sebagai satu-satunya di Eropa saat ini.

Start-up yang masuk ke dalam program inkubasi akan mendapat akses ke fasilitas dan keahlian-keahlian yang dimiliki Abbey Road dan Universal Music. Termasuk diantaranya program mentorship, menjadi penasihat serta akses studio sebagai tempat percobaan. 


Salah satu start-up yang sudah tergabung adalah Titan Reality yang mengembangkan instrumen dan antarmuka musik menggunakan teknologi 3D sensing. Tanggal 18 Desember ini mereka baru saja menutup pendaftaran program inkubasi start-up untuk umum. Menarik untuk memantau start-up company apa yang akan mendapat kesempatan ini.

Untuk para ilmuwan, Abbey Road Red mengidentifikasi berbagai perkembangan teknologi musik sejak tahap awal dan bekerjasama mengembangkan teknologi musik terbaru yang inovatif. 

Dari segi bisnis, Abbey Road meminta 2% ekuitas dari start-up tersebut dan kesempatan investasi pada putaran-putaran pendanaan berikutnya. Sebuah langkah bisnis yang cukup maju untuk sebuah studio musik.

Abbey Road sebagai nama legendaris di dunia musik mampu membawa bisnisnya merentang ke berbagai sektor. Pemasukannya bukan hanya dari proses rekaman atau sewa studio termasuk jasa pengolahan audio (mix & master). Sebagai brand, nama Abbey Road sudah memiliki posisi pemasaran yang kuat. Produsen speaker premium asal Inggris, Bowers & Wilkins dengan bangga mengomunikasikan Abbey Road sebagai pengguna produknya hingga bahkan mereka siapkan seksi khusus di website dan gerai mereka untuk ini. Google membuat tur virtual bernama Inside Abbey Road yang memberi kesempatan siapa pun menelusuri seluk beluk studio ini. Abbey Road Studio membuktikan kalau mereka terus berinovasi dan mengembangkan bisnisnya. Sebuah langkah yang harus dipelajari pelaku bisnis studio di Indonesia.


Menurut saya beberapa nama studio di Indonesia sudah mulai memiliki brand kuat. Lokananta sepertinya sudah mempunya tempat tersendiri di industri. Tak jarang musisi Indonesia pun akan bangga menyebut nama Lokananta sebagai tempat rekaman dan hal itu sudah dianggap menjadi nilai jual. Merchandising, tur wisata hingga program pendidikan harusnya bisa jadi bisnis menarik. Studio musik lain juga harusnya bisa mencobanya. Satu hal yang penting adalah konsistensi brand marketing agar nama studio mampu jadi brand yang diminati oleh banyak orang dan punya nilai jual. Sudah saatnya studio musik di Indonesia berkibar tak cuma di belakang layar.


Sumber:



Sunday, December 6, 2015

Zine Bawah Tanah Pegawai Pemerintahan


Berkesempatan diwawancarai oleh majalah ini. Sebuah majalah bawah tanah dari kumpulan pegawai pemerintahan lintas wilayah di sebuah instansi. Penerbitannya mandiri, tanpa iklan dan nol komersialisasi. Isinya penuh artikel musik dari sudut pandang yang jujur. Ingat zine bawah tanah macam Brainwash dan Trolley? Ini bagaikan resureksinya.

Saya terhubung dengan majalah ini lewat seorang kawan masa sekolah. Dulu kami sama-sama punya band ska masing-masing di sekolah. Singkat cerita saya dan kawan ini masih berkomunikasi via Facebook hingga kini. Ia pun akhirnya menanyakan kesediaan saya untuk diwawancara mengenai pekerjaan. Kolomnya adalah pembahasan karir di luar bidang-bidang umum yang ada di instansi mereka. Wawancara dilakukan via email karena teman saya ini dinas di Jawa Tengah. Menarik mendengar cerita dibalik majalah ini. Membuka mata kita bahwa ada anak-anak "bawah tanah" yang jadi penyelenggara negara memberi napas lega buat saya.

Salut buat mereka yang masih bersemangat menyisihkan gajinya untuk melestarikan format "Zine" dalam bentuk yang luar biasa bagus. Maaf saya tidak bisa buka dari instansi mana para pemrakarsa majalah ini karena takutnya dibredel atasan mereka.

Salut!

Wednesday, November 4, 2015

Surat Terbuka untuk "Pecinta Musik"


Bohong lah kalau pelaku industri musik nggak ngelihat ini akan terjadi. Yang ngagetin adalah, terjadinya secepat ini.

Gue juga yakin bahwa semua label (yg punya produk fisik) berusaha menyelamatkan para retailers. Bukan cuma perkara cari untung tapi nilai historisnya begitu tinggi dan keberadaan mereka pernah menjadi kunci. Mereka layak diselamatkan karena kalau melihat ke masa lalu, merekalah jalur distribusi utama dalam music monetization. Namun zaman berubah. Inovasi dan adaptasi adalah harga mati.

Hal yang paling menyedihkan tentunya berapa banyak orang yang kena PHK. Memang di satu sisi, ketidakmampuan sebuah perusahan untuk berkembang atau sekedar bertahan juga jadi tanggung jawab manajemen perusahaan tersebut. Tapi pernah berpikir lebih jauh nggak? Kalau seandainya penikmat musik benar-benar mengapresiasi musik sesuai nilai dan harganya, mungkin aja retailer ini akan lebih punya modal untuk berinovasi dengan pengembangan bisnis yang sesuai dan akhirnya bisa bertahan. Tapi sayangnya banyak "pecinta" musik yang ngga mau bayar buat sesuatu yang padahal mungkin jadi suatu bagian paling penting dalam hidupnya. Sesuatu yang membentuk pribadinya. Sesuatu yang begitu kuatnya mampu menginspirasi atau bahkan menyelamatkan nyawanya. Iya, segitu besar loh musik bisa berperan dalam hidup seseorang. Yeah right, "pecinta musik" apalah itu kalo mayoritas musik yang kamu miliki adalah hasil nyolong.

Gue paham kalau "konsumen" maunya yang mudah, murah, berkualitas. Industri musik seakan dipacu untuk mengakomodir tuntutan konsumen semacam ini. Berlomba lewat bisnis-bisnis baru. Kalau masyarakat dan "pecinta musik" masih nganggep bahwa karya musik barang gratis, sulit deh. Banyak yang tidak paham sih kalo rekaman itu mahal, menulis lagu itu sulit, bernyanyi dengan baik itu nggak gampang. Miris ngga sih kalo tau kenyataan bahwa pengamen bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada penghasilan artis dari royalti?

Kembali ke pihak pegawai yang akan terkena PHK yang pastinya mudah dipahami orang awam. Tau ngga biaya sekolah itu sekarang berapa? Harga seragam, buku dan karya wisata? Popok, imunisasi, mainan? Pembajak musik dan pengunduh ilegal punya peran dalam memotong rezeki pegawai-pegawai itu. Puas?!

Thursday, October 22, 2015

YouTube Red, Layanan Langganan YouTube Tanpa Iklan. Akankah Berhasil?


YouTube memperkenalkan YouTube Red, layanan langganan konten tanpa iklan termasuk musik. Tapi ada komentar miring juga karena para pencipta yang sudah menjadi YouTube Partner harus setuju untuk ikut dalam skema bisnis ini, kalau tidak kontennya akan tak bisa diakses publik. Kok jadi seperti penyanderaan konten? Tapi di lain pihak ya itu sebuah pilihan ketika kita mendistribusikan konten dalam platform yang sifatnya berbisnis. Sayangnya layanan YouTube Red belum tersedia di Indonesia saat ini jadi belum bisa dipelajari langsung.

Kebetulan hari ini ada workshop dengan YouTube, bisalah kita tanya nanti.

Silakan cek video promonya
https://youtu.be/YL9RetC0ook



Btw ini bukan RedTube loh yah 😜

Thursday, October 1, 2015

Diplomasi Musik part.2


Setelah minggu lalu saya menghadiri undangan Duta Besar Perancis dalam acara makan siang sembari membahas Jazz dan Industri Musik bersama beberapa pelaku industri musik di Indonesia, minggu ini saya mendapat kesempatan untuk hadir di acara bertajuk "The New Wealth of Nations: Creative Industry in ASEAN Economic Community" yang diprakarsai oleh Sekolah Staf dan Pimpinan Departemen Luar Negeri (SESPARLU) bersama Centre  for Strategic and International Studies (CSIS). Managing Director Universal Music Indonesia menjadi salah satu pembicara dalam sesi bertema "Local Music, Local Love". Keseluruhan acara ini termasuk dalam rangkaian kegiatan Digital Diplomacy Week.

Secara garis besar, hadirin kebanyakan dari kalangan diplomat. Mereka mencoba menggali potensi industri kreatif dan diplomasinya untuk mengembangkan ke pasar ASEAN. Acara ini seakan sedikit menjawab pertanyaan tulisan saya sebelumnya tentang apakah KBRI juga memfasilitasi diskusi antara artis/pelaku industri musik asal Indonesia dengan jaringan-jaringan brand serta bisnis musik di luar negeri. Semoga para diplomat kini memiliki gambaran lebih kelas tentang potensi industri musik di ranah global. 

Saya memiliki pengalaman beberapa kali bersentuhan dengan perwakilan negara sahabat. Satu yang paling intens adalah dengan kedutaan Jepang ketika saya terlibat di banyak kegiatan promosi musik Jepang. Saya bisa diskusi dan bekerjasama dengan lembaga-lembaga seperti Jetro (Japan External Trade Organization); METI (Ministry of Economy, Trade and Industry); RIAJ (Recording Industry Association of Japan); Japan Foundation; VIPO (Visual Industry Promotion Organization); PROMIC (Foundation for Promotion of Music Industry and Culture). Selain lembaga itu, saya juga banyak dikenalkan pada eksekutif senior dari perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia dalam rangka mengembangkan kerjasama yang bertujuan mendukung ekspansi musik. Bayangkan sekian banyak organisasi dan lembaga yang bisa terhubung dalam rangka Jepang mempromosikan musik. Segala sisi mereka cari potensinya.

Hal ini mungkin bisa jadi contoh dengan menghubungkan industri musik Indonesia dengan pengusaha Indonesia di luar negeri, lembaga pendidikan, lembaga budaya baik dari swasta maupun pemerintahan. Setidaknya para diplomat diharapkan bisa membuka pintu bagi industri musik Indonesia. Percayalah orang Indonesia punya kemauan dan kemampuan untuk bekerja keras menembus pasar regional bahkan global.

Tuesday, September 22, 2015

Diplomasi Musik


Hari ini saya bersyukur karena mendapat kesempatan yang sangat terhormat untuk hadir pada jamuan makan siang bersama duta besar Perancis, Yang Terhormat Corinne Breuzé di kediamannya yang biasa disebut Résidence de France. Pembahasan pertemuan ini adalah mengenai "Jazz dan Industri Musik" bersama pihak perwakilan Perancis terutama tim atase kebudayaan. Disitu jugalah betapa saya menyadari bahwa Perancis merupakan stake holder besar di industri musik global. Saya dan atasan saya mewakili Universal Music Group yang merupakan milik raksasa media Vivendi dan berbasis di Perancis. Hadir juga perwakilan Daily Motion, sebuah platfor video streaming yang 90% sahamnya dimiliki Vivendi. Dari ranah musik streaming ada perwakilan salah satu streaming service terbesar di dunia, Deezer yang juga perusahaan Perancis. Perwakilan Believe Digital, sebuah perusahaan penyedia layanan musik digital besar yang banyak bermain di segmen indie juga ada diantara tamu undangan. Believe Digital juga perusahaan asal Perancis. Semua kekuatan yang cukup besar kan?

Selain membahas industri musik, jamuan makan siang yang mengundang pelaku industri musik dari berbagai sektor ini juga untuk menyambut dan mengenalkan musisi asal Perancis, Vincent Peirani dan Emile Parisien. Keduanya adalah peraih penghargaan musik tertinggi di Perancis, La Victoire Du Jazz 2015. Mereka menggelar pertunjukan di Institut Français d'Indonésie (IFI) malam ini.

Usaha semacam ini menjadi menarik, karena berhubung saya berkutat di bidang musik internasional, sudah beberapa kali mendapat undangan serupa dari pihak kedutaan lain. Pertanyaan besar yang muncul di benak saya adalah apakah kedutaan Indonesia juga melakukan hal serupa di luar negeri? Apakah musisi jazz asal Indonesia yang sering malang melintang di festival internasional mendapat kesempatan semacam ini? Berdiskusi dengan pelaku industri musik di negara lain dengan difasilitasi KBRI. Saya rasa jika berkaitan dengan elemen musik tradisional, hal ini bukan sesuatu yang baru. Namun diplomasi untuk menembus pasar musik di luar negeri harus diperhatikan. Banyak hal yang saya pelajari dari berinteraksi dengan pelaku industri musik di luar negeri. Dari hal sesederhana etos serta sistem kerja hingga model bisnis, penanaman modal dan peran pemerintah. Betapa bagusnya jika duta musik tanah air yang keluar negeri bisa menimba ilmu dari diskusi semacam itu. Bayangkan artis seperti Burgerkill yang dielu-elukan penggemar musik cadas di Eropa bisa menulari berbagai jagoan genre lain. Indonesia tak kalah dari segi kreatifitas dan kualitas karya. Sungguh mereka punya tempat di pasar global.

Saya memang tak punya dasar ilmu hubungan internasional dan tak paham betul mengenai istilah-istilah diplomasi. Saya hanya pelaku industri musik yang sepenuhnya yakin bahwa musik kita tak kalah dengan negara lain. Bantuan fasilitasi diskusi industri musik bisa jadi pintu pertama kita. Karena itulah lewat tulisan ini saya ketuk para juru kunci di KBRI untuk bukakan pintu. Betapa bangganya kan jika suatu hari poster White Shoes & The Couples Company, Bara Suara, Shaggy Dog  terpasang di dinding-dinding kamar di berbagai benua.

Selain Amerika Serikat dan Inggris, Korea Selatan juga sukses besar dalam mengekspor musik, begitu juga Perancis, Australia, Jepang, Jamaika dan Swedia. Apakah negara tersebut memberikan tempat bagi musik dalam kegiatan diplomasinya? Bisa jadi. 






Jika ada staf Kemenlu yang membaca tulisan ini, anggaplah ini sebagai usul.

Wednesday, September 9, 2015

Lowongan Magang di Universal Music Indonesia


Untuk yang masih kuliah (dalam masa skripsi) jurusan Hukum atau Akuntansi dan pengen ngerasain atmosfer kerja di industri musik, Universal Music Indonesia sedang membuka kesempatan magang. 

Bagi mahasiswa Hukum, kesempatan ini bagus sekali untuk mengetahui lebih jauh tentang berbagai kontrak musik. Sedangkan untuk mahasiswa Akuntansi, kesempatan ini bisa jadi dasar yang bagus untuk mengerti tentang dinamika penanganan keuangan secara langsung, terlebih lagi kondisi industri musik begitu dinamis di semua bidangnya. Jadi siapa bilang anak hukum dan akuntansi tidak punya tempat di industri musik?

Silakan diteruskan ke yang membutuhkan, siapa tau cocok.

Friday, August 14, 2015

Pramuka dan Tokoh Musiknya


Tau H. Mutahar? Beliau adalah tokoh kepanduan di Indonesia dan juga salah satu penggagas Paskibraka. Tak cuma sebagai tentara, karirnya merentang juga di pemerintahan, mulai jadi duta besar di Vatikan hingga mengakhiri masa karyanya di Departemen Luar Negeri. Semasa jadi tentara ia ada di ring 1 bapak pemimpin bangsa, Soekarno, sebagai ajudan. Kabarnya ialah tokoh yang sempat sukses menyelamatkan bendera pusaka dengan segala cara ketika Soekarno-Hatta ditangkap pasca proklamasi kemerdekaan RI.

Sebagai pecinta musik, saya menemukan kisah beliau ketika mencari bahan tulisan mengenai kaitan musik dan Pramuka, berhubung hari ini adalah Hari Pramuka. Ternyata beliau juga seorang pencipta lagu. Salah satunya adalah "Hymne Satya Dharma Pramuka". Lagu yang menjadi kebanggaan gerakan kepanduan Indonesia ini adalah buah kreasinya. Satu lagu ciptaannya yang juga sangat dikenal luas adalah "Syukur". Gerakan Pramuka dirasa perlu memiliki sebuah lagu wajib yang menyatukan organisasi kepanduan ini. Kehadiran unsur musik sebagai elemen di sebuah gerakan menjadikannya semakin manusiawi dan menyentuh rasa. Meski Pak Husein Mutahar sudah tiada 11 tahun lalu namun karyanya tetap berjaya terutama bagi Pramuka. Saya bangga dengan anak muda yang konsisten dan berdedikasi memberi kontribusi dalam bermasyarakat lewat kegiatan Pramuka. 

Buat saya yang bergerak di bidang musik, menemukan fakta dan sejarah semacam ini jadi begitu menarik. Karena musik makin terasa keberadaannya di berbagai sendi kehidupan. Untuk para musisi dan kawan-kawan di industri musik jangan sampai lupa dengan berbagai sejarah permusikan tanah air kita di berbagai lini.

Saya pun menutup tanggal 14 Agustus tahun ini dengan mengucapkan, Selamat Hari Pramuka!

Photo credit: www.pramukaindonesia.com

Tuesday, June 23, 2015

22 Juni 2015, Selamat Hari Jadi Jakarta

Kalau mau tau Jakarta, naiklah angkutan umumnya.
Ada keragaman di dalamnya.
Ribuan rencana, mimpi dan harapan.
Janda tangguh penjual jilbab yang naik turun kereta di stasiun Tanah Abang, pengamen yang sakit ISPA di bus kota, satpam dengan wajah lelah sepulang shift malam, anak yang tertawa karena dihibur oleh ayahnya meskipun sang ayah pusing tujuh keliling mikirin bayar kontrakan rumah petaknya di Jatinegara, perancang grafis nan modis berambut klimis, penjaga toko ITC Cempaka Mas yang hapal betul kata-kata "boleh kakak", tentara tegap yang siaga meski tak bertugas, bu guru yang nyaris pensiun, banyak banyak dan banyak sekali manusia.

Aku cinta Jakarta karena membuatku tetap memapak bumi dikala bekerja untuk kenyamanan anak istriku. Semoga Allah memberiku kesempatan untuk terus berpijak sembari berbagi mimpi bersama jutaan penyesak kota.

Selamat Hari Jadi Jakarta!

Monday, June 1, 2015

Billy Simpson #1 di Ajang Internasional ISINA


Gue bangga beneran sama Billy Simpson. Ga banyak berkoar tapi bisa membuktikan dengan prestasi global yang nyata.

Ini bukti lagi kalo musisi Indonesia beneran bisa bertaji di luar negeri dan bukan sekedar "publicity stunt" atau settingan belaka tapi memang dia mendapat penilaian terbaik dari para mentor. Siapa aja mentornya? Yang secara langsung menilai vokalis ada Babyface. Di bidang komposer/produser ada Walter Afanasieff yang legendaris bangetttt. Kenny G di departemen instrumentalis, Frank Gambale departemen gitaris, Humberto Gatica departemen Audio Engineering/Production, Paul Oakenfold departemen DJ, Produser dan vokalis EDM.

Good luck buat Billy semoga lancar dan maju terus di ISINA! Semoga trip dan mentoring di LA bisa bawa banyak ilmu dan inspirasi untuk musik Indonesia.

https://isina.com

Stay updated about Billy Simpson on https://m.facebook.com/universalmusicindonesia

Friday, May 29, 2015

Lowongan Kerja di Universal Music Indonesia


Universal Music Indonesia membuka lowongan kerja untuk posisi "Sales Staff (Contract)". Ini dia pintu masuk untuk bekerja di bidang musik!


#kerjamusik bukan berarti harus jadi musisi.

Saturday, April 11, 2015

Lowongan di Jaben Store


Satu lagi lowongan yang ada hubungannya dengan industri musik. Kali ini lowongan pekerjaannya dari ranah retail store perangkat audio. Toko Jaben cukup populer di kalangan penyuka audio sebagai tempat belanja perangkat audio terutama yang berhubungan dengan headphone atau earphone. Nggak sedikit penyanyi dan musisi profesional yang saya tau pernah jadi pelanggan di Jaben misalnya Astrid.

Pekerjaan ini cukup seru buat kamu yang gemar dunia audio dan suka bergaul. Berhubungan baik dengan pelanggan, mampu jadi teman diskusi mengenai audio hingga memberi solusi kebutuhan audio bagi pelanggan tampaknya akan sangat dibutuhkan dalam pekerjaan ini.

Friday, April 10, 2015

Lowongan di Marygops Studios

Kesempatan terbuka lagi untuk kalian yang ingin kerja di industri musik. Kali ini saya mendapat informasi lowongan pekerjaan dari kawan-kawan di Marygops Studios yang merupakan salah satu promotor konser paling aktif di Indonesia. Beberapa konser yang pernah mereka garap misalnya dari artis besar dunia seperti Justin Bieber, Westlife, L'Arc-en-Ciel, Bruno Mars, Avril Lavigne dan banyak lagi. Selain konser tunggal, mereka juga pernah menggarap festival musik seperti Anime Festival Asia Indonesia.

Posisi yang ditawarkan adalah bagian akuntansi dan keuangan. Ini nih saatnya kamu yang berlatar belakang accounting dan finance bisa masuk industri musik. Tertarik?

http://www.marygops.com

Tuesday, March 31, 2015

Tidal, Revolusi Artis Dunia di Ranah Streaming

G.I.L.A

Seperti biasa tiap pagi saya browsing berita industri musik global, tapi hari ini saya tercengang dengan berita tentang Tidal yang saya baca di Billboard. Langsung saya buka website Tidal dan muncullah video dari acara peluncuran layanan streaming musik format lossless (High Resolution) ini. 

Everyone in streaming business better watch out! Gila asli ini konsepnya. Alicia Keys yang jadi juru bicaranya menjelaskan konsepnya, "The first ever artist owned global music entertainment platform, our goal is simple, we want to create a better service, better experience for both fans and artist, and that's our promise to the world. Our mission goal is beyond commerce, it goes beyond technology, our intent is to preserve music's important in our life"

Well said.. Ini beneran bisa hype kayanya. Artis yang hadir dan ikut tanda tangan sebagai owner di panggung ada Daft Punk, Kanye West, Nicki Minaj, Chris Martin, Madonna, Deadmau5, Rihanna, Beyonce, Usher, Jason Aldean, Arcade Fire, dll.

Namun tentu ada pro-kontra. Banyak fans yang merasa harga yang ditawarkan terlalu mahal. Hal ini bisa memunculkan gambaran tentang artis yang dianggap terus mengeruk uang dari fans. Sebenarnya saya melihat ada contoh sejenis yang mengandalkan "star power". Headphone Beats di kalangan pecinta audio diolok-olok sebagai produk over-priced yang tak sebanding antara harga dan kualitas. Tapi kenyataannya Beats mampu merebut pasar dari merk-merk audio lain yang justru sudah memulai jauh lebih lama seperti Koss, Sennheiser, Bose, Audio Technica, AKG dan banyak lagi. Pada akhirnya strategi marketing Beats yang mengandalkan kekuatan para bintang dari dunia musik hingga olahraga. Coba saja cek bagaimana sepak terjang pemasaran mereka yang sekarang banyak meniru Beats. Bose masuk ke NFL, AKG menggandeng Tiesto, Sennheiser di pasar lokal bahkan sempat menggaet Raisa. 

Pertanyaan besarnya, apakah kali ini "Star Power" mampu merevolusi layanan musik streaming dari bersifat fans oriented menjadi artist oriented.

Gila ini sih..

www.tidal.com

Monday, March 9, 2015

Interview Majalah "Mutiara Biru" (Blue Bird Group)


Hari ini bertepatan dengan Hari Musik Nasional tanggal 9 Maret, saya menerima satu eksemplar majalah Mutiara Biru yang merupakan majalah resmi perusahaan taksi terbesar di Indonesia, Blue Bird Group. Saya diwawancarai oleh jurnalisnya, mbak Johana beberapa minggu lalu.

Mengutip sedikit jawaban saya dalam wawancara tersebut rasanya pas untuk saya tekankan untuk Hari Musik Nasional.

"Jadi, tutupnya toko musik hanya puncak gunung es permasalahan. Semua pihak harus bahu-membahu melindungi industri kreatif. Indonesia adalah bangsa yang kreatif, sayang sekali kalau secara ekonomi tidak dapat terapresiasi".

Untuk lengkapnya bisa disimak lebih lanjut di majalah Mutiara Biru dalam armada taksi Blue Bird Group atau secara digital gratis di aplikasi Scoop dengan tautan berikut:
http://www.getscoop.com/magazines/mutiara-biru

Selamat Hari Musik Nasional!

Pekerjaan Baru (Di Tempat Lama)


Awal tahun 2015 ini saya mengambil keputusan untuk hijrah kembali ke tempat saya mengawali karir di dunia label rekaman. Per bulan Maret 2015 akhirnya saya kembali bergabung ke Universal Music Indonesia setelah 4 tahun berkarya di Sony Music Entertainment Indonesia. Ya, sebelum saya bergabung dengan Sony Music memang saya pernah bekerja di Universal Music Indonesia selama dua tahun sebagai staf promosi yang fokus pada media online termasuk media sosial. Posisi yang saya pegang sekarang adalah Senior Marketing Supervisor untuk produk-produk internasional khususnya dari negara-negara Eropa, Asia dan Australia. Sedikit lebih lebar dari posisi di perusahaan sebelumnya. Tentu akan lebih banyak tantangannya yang berarti juga akan dilimpahi ilmu serta pengalaman yang lebih mendalam.
Masa-masa bekerja di Sony Music
Saya ucapkan mohon maaf jika ada kesalahan selama di Sony Music terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua dukungan serta bantuan rekan kerja selama di Sony Music terutama dari departemen Marketing. Terima kasih yang lebih spesial untuk atasan saya, mas Fajar Indroharyo yang bisa disebut sebagai salah satu dari tak banyak dedengkot pemasar musik internasional di Indonesia dengan belasan tahun pengalaman. Hormat dan terima kasih luar biasa juga untuk Ken Isayama, VP International Marketing Sony Music Japan dan timnya yang dengan sangat bersahaja mempercayakan proyek musik Jepang serta memberi dukungan sangat besar untuk mengembangkan musik Jepang di Indonesia dan sebaliknya.

Hari ini sudah genap 1 minggu saya bergabung di Universal Music Indonesia. Rasanya tak canggung di tempat ini dengan kawan-kawan satu tim yang sudah saya kenal lama. Semoga saya bisa membawa kebaikan bagi semua anggota tim. Akhirnya saya akhiri tulisan ini dengan mengutip status di Blackberry Messenger atasan saya, om Peter Hendarmin, "..after all, MUSIC is UNIVERSAL"

Well said, boss..


Thursday, February 12, 2015

Lowongan di Sony Music

Mau kerja di perusahaan rekaman International? Tertarik kerja di lingkungan industri musik yang kreatif dan dinamis.

Ini ada lowongan di Sony Music Entertainment Indonesia. Diambil dari postingan rekan saya Nabil, Senior Manager - Local Repertoire, Sony Music Entertainment Indonesia.

Ini bisa jadi awalan karir yang bagus buat belajar tentang industri musik.

Selamat mencoba dan good luck! 

Monday, February 9, 2015

Sejarah Panjang Beck dan Grammy

(Credit: https://www.facebook.com/Beck)

Pagi ini banyak penikmat musik dan pelaku industri musik memantau ajang Grammy Awards ke-57. Salah satu hal yang paling mengejutkan dan jadi perbincangan adalah pada kategori bergengsi, Album of The Year yang dinobatkan pada album “Morning Phase” dari Beck.

Nama Beck memang tidak menghiasi berita dan media sosial sepanjang tahun 2014. Ia merilis album “Morning Phase” bulan Februari tahun 2014 dan menduduki posisi #3 di Billboard 200 saat debutnya. Publikasi atas album ini memang kalah jauh dibanding album lain yang jadi nominasi Grammy kategori Album of The Year. Album “Beyoncé” dari Beyoncé jadi buah bibir di akhir tahun 2013 lewat rilisan mengagetkan dan tanpa proses promosi pra-rilis. “X” dari Ed Sheeran juga masuk jajaran album terlaris 2014, Sam Smith dengan “In The Lonely Hour” mungkin memiliki lagu-lagu balada terkuat tahun ini, “G I R L” dari Pharrell Williams memuat lagu “Happy” yang bukan cuma jadi hits tapi mampu membangun sebuah gerakan global. Sementara Beck Hansen tak mendapat popularitas serupa.

(Credit: https://www.facebook.com/Beck)
Saya tertarik untuk membahas kemenangan Beck bukan dari sisi apa yang ditawarkan albumnya, karena itu hanya akan menjadi sebuah album review. Namun perbincangan di media sosial adalah mengenai anak muda dan remaja yang mungkin tak tahu siapa Beck. Publikasi yang kurang juga seakan menghalanginya untuk jadi pemenang Album of The Year. Sebenarnya kalau melihat sejarah Beck di ajang Grammy, tak mengejutkan jika ia meraihnya tahun ini.

Beck mendapat nominasi Grammy pertamanya tahun 1995 untuk kategori Best Male Rock Vocal Performance lewat lagu “Loser”. Bayangkan, itu terjadi 20 tahun lalu! Saat itu ia bersaing dengan Peter Gabriel, Van Morrison, Bruce Springsteen dan Neil Young. Ia dikalahkan Bruce Springsteen denga “Street of Philadelphia” yang membahana di seluruh dunia lewat film “Philadelphia”.


Dua tahun kemudian, di tahun 1997 Beck kembali lagi masuk jajaran nominator. Tidak tanggung-tanggung kategorinya Album of The Year untuk albumnya yang berjudul “Odelay”. Dua nominasi lainnya adalah Best Male Rock Vocal Performance lewat lagu "Where It's At" dan Best Alternative Music Performance lewat album “Odelay” yang keduanya berhasil ia menangkan.

Tahun 2000 Beck kembali meraih kemenangan Grammy lewat album “Mutations”. Kategori yang ia menangkan adalah Best Alternative Music Performance. Album ini bersaing album-album dari Fatboy Slim, Tori Amos, Moby dan Nine Inch Nails. Setahun kemudian, tahun 2001 Beck kembali meraih nominasi Album of The Year lewat album “Midnite Vultures”. Bersaing dengan “Kid A” Radiohead, “Marshall Mathers LP” Eminem, “You're The One” Paul Simon, “Two Against Nature” Steely dan, Beck masih harus mengakui keunggulan Steely Dan saat itu. Di kategori Best Alternative Music Album, ia dikalahkan oleh Radiohead yang di tahun tersebut punya album “Kid A” yang sangat kuat.

Tahun 2003 ia mendapat nominasi lagi untuk kategori Best Alternative Music Album. Kali ini untuk album “Sea Change”. Sayangnya ia tidak memenangkannya. Lanjut ke tahun 2006, Beck kembali mendapat nominasi di kategori yang sama lewat albumnya yang bertitel “Guero”. Tahun 2007 lewat lagu “nausea” Beck dinominasikan pada ajang Grammy untuk kategori Best Solo Rock Vocal Performance. Nominasi untuk kategori yang sama didapatkannya lagi di tahun 2008 lewat lagu “Timebomb”. Album “Modern Guilt” membawa Beck ke ajang Grammy tahun 2009 dengan nominasi Best Alternative Music Album. Danger Mouse yang menjadi produser album ini juga mendapat nominasi untuk kategori Producer Of The Year, Non-Classical.

6 tahun kemudian, tahun 2015, Beck muncul sebagai musisi yang cukup senior dibanding pesaingnya. Ia pun menjadi penampil bersama Chris Martin menyanyikan lagu dari album “Morning Phase” berjudul “Heart Is A Drum”. Total nominasi yang ia (termasuk karya dan timnya) raih juga tak sedikit, 5 kategori. Dua nominasi yang tak dimenangkannya adalah Best Rock Performance yang dimenangkan “Lazaretto”-nya Jack White dan Best Rock Song yang dimenangkan “Ain't It Fun” dari Paramore. Mari kita bahas tiga kategori yang dimenangkannya tahun ini.

Grammy pertama, adalah untuk kategori Best Engineered Album, Non-Classical yang dimenangkan “Morning Phase” memang bukan ditujukan untuk Beck pribadi namun lebih ke tim sound engineer yang mengerjakan album. Tercatat nama Tom Elmhirst, David Greenbaum, Florian Lagatta, Cole Marsden, Greif Neill, Robbie Nelson, Darrell Thorp, Cassidy Turbin & Joe Visciano sebagai engineers dan Bob Ludwig sebagai mastering engineer.

Kategori kedua yang dimenangkannya adalah Best Rock Album. Ia tahun ini mengalahkan nama legendaris U2 dengan album “Songs of Innocence” yang menjadi berita besar lewat langkah memberi cuma-cuma ke pengguna iTunes di seluruh dunia. Selain itu nama lain yang dikalahkannya. Selain itu ada album ke-14 dari Ryan Adams yang diberi judul namanya sendiri; album “Hypnotic Eye” dari band lawas Tom Petty and the Heartbreakers yang untuk pertama kalinya album mereka menduduki posisi puncak Billboard 200 saat debut; serta album “Turn Blue” dari The Black Keys yang juga debut di posisi puncak Billboard 200.

Kategori terakhir dan yang paling bergengsi tentunya Album of The Year. Pencapaiannya ini bahkan membuat banyak orang bingung. Kanye West bahkan hampir menginterupsi proses penyerahan piala tersebut. Bayangkan Beck bertarung melawan album-album raksasa yang sukses luar biasa dan mendapat pujian dari kalangan kritikus. Mengutip pada website Grammy Awards, pertimbangan besar dari sebuah penghargaan Grammy adalah sebagai berikut

The GRAMMYs are the only peer-presented award to honor artistic achievement, technical proficiency and overall excellence in the recording industry, without regard to album sales or chart position.” (http://www.grammy.org/recording-academy)


Jika melihat penjelasan itu, tentunya ini bukan masalah popularitas semata. Tangga lagu dan catatan penjualan juga tak serta-merta jadi penentunya. Faktor estetika, kualitas, teknis pengerjaan, dan banyak faktor lain bisa menjadi penilaian. Pada akhirnya memang Beck lah juara kategori Album of The Year, dan bukan hal aneh jika melihat bahwa ia sudah punya sejarah panjang ketika kita bicara Grammy dibanding nominator lain. Salut untuk Beck!


Thursday, February 5, 2015

Audio Resolusi Tinggi: Mainan Baru Industri Musik dan Teknologi


Apakah kamu orang yang rewel dengan kualitas audio dari musik yang kamu dengarkan? Kalau iya, sudah saat nya kamu cari tahu lebih banyak tentang Audio Resolusi Tinggi / Hi-Res Audio. Perihal mengenai signifikan-tidaknya sebuah file audio dalam kualitas hi-res sebenarnya masih menjadi perdebatan di kalangan audiophile. Banyak anggapan bahwa penilaian lebih bagus atau tidaknya kualitas audio adalah sugesti saja karena pada akhirnya kemampuan pendengaran manusia ada batasnya. Mengesampingkan perdebatan itu, nyatanya teknologi kualitas audio terus saja dikembangkan dan kini banyak yang berlomba merebut pasar tersebut.

Istilah Hi-Res Audio biasa digunakan untuk file rekaman suara diatas spesifikasi sampling standar CD audio yang selama ini digunakan yaitu 16-bit/44.1kHz. Biasanya sampling yang banyak digunakan yaitu 24-bit/96kHz. Beberapa format file yang popular adalah WAV, AIFF, FLAC, ALAC dan beberapa format lain. Peningkatan spesifikasi tentunya berpengaruh ke ukuran file menjadi lebih besar. Namun bagi penikmat musik, terkadang kualitas audio memang perlu dipertimbangkan.


Di luar perusahaan yang memang fokus ke dunia audio, teknologi Hi-Res Audio kini begitu diminati produsen gadget terkemuka seperti Sony dan Microsoft. Layanan penyedia musik juga mulai menarik minat konsumen dan investor. Apakah ini akan menjadi ruang gerak baru dalam perkembangan bisnis musik?

Secara pribadi, saya cukup rewel dengan kualitas audio karena dibiasakan mengenali dan melakukan pengaturan perangkat audio dengan baik sejak kecil oleh bapak saya. Minat saya pun makin besar pada bidang audio apalagi saya bekerja di bidang musik. Mengikuti perkembangan teknologi audio jadi wajib hukumnya bagi para “audiophile” alias penggila audio yang mengejar kualitas terbaik dalam mendengarkan musik. Salah satu yang banyak jadi pembicaraan ada mengenai format sumber musik, misalnya CD, piringan hitam atau file digital yang diputar menggunakan peranti portable sejenis iPod atau multimedia player. Perangkat lainnya seperti Amplifier, speaker, DAC (Digital-Audio Converter), hingga kabel juga jadi pertimbangan. Berbagai elemen inilah yang akhirnya membuka peluang-peluang baru seiring datangnya era Hi-Res Audio.

Sony Walkman NW-ZX2
Sony tahun ini merilis perangkat Walkman seri NW-ZX2 seharga 1200 Dollar AS. Sebelumnya Sony sudah mengembangkan perangkat untuk Hi-Res Audio lewat berbagai produk seperti amplifier portable, DAC, Amplifier, Speaker, Headphone, Earphone terbarunya. Namun kehadiran NW-ZX2 yang menjadi sorotan karena bandrol harga yang fantastis tersebut cukup berani di tengah pasar pemutar musik yang rentang harganya begitu lebar. Untuk membeli pemutar musik berspesifikasi rendah dengan merk yang juga tak jelas, kita cukup merogoh kocek sekitar Rp.100.000. Bayangkan sebuah pemutar musik seharga lebih dari Rp. 12 juta! Sony melihat cukup luas lewat pengembangan Hi-Res Audio ini.

Merujuk website Sony (Asia), mereka mengarahkan pengguna perangkat Hi-Res Audio untuk membeli musik ke beberapa layanan yaitu 2L (https://shop.klicktrack.com/2l), Naim Label (http://www.naimlabel.com/), Linn Records (http://www.linnrecords.com/), HifiTrack (http://www.hifitrack.com/en) dan beberapa nama lain. Kemitraan dengan penyedia layanan musik berkualitas Hi-Res Audio harus dilakukan. Bayangkan jika pembeli perangkat mahal ini akhirnya sulit mendapatkan konten untuk dimainkan, mubazir kan?

Nokia N1
Bergeser ke nama besar lain, Microsoft juga tampaknya melirik kepopuleran Hi-Res Audio. Gabriel Aul dari Windows Insider mengunggah sebuah screen-capture dari sistem operasi Windows 10 yang menunjukkan kompatibilitas dengan format musik FLAC. Berita ini menjadi perbincangan para audiophile karena memutar file FLAC akan menjadi semakin mudah. Nokia (yang juga sudah diakusisi oleh Microsoft) tampaknya juga memperhatikan kebutuhan audio yang baik. Tablet Nokia N1 menggunakan Wolfson WM895 sebagai chip DAC. Chip ini punya reputasi tinggi di kalangan audiophile karena mampu menghasilkan kualitas audio yang lebih baik.


Kini mari melihat perkembangan di sisi layanan penyedia musiknya. Nama yang sudah lebih popular di dunia Hi-Res Audio adalah HDTracks. Di tengah keriuhan penetrasi pasar ini, HDTracks belum terlihat melakukan manuver signifikan. Pengembangan bisnis terkini dari perusahaan asal New York ini salah satunya dengan melebarkan sayap lewat dibukanya kantor HDTracks di Inggris dan Jerman bulan September 2014 lalu.

PonoPlayer
Selebriti juga mulai melirik ranah bisnis Hi-Res Audio. Neil Young terjun ke dunia Hi-Res Audio lewat perusahaannya, PonoMusic. Perusahaan ini menjalankan bisnis layanan unduhan musik dalam format Hi-Res Audio dan juga memproduksi pemutar musik portable. Jay Z baru saja membeli Aspiro, perusahaan Swedia pemilik layanan WiMP dan Tidal. Tidal adalah layanan streaming musik dalam format Hi-Res. Saat ini layanan streaming musik sedang menjadi primadona baru lewat kesuksesan Spotify memperoleh pasar yang signifikan. Tidal bisa jadi jawaban untuk mereka yang nyaman dengan layanan streaming musik namun menginginkan kualitas audio yang maksimal.

Segala perkembangan dalam dunia Hi-Res Audio tentu menghadapi hambatan juga. Ukuran file yang lebih besar membutuhkan koneksi dan kuota internet yang lebih baik. Tantangan tentu jadi lebih besar untuk layanan streaming karena koneksi harus benar-benar kencang dan stabil. Menikmati Hi-Res Audio membutuhkan keseluruhan sistem perangkat yang mumpuni untuk benar-benar memaksimalkan kualitas suara. Mulai dari headphone/earphone, speakers, amplifier, DAP (Digital Audio Player), DAC (Digital-Analog Converter), hingga kabel-kabelnya bisa mempengaruhi. Perangkat yang masuk kategori High Fidelity (Hi-Fi) tentunya tidak murah. Tanpa perangkat yang mendukung, file Hi-Res akan terdengar sama saja dibanding file Mp3 biasa. Hal terakhir yang menjadi tantangan adalah meyakinkan pasar bahwa Hi-Res Audio itu perlu dan layak dikonsumsi. Kenapa jadi tantangan? Karena tak semua orang mampu membedakan kualitas audio.

Salah satu kunci dari akan sukses tidaknya format Hi-Res Audio menjadi primadona baru bisnis musik akan bergantung pada keberhasilan memasarkan ide bahwa Hi-Res Audio adalah sesuatu yang keren dan trendi di masa depan. Didukung infrastruktur layanan data internet yang kencang dan stabil, trend tersebut bukan tak mungkin terwujud. Terlihat dari minat berbagai sisi industri yang mulai melirik, tampaknya format High Resolution Audio sedang menjalani masa percobaan untuk menjadi mainan baru industri musik. Dari mainan akhirnya menjadi senjata utama, bisa jadi.



Saturday, January 3, 2015

#RIPDennySakrie


Pembicaraan semacam ini yang biasanya mengawali pertemuan saya dengan om Denny Sakrie. Berlanjut ke diskusi seru tentang banyak hal seputar musik. Om Denny ini meskipun jauh senior tapi selalu terbuka untuk diskusi dengan anak-anak muda. Tak pernah ada tendensi untuk menggiring opini atau memaksakan pandangannya meskipun kadang berbeda. Makanya saya selalu sempatkan waktu panjang kalau om Denny mau mampir ke kantor. Nggak banyak orang dengan pengetahuan sebanyak beliau yang bisa tetap bersahaja, tidak sombong dan tidak sok tau. Saya selalu suka belajar dan diskusi tentang industri musik dari orang seperti om Denny, beliau saya anggap sebagai guru.
Barusan dapat kabar om Denny meninggal dunia. Semoga diberikan tempat terbaik oleh Tuhan. Akhirnya om Denny bisa kembali menikmati penampilan om Chrisye, Jim Morrison hingga Janis Joplin.

Break on through to the other side!

#RIPDennySakrie